
Dira dan Bunda Sinta melanjutkan untuk membuat kue, Arkan masih tetap menunggu sedang Elang masuk ke dalam kamarnya.
"Dira, Mamah kamu minta Tante datang ke butik! Tante tinggal dulu, ya," ucap Bunda Sinta. Kuenya terlanjur masuk oven, nanti kamu angkat," Lanjutnya.
"Iya, Tante. Nanti Dira angkat kalau sudah matang," kata Dira.
"Bunda, Arkan antar," sahut Arkan.
"Biar Elang saja, Dira nanti gak ada temannya," kata Bunda Sinta.
Bunda Sinta lalu mengajak Elang untuk segera berangkat, karena Mamah Meri sudah menunggu.
Dira di bantu oleh Arkan mengangkat kue-kue yang sudah matang.
"Kak, biar Dira aja! nanti Kakak kotor," ucap Dira.
"Ada kamu nanti yang nyuci baju ku," kata Arkan.
"Ogah! mending bantu bikin kue Tante Sinta," ucap Dira.
"Katanya minta nikah cepat! biar kamu belajar jadi istri yang baik," kata Arkan.
__ADS_1
"Tadi Dira salah ngomong Kak, nanti bilang Tante Sinta kalau Kakak belum siap cari nafkah," ucap Dira, sembari menutup mulutnya.
"Enak aja! aku mau bilang Papah kamu biar dipercepat," kata Arkan.
"Kak, bau gosong!" teriak Dira, lalu berlari untuk mematikan oven. Kue yang di panggang terakhir gosong, karena Dira lupa kalau masih ada yang belum di angkat.
"Untung saja belum kebakar, sini aku bantu angkat!" pinta Arkan.
Arkan membantu Dira mengeluarkan kue yang gosong dari dalam oven, untung saja gosong nya tidak terlalu parah. Mereka kemudian membungkus kue yang sudah dingin dan membersihkan dapur seperti semula. Setelah selesai Dira hendak pulang tetapi Arkan melarang, karena Bunda Sinta belum pulang.
"Dira, besok kamu berangkat magang lagi ya," bujuk Arkan.
"Asal diizinkan nonjok muka Sisil, Dira mau berangkat," ucap Dira.
Arkan dapat telepon dari Laura, tetapi tidak dia angkat.
"Kak, ada telepon. Angkat dulu, siapa tau penting," ucap Dira.
"Biar aja, paling cuma di suruh balik ke kantor," kata Arkan.
Arkan membujuk Dira lagi agar besok mau berangkat magang, tetapi Dira tetap tidak mau kalau di tempat Sisil. Dira juga merasa kasihan dengan Luna dan Nisa, mereka kuliah saja butuh perjuangan. Terutama Luna yang masuk kuliah mengandalkan bea siswa, tidak seperti dirinya yang tinggal minta.
__ADS_1
"Kak, pindah magang boleh tidak?" tanya Dira.
"Bisa sepertinya, besok kita urus. Emang mau pindah di mana?" tanya Arkan.
"Di kantor Kak Dhimas, soalnya kalau di kantor Kakak ada Laura," ucap Dira.
"Kalau gitu gak boleh! mending nikah aja, gak usah jadi kuliah," kata Arkan.
"Kak Dhimas baik orangnya, pasti mau bantu aku," ucap Dira.
Arkan tetap melarang Dira magang di tempat Dhimas, karena mereka sangat dekat. Benar yang di bilang Dira kalau Dhimas memang baik, tapi bukan sama Dira aja.
Luna dan Nisa merasa sangat kesepian karena tidak ada Dira, mereka sangat menyayangkan sikap Sisil yang seenak menyuruh orang.
"Luna, ayo kita pulang! ini sudah sore," ucap Nisa.
"Tapi, belum ada yang menyuruh," kata Luna.
"Jam kerja sudah habis, kita sudah diperbolehkan pulang," kata Nisa lagi.
Mereka kemudian berkemas hendak pulang, tetapi Sisil datang dan menyuruh mereka untuk merapikan buku di rak.
__ADS_1
Awalnya mereka menolak tetapi Sisil mengancam dan memaksa mereka. Mau tidak mau mereka tetap melakukan perintah Sisil.