Sahabat

Sahabat
Bab 82


__ADS_3

"Kak, aku turun di sini saja," ucap Dira, meminta Arkan untuk menurunkan di depan kampus.


Arkan diam saja, dia tidak menghiraukan ucapan Dira dan tetap melajukan kendaraannya ditempat parkir seperti biasanya.


Di kampus semua mahasiswa berkumpul di aula, hari ini adalah pembagian tempat untuk magang. Perusahaan yang di gunakan untuk magang, sudah di tunjuk oleh pihak kampus. Jadi semua mahasiswa tidak bisa memilih sendiri.


Dira, Luna dan Nisa akan magang di perusahaan milik keluarga Sisil. Mengetahui hal itu Arkan sangat khawatir dengan Dira, ia harus sportif tidak bisa memindahkan Dira di tempat lain.


"Dira, ini perusahaan milik Sisil. Gak salah, ya?" ucap Luna.


"Iya Luna, kita harus magang di situ," jawab Dira, nampak tidak bersemangat.


"Ini semua pasti Pak Arkan yang memilihkan," sahut Nisa.


"Bukan, kalau bisa dia mau pindahkan kita ke perusahaan lain," kata Dira.


"Kita jalani ajalah, lagian cuma sebulan," ucap Luna.


Benar juga apa kata Luna, dia yang paling bijak pola pikirnya sangat dewasa dalam menyikapi masalah. Mereka bertiga lalu berkumpul di taman kampus, membicarakan apa yang perlu disiapkan untuk besok.


Sisil dan gengnya melihat Dira dan temannya, ia ingin membuat perhitungan pada Nisa karena telah mendorongnya kemarin. Teman Sisil melarang, karena masih di lingkungan kampus dan dekat dengan ruang dosen.


"Nisa, tukang makan! urusan kita belum selesai," ucap Sisil.


"Urusan apa?" tanya Nisa, dengan polosnya.


"Gak usah pura-pura lupa," kata Sisil.


"Kamu gak capek apa? bikin masalah melulu," sahut Dira.


"Tentu saja tidak! kamu Dira yang selalu bikin masalah, sudah merebut calon tunangan ku lagi," kata Sisil.


"Kak Arkan gak mau sama kamu, Sisil. Harusnya kamu sadar diri, bukan malah menuduh orang lain yang merebut," kata Luna.


Adu mulut pun terjadi, kali ini mereka tidak menggunakan tangan. Luka yang kemarin saja belum sembuh total.


"Hebat kalian semua, pintar bertengkar! mengerjakan tugas saja gak ada yang benar!" kata Arkan, yang tiba-tiba menghampiri mereka.


Kemudian Dira, Luna dan Nisa diberikan tugas lagi oleh Arkan. Sisil dan Keke juga diberikan tugas yang lebih banyak.


"Sial, gara-gara ketemu Sisil," ucap Nisa.


"Namanya aja Sisil, Si... Sial hahaha... kata Luna, lalu tertawa.


"Hus! nanti dengar orangnya nanti ribut lagi," kata Dira.

__ADS_1


"Dira, sekarang kamu bujuk Pak Arkan, biar tugas kita gak banyak," ucap Nisa menyuruh Dira minta keringanan tugas.


Dira masuk ke dalam ruangan Arkan, lalu duduk di kursi. Arkan yang mengetahui kedatangan Dira, pura-pura sibuk dengan laptopnya.


"Kak," panggil Dira dengan lembut.


"Hem," sahut Arkan tanpa menoleh ke arah Dira.


"Kak," panggil Dira lagi karena Arkan tidak menoleh nya.


"Apa Dira? kamu gak tau kalau aku lagi sibuk?" tanya Arkan.


"Kakak, gak adil! kita tadi cuma duduk di taman, tiba-tiba Sisil datang dan ngajak ribut. Kenapa kita juga ikut di suruh mengerjakan tugas," jelas Dira.


Arkan masih tak menghiraukan penjelasan Dira, malah semakin fokus dengan laptopnya. Membuat Dira kesal lalu meninggalkan ruangan Arkan.


"Dira, kamu makin mengemaskan aja," ucap Arkan dalam hati sembari tersenyum.


Dira kembali ke tempat di mana Luna dan Nisa sedang mengerjakan tugas dari Arkan.


"Dira, bagaimana berhasil tidak bujuk calon suami kamu?" tanya Nisa.


