
Di kampus Luna memberitahukan pada Dira dan Nisa kalau dirinya tidak bisa ikut, karena Ibunya tidak ada yang menemani.
"Luna, kenapa begitu? kita tidak menginap kok," ucap Nisa.
"Tidak apa-apa Nisa, kasihan juga Ibu kalau di rumah sendiri," sahut Dira.
"Lebih baik kamu ikut Nisa, temani Dira," kata Luna.
"Aku sudah terlanjur janji dengan Kak Arkan kalau mau antar dia," kata Dira.
Dira, Luna dan Nisa masuk kedalam kelas, di kelas ada Sisil dan Keke yang sengaja mencari Dira.
"Akhirnya yang kita tunggu datang juga," ucap Keke.
"Dira, kenapa semua orang yang aku dekati selalu saja kamu dekati juga," kata Sisil.
"Maksud kamu siapa?" tanya Dira.
"Jangan berlagak bego, kamu!" kata Keke.
"Ngomong yang baik, jangan asal ngatain orang!" ucap Luna, membela Dira.
"Diam kamu! dasar miskin!" kata Sisil pada Luna.
"Jangan hina teman aku!" bentak Dira.
__ADS_1
"Dulu aku dekat dengan Pak Arkan kamu dekati, sekarang aku dekat dengan Leo juga kamu dekati!" kata Sisil.
"Hello Sisil, mereka yang sering nyamperin kita-kita! jangan salah kamu," kata Nisa.
"Kalian bertiga ternyata sama saja!" kata Keke.
Dira heran dengan Sisil yang selalu menggangunya, ingin rasanya Dira menjambak rambut Sisil lagi. Tetapi apa daya, dia teringat surat peringatan yang diberikan oleh Arkan.
Mereka berlima masih berdebat hingga menimbulkan kerumunan mahasiswa lain yang penasaran dengan apa yang terjadi.
"Jadi dulu Pak Arkan dekat dengan Sisil terus di rebut Dira," ucap salah satu mahasiswa.
"Sepertinya begitu yang aku dengar tadi," kata temannya.
Tak sengaja Elang mendengar ucapan kedua mahasiswa itu, lalu dia tidak terima dengan ucapan keduanya.
"Elang, kita tidak gosip tetapi Sisil sendiri yang bilang," kata mahasiswa yang satunya.
Elang kemudian bergegas menuju kelas yang ada kerumunan mahasiswa, dia menerobos masuk ke dalam.
"Ternyata kalian yang bikin gaduh!" ucap Elang.
"Kakak ganteng, mereka yang mulai duluan," adu Nisa.
"Hey... dasar mulut ember! tukang ngadu!" kata Sisil.
__ADS_1
"Kalau kelakuan kamu masih seperti ini, Leo pasti juga tidak akan mendekatimu lagi," ucap Luna.
"Sudah! hentikan!" teriak Elang.
"Jangan ikut campur kamu!" kata Keke.
"Kalian semua bubar!" suruh Elang, kemudian mahasiswa yang berkerumun itu meninggalkan kelas tadi.
Yang berada di dalam kelas saat ini ada Dira, Luna, Nisa, Sisil, Keke dan Elang. Elang masih kesal dengan mereka berenam.
"Kalian semua tidak punya malu, