
Hai semua jumpa lagi π€
Maaf lama updatenya π
Happy Reading π₯°π₯°
Elin bertemu dengan ibu panti saat berada di depan rumah Dira, dia mau meminta maaf kepada Dira. Karena dia juga sadar selama ini Dira sudah banyak membantu ibu panti.
"Elin, kenapa kamu ada disini?" tanya ibu Mia, kaget melihat Elin.
"Ibu, maafkan Elin," ucap Elin, merasa bersalah karena menolak saat disuruh ibu panti.
"Iya, apa benar ini rumah Dira?" tanya ibu Mia, ragu saat melihat rumah yang begitu besar.
"Ini benar alamat yang di kasih teman Dira, ayo kita coba masuk, bu!" ajak Elin, tetapi ibu Mia nampak ketakutan saat akan memasuki halaman rumah Dira, Elin menggandeng tangan ibu Mia.
Mereka memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Dira, kebetulan saat ini Dira sudah berada di rumah.
"Ibu Mia, Elin!" kaget Dira.
"Dira, ada yang ingin ibu bicarakan," ucap ibu Mia, sebenarnya dia takut mengatakan pada Dira.
"Maafkan aku, Dira," ucap Elin, lalu memeluk Dira.
"Ayo masuk dulu! kita bicara di dalam!" ajak Dira, mengajak ibu Mia dan Elin ke ruang tamu.
"Kita butuh bantuan kamu, Dira," ucap Elin, memberanikan diri.
"Bantuan apa, Elin?" tanya Dira, tampak bingung dengan kedatangan mereka.
"Begini Dira, kita di usir oleh pemilik tanah panti," ucap Ibu Mia.
"Kita tidak tau lagi mau tinggal di mana," sahut Elin.
"Kak Arkan kemarin sudah bicara dengan ibu belum?" tanya Dira, karena saat itu Arkan menawarkan mereka untuk tinggal di sebuah rumah bekas yayasan yang tidak terpakai.
"Ibu Mia menolak Dira, ini semua salahku," ucap Elin, merasa bersalah karena terlalu egois.
"Sebentar aku hubungi kak Arkan dulu," ucap Dira, pergi ke kamarnya untuk mengambil telepon genggamnya, dia mencoba menghubungi Arkan.
Arkan saat ini masih berada di kantor, dia belum bisa pulang karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Arkan berpesan pada Dira, agar ibu Mia dan Elin bersabar.
Dira lalu menyampaikan apa yang di katakan oleh Arkan, tak lupa Dira membuatkan minuman untuk ibu Mia dan Elin sambil menunggu kedatangan Arkan.
"Seandainya aku tidak egois, kita tidak akan seperti ini, bu," ucap Elin.
__ADS_1
"Ibu ngerti bagaimana perasaan kamu, Elin," ucap bu Mia, menepuk punggung Elin.
"Ibu, Elin, kak Arkan pasti bantu, kok," sahut Dira, penuh dengan keyakinan.
Arkan pun sampai di rumah Dira, lalu dia menjelaskan biar ibu dan anak-anak panti tidak terlantar. Arkan mengajak Dira untuk ke panti untuk mengantar ibu Mia dan Elin.
Setelah sampai di panti asuhan ternyata yang mempunyai tanah sedang berada di panti, dia mulai berteriak mengusir penghuni panti.
"Pak, apa tidak bisa dibicarakan baik-baik?" tanya Arkan, tetapi dia malah mendapatkan bentakan.
"Siapa kamu? beraninya ikut campur!" bentak orang itu.
"Bapak, mari kita bicarakan sambil duduk!" ajak Arkan, dia mengunakan cara halus untuk meredakan emosi orang itu.
Bapak itu akhirnya mau di ajak berbicara dengan Arkan, dia juga menceritakan kalau dirinya sedang terlilit hutang dan harus segera di bayar, tanah panti di jadikan jaminan.
Ibu Mia juga menjelaskan awal mereka tinggal di panti, karena orang tua bapak tadi memberikan tanah panti agar di tempati saja. Tanah ini awalnya sangat luas, tetapi anak dari pemilik tanah menjualnya.
