
Dira, Luna dan Nisa saat ini pergi ke kampus, mereka hendak meminta izin agar bisa pindah tempat magang. Mereka menjelaskan bagaimana mereka magang di tempat Sisil, akhirnya di perbolehkan oleh pihak kampus.
Setelah selesai dari kampus mereka pergi ke cafe dimana Dira berkerja dulu. Dira hendak menemui Dhimas.
"Dira, kamu apa kabar?" tanya teman kerjanya dulu.
"Baik, Kak Dhimas ada tidak?" tanya Dira.
"Ada di dalam, masuk saja!" kata teman Dira.
Mereka bertiga masuk ke ruangan Dhimas, lalu bertanya apakah Dhimas bisa membantu atau tidak.
"Kak, kita mau minta tolong," ucap Dira sedikit malu.
"Tolong apa, Dira? kalau bisa Kakak akan bantu," ucap Dhimas.
Dira kemudian menceritakan soal magang dan menanyakan kalau magang di perusahaan Dhimas boleh tidak.
"Boleh, tapi di tempat saya gajinya kecil. Makhluk lah perusahaan baru," kata Dhimas.
"Yang kita butuhkan pengalaman, Kak," ucap Luna.
"Kalian datang saja ke alamat ini, nanti sekertaris saya yang akan bantu kalian," ucap Dhimas.
"Terimakasih Kak, Dira bersyukur Kakak mau bantu," ucap Dira.
__ADS_1
"Dulu kamu juga pernah membantuku, jadi mana yang bisa saja," ucap Dhimas sembari tersenyum.
Dira, Luna dan Nisa mencari alamat yang diberikan oleh Dhimas, ternyata letak perusahaan itu tidak jauh dari tempat Sisil.
"Gedung begini besar di bilang perusahaan kecil," ucap Nisa yang begitu kagum dengan kantor milik Dhimas.
"Kak Dhimas sekarang sudah sukses, soalnya dia pekerja keras," kata Dira.
"Seandainya aku besok bisa berkerja di sini, pasti Ibu sangat bahagia," ucap Luna.
"Tinggal bilang Kak Dhimas, pasti mau terima," kata Dira.
Para karyawan kantor menyambut kedatangan mereka dengan sangat sopan, mereka juga di hormati walaupun usianya lebih muda dari karyawan di situ. Dhimas sendiri orangnya juga sangat sopan dan baik.
Sekertaris Dhimas juga sangat ramah, besok mereka bertiga sudah diperbolehkan untuk magang. Setelah mengutarakan keperluannya, mereka berpamitan untuk pulang.
"Asal ada makanan," kata Nisa.
"Nisa, kapan kamu melupakan makan?" tanya Luna.
"Mana bisa makan dilupakan, makan itu nomor satu," jawab Nisa.
Mereka menuju ke rumah Dira dengan jalan kaki, karena tidak ada angkot yang lewat. Berjalan sambil bercerita membuat mereka tidak berasa lelah, apalagi ada Nisa yang selalu bisa bikin tertawa.
"Dira, kamu serius mau nikah sama Pak Arkan?" tanya Luna.
__ADS_1
"Sepertinya begitu, Luna. Aku juga tidak bisa menolak permintaan orang tua ku," kata Dira.
"Enak jadi kamu, punya suami sudah mapan," kata Nisa.
"Nikah aja belum, di bilang suami," protes Dira.
"Kalau kamu nikah duluan, kita gak bisa bareng lagi," ucap Luna.
"Kenapa tidak? memang kalian sudah tidak mau berteman dengan ku?" tanya Dira.
Dira tanpa kedua temannya akan sedih, karena mereka berdua yang sudah merubahnya menjadi mandiri dan menghargai kerja keras. Terutama Luna yang selalu mengingatkan saat dia bersalah dan sering membantunya mengerjakan tugas.
"Kita seneng tapi, gak enak sama suami kamu kalau kita ajak main," ucap Nisa.
"Kalau gitu aku juga bisa marah sama Kak Arkan," kata Dira.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Dira, ternyata di rumah Dira ada Arkan yang sedang bercerita dengan Mamah Meri.
"Ada Kak Arkan di rumah, itu mobilnya," ucap Dira sembari menunjukkan mobil Arkan.
Dira kemudian mengajak teman-temanya masuk ke dalam rumah.
"Dari mana kalian?" tanya Arkan karena tau kalau tidak berangkat magang lagi.
"Kantor Kak Dhimas," jawab Dira.
__ADS_1
Arkan juga heran kenapa Dhimas menerima mereka, padahal perusahaan besar milik Dhimas.