"Berhasil apanya! aku aja di cuekin lebih penting laptopnya," jawab Dira.


Mereka kemudian mengerjakan tugas sampai sore hari, tetapi tugas itu tetap tidak selesai.


"Pulang yuk! udah sore ini, nanti gak ada angkot," ajak Nisa.


"Belum selesai, Nisa," ucap Dira.


"Kamu enak pulang sore ada yang jemput, Dira," kata Nisa.


"Aku pulang bareng kalian," kata Dira.


Luna masih fokus dengan tugasnya, dia hampir selesai mengerjakan tetapi Dira dan Nisa belum sama sekali. Dira dan Nisa dari tadi kebanyakan ngobrol yang tidak jelas, wajar saja jika belum selesai.


Malam hari Arkan datang ke rumah Dira, tetapi Dira tidak mau menemui calon suaminya itu karena masih kesal.


"Dira, ada Arkan di depan! sana temui dulu!" kata Mamah Meri.


"Bilang saja Dira lagi ngerjain tugas, Mah," ucap Dira.


"Mamah gak mau bohong, biar Arkan ke sini saja," kata Mamah Meri, lalu menemui Arkan.


Ternyata Arkan datang karena di suruh oleh Vio, untuk mengajari mengerjakan PR. Tadi waktu di jalan Vio bertemu dengan Arkan, lalu meminta Arkan datang ke rumah.

__ADS_1


"Bentar Kak, Vio ambil buku dulu!" kata Vio, saat mengetahui kalau Arkan sudah datang.


Mamah Meri baru saja keluar dari kamar Dira, lalu memberitahukan pada Arkan. "Arkan, Dira ada di kamarnya, kamu masuk saja!" ucapnya.


"Iya Tante, biar Dira istirahat," kata Arkan.


"Bukannya kamu kesini mau bertemu Dira?" tanya Mamah Meri.


"Kak Arkan datang kesini mau ajarin Vio belajar, bukan nyari Kakak," sahut Vio.


"Oh... kirain mau ketemu Dira," ucap Mamah Meri, kemudian pergi ke dapur untuk membuat minuman.


Dira yang berada di kamarnya penasaran dengan kedatangan Arkan, ia hendak menemui Arkan tetapi malu.


Arkan sedang membantu Vio mengerjakan PR yang belum Vio mengerti, tadi dia berencana minta tolong Elang tetapi yang bertemu dengannya lebih dulu Arkan.


"Kak, tinggal satu soal lagi," ucap Vio.


"Sudah paham belum cara mengerjakan?" tanya Arkan.


"Lupa lagi," jawab Vio.


Arkan kemudian mengulang lagi cara mengerjakan dengan soal yang sama, setelah Vio bisa baru dia menjelaskan yang lain.


"Sekarang Vio sudah bisa, Kak," ucap Vio.


"Bagus Vio, kamu cepat bisa kalau di ajarin," kata Arkan.


"Arkan, nilai Dira di kampus bagaimana?" tanya Mamah Meri, yang datang membawa minuman dan kue buatannya.


"Belum ujian lagi, Tante. Dira juga harus banyak belajar makanya Arkan kasih tugas," jawab Arkan.


Karena Dira tidak mau keluar juga, akhirnya Arkan berpamitan untuk pulang. Sampai di rumah dia mengerjakan pekerjaannya sendiri. Saat akan membuka laptopnya telpon genggamnya berbunyi.


Ternyata Dira yang mengirimkan pesan, menanyakan kenapa saat di tanya di kampus Arkan tidak menjawab pertanyaannya.


"Lucu juga Dira, tadi datang ke rumahnya tidak tanya giliran sudah pulang baru tanya," gerutu Arkan.


Arkan tidak jadi melanjutkan pekerjaannya, malah bertukar pesan dengan Dira. Arkan berpamitan pada Bundanya untuk pergi ke rumah Dira lagi.


"Bukannya tadi kamu dari sana? ini udah malam, jangan lama-lama," ucap Bunda Sinta.


"Ada yang ketinggalan, Bun," bohong Arkan.


Dira sudah berada di teras rumahnya untuk menunggu Arkan datang, Dira sebenarnya hanya ingin meminta keringanan tugas. Arkan tidak akan tergoda dengan ucapan Dira.

__ADS_1


__ADS_2