Sahabat

Sahabat
Bab 116


__ADS_3

"Mah, Pa, Sisil ke sana sebentar! mau bertemu teman," ucapnya lalu menuju ke tempat di mana Leo berada.


"Jangan lama-lama, Sisil," kata Mamahnya.


Sisil sengaja mau bertemu dengan Leo saat ini, dia mau meminta maaf. Ia merasa banyak salah, sudah tidak mendengarkan nasehat Leo. Sekarang Sisil mulai sadar kalau yang dia lakukan salah.


"Leo, bisa bicara sebentar?" tanya Sisil berdiri mematung di depan Leo.


"Bicaralah," ucap Leo singkat.


"Leo, aku minta maaf selama ini sudah banyak berbuat jahat," ucapnya penuh dengan penyesalan.


"Selama ini aku hanya mengingatkan kamu, agar menjadi orang baik. Semuanya juga demi kebaikan kamu sendiri, kalau benar-benar tulus dan menyesal atas perbuatan kamu. Minta maaflah pada Dira!" kata Leo seraya menepuk pundak Sisil.


"Kebetulan aku juga belum mengucapkan selamat pada Dira," kata Sisil tersenyum ke arah Leo.


Leo kemudian menemani Sisil menemui Dira dan Arkan, Sisil memeluk Dira membuat semuanya heran. Yang mereka tau Sisil tidak pernah baik dengan Dira, selalu mengusik dan mengganggu.


"Luna, lihat Sisil! ada angin apa tiba-tiba memeluk Dira," ucap Nisa seraya mencolek tangan Luna.


"Mungkin saja dia modus lagi, mau dapetin Leo," kata Luna melihat ke arah yang di tunjuk oleh Nisa.


Dira membalas pelukan Sisil, ia tidak pernah curiga hal buruk apapun pada Sisil. Walaupun dulu juga pernah pura-pura meminta maaf.


"Dira, aku minta maaf selama ini selalu jahat sama kamu. Bahkan aku ikut menyuruh sopir angkot menurunkan kamu di hutan, aku menyesal," ucap Sisil dengan penuh penyesalan.


Dira menatap Arkan seakan meminta pendapat, Arkan menganggukkan kepalanya tanda kalau ia menyuruh Dira memaafkan Sisil.


"Aku sudah memaafkan kamu dari dulu, Sisil. Kita semua teman, harusnya dari dulu permasalahan kita tidak pernah ada," ucap Dira.


"Kamu masih menganggap aku teman, Dira? padahal apa yang aku perbuat sudah kelewat batas," terang Sisil.


Dira tersenyum ke arah Sisil. "Sudah! jangan bahas yang sudah terjadi, sekarang kita buka lembaran baru sebagai teman," kata Dira.


"Besok tidak berubah pikiran lagi, kan?" sahut Arkan.


"Tidak, aku janji," ucap Sisil.


Usai meminta maaf mereka mengucapkan selamat untuk Dira dan Arkan. Sisil kemudian juga menemui Luna dan Nisa untuk meminta maaf juga, awalnya Nisa dan Luna meragukan Sisil tetapi Dira dari kejauhan memberi isyarat agar temannya memaafkan Sisil.

__ADS_1


"Leo, terimakasih kamu sudah merubahku," kata Sisil.


"Iya, Sisil. aku senang akhirnya kamu mau berubah, tetapi untuk masalah hati aku belum bisa," kata Leo dengan jujur.


Sisil mulai mengerti maksud Leo, dia juga menyadari semua. Sisil kemudian memeluk Leo, tanda mereka sudah baikan dan menjadi teman.


Acara pernikahan akhirnya berjalan dengan lancar, kini Dira dan Arkan sudah sah menjadi suami istri. Kedua orang tua mereka sangat bahagia, begitu juga dengan Elang, Vio.


Vio justru sangat senang Kakaknya menikah, karena tidak akan ada lagi yang menggangu nya saat berada di rumah.


Elang yang akan di suruh oleh Vio jika gadis kecil itu butuh bantuan, karena hanya dengan Elang dia mau mengganggu.


"Kak, kita masih ada foto bareng dengan Luna dan Nisa. Jangan pergi dulu," ucap Dira.


"Ada teman dari kantor, sayang! suruh mereka tunggu sebentar," ucap Arkan dengan lembut.