"Lebih baik tanah ini jangan di jual, bagaimana pun ini amanah dari orang tua, bapak," ucap Arkan, memberikan nasehat pada orang itu. Arkan juga memberikan solusi bagaimana agar tanah milik orang itu tidak terjual habis, orang itu akhirnya paham dan juga mengerti. Saat ini dia tidak jadi menjual tanah dan memasrahkan pada ibu Mia tetapi, cepat atau lambat panti juga harus pindah.
"Kak, terimakasih atas bantuannya," ucap Dira, saat dalam perjalanan pulang.
"Sama-sama, Dira," ucap Arkan singkat.
"Kasihan anak-anak masih kecil, kalau harus terlantar," ucap Dira, dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dia yang berada di posisi anak-anak itu.
Arkan tidak langsung membawa Dira untuk pulang, lagi-lagi dia membawa ke kantor. Karena tadi ada pekerjaan yang belum selesai.
"Kenapa ke tempat ini lagi, kak?" protes Dira, dia tidak suka di ajak ke kantor.
"Aku masih ada pekerjaan, Dira," ucap Arkan.
"Kakak, tidak bilang dari tadi," ucap Dira, sembari mengerucutkan bibirnya.
"Gak usah cemberut gitu, kamu tetap cantik. Ayo kita turun!" ajak Arkan, mereka lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam kantor. Dira seperti satelit yang mengekor kemanapun Arkan pergi.
Saat sampai di ruang kerja Arkan, Dira di larang masuk oleh Laura.
"Berhenti!" teriak Laura, dengan wajah sinis.
"Kenapa?" tanya Dira, singkat.
"Aturan baru, siapa pun tidak boleh masuk ke ruangan pak Arkan," ucap Laura, melihat penampilan Dira dari atas sampai bawah.
"Kak Arkan!" teriak Dira, membuat Arkan keluar dari ruang kerjanya.
"Ada apa, Dira? kenapa teriak?" tanya Arkan, menatap ke arah Dira.
__ADS_1
"Aku mau pulang duluan! dari pada suruh mengunggu di luar!" ucap Dira, lalu melangkahkan kakinya untuk keluar kantor tetapi Arkan menahan tangan Dira dan menyeretnya masuk ke dalam ruangannya. Laura yang melihat hal itu semakin kesal, dia iri dengan Dira.
"Duduk! jangan kemana-mana sebelum aku selesai!" kata Arkan, melanjutkan pekerjaannya.
Dira duduk di sudut ruangan itu, sambil menatap wajah Arkan. Arkan yang di tatap pun sadar dan membalas tatapan Dira, tetapi Dira segera berpaling ke arah jendela membuat Arkan tersenyum melihat gadis itu.
Arkan memberi tahu mamah Meri lewat telepon genggamnya, kalau Dira saat ini sedang bersama dengan dirinya.
"Kakak, telepon mamah?" tanya Dira, mendengar Arkan berbicara dengan mamahnya.
"Iya, ini sudah sore takutnya mamah kamu nyariin," jelas Arkan.
Dira kembali memainkan telepon genggamnya, sedangkan Arkan melanjutkan pekerjaannya.
*
*
*
Di tempat lain, mamah Meri dan bunda Sinta baru belajar membuat kue model baru. Mereka berdua mengikuti kursus membuat kue.
"Jeng, Arkan habis telepon," ucap mamah Meri, dia memberi tahu bunda Sinta.
"Tumben jeng, anak saya telepon?" tanya bunda Sinta, dia bertanya takutnya ada sesuatu.
"Arkan bilang kalau saat ini Dira lagi sama dia, takutnya di kira hilang lagi," jawab Mamah Meri.
"Syukurlah jeng, kalau anak itu tau adab mengajak anak orang," ucap bunda Sinta, sembari tersenyum.
Seseorang yang duduk di meja makan, sambil memecahkan telur terlihat kesal mendengar ucapan bundanya dengan tante Meri, siapa lagi kalau bukan Elang.
"Kak, telurnya kenapa dimasukkan ke tempat sampah?" tanya vio, sambil menggendong boneka barbie kesayangannya.
"Elang!" teriak bunda Sinta.
π
π
π
π
π
Bersambung........
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca dan mendukungπ€