Dira kemudian menemui Luna dan Nisa, dia mengatakan kalau fotonya menunggu Arkan datang.


"Dira, kamu sudah siap? jangan seperti di novel-novel itu," ucap Nisa.


"Siap apa, Nisa?" tanya Dira dengan polosnya.


"Iya, sayang! pokoknya nanti malam kamu harus siap, biar Bunda cepat menimang cucu," sahut Bunda Sinta yang kebetulan mendengar ucapan Nisa.


Padahal Bunda Sinta dan Mamah Meri sudah menyiapkan semua, untuk keperluan malam pertama mereka.


"Gagal jeng, rencana kita," bisik Mamah Meri.


Dira curiga dengan Bunda dan Mamahnya saat mereka berbisik-bisik, pasti mereka merencanakan sesuatu yang membuatnya tidak baik.


"Pah, lihat Mamah! pasti merencanakan yang tidak baik," ucap Dira mengadu kepada Papahnya.


"Nanti kalau Bunda macam-macam, Ayah yang bantu kamu, sayang," sahut Ayah Arkan tersenyum ke arah Dira.


"Orang tua selalu merencanakan yang terbaik untuk anaknya, kamu jangan khawatir," kata Papah Dira sembari memeluk putrinya.


Untungnya Arkan segera datang dan mengajaknya untuk berfoto, lalu mereka makan-makan. Setelah selesai semua keluarga hendak pulang ke rumah, Dira dan Arkan di minta menginap di hotel.


"Mah, aku ikut mobil Mamah aja," kata Dira.

__ADS_1


"Tidak bisa sayang, kamu harus ikut dengan suami kamu," kata Mamah Meri.


"Dira, masih anak Mamah. Kenapa tidak boleh pulang?" tanya Dira.


"Sayang, kita istirahat di sini dulu! semalam aja," sahut Arkan.


"Pasti kamu capek banget, Bunda sudah menyiapkan semua," kata Bunda Sinta.


"Dira suruh tidur di hotel saja ribet, aku aja yang gantiin," kata Elang. Biar Dira sama Kakak pulang," Lanjutnya.


Dira akhirnya mengalah, mungkin semua ini sudah mereka semua rencanakan.


Arkan kemudian mengajak Dira naik lift yang tersedia, karena kamar mereka berada di lantai paling atas.


Dira sangat terkejut ketika pintu kamar itu terbuka, kelopak bunga mawar menghiasi lantai dan tempat tidur.



Kurang lebih seperti ini kamar hotel yang akan mereka tempati.


"Kak, kita tidur di mana nanti?" tanya Dira bingung karena banyak bunga di tempat tidur.


"Nanti kita bersihkan, sekarang kamu mandi dulu! Bunda sudah menyiapkan baju ganti di dalam almari," kata Arkan.


"Kakak, mandi dulu aja! Biar Dira yang membersihkan," kata Dira. Kak, terimakasih sudah membuat Dira bahagia, Dira suka dengan bunga-bunga ini," Lanjutnya.


"Iya, sayang! hari ini adalah hari bahagia kita, jadi aku harus membuatmu lebih bahagia," ucap Arkan.


Arkan memeluk Dira, dia sangat senang akhirnya bisa menikah dengan wanita yang dia cintai walaupun melalui perjodohan terlebih dahulu. Begitu juga dengan Dira, malam ini dia bahagia bercampur rasa takut.


"Kak, mandi dulu," ucap Dira saat Arkan hendak mendekatkan wajahnya.


Arkan lalu mengambil handuk, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dira membuka almari, ia mencari baju yang katanya sudah di siapkan oleh Bunda Sinta.


"Kenapa bajunya seperti ini semua, gak ada yang tertutup sama sekali," gerutu Dira seraya mengacak-acak isi almari.


"Ada apa, sayang?" tanya Arkan yang sudah selesai mandi dan hanya menggunakan celana pendek dan kaos santainya.


"Bajunya seperti ini semua, tidak ada yang lain," ucap Dira sembari menunjukan baju itu.

__ADS_1


"Kamu pilih saja! mana yang kamu suka," kata Arkan.


Dengan terpaksa Dira mengambil baju renda yang berwarna merah, karena yang lain lebih parah dari baju itu.


__ADS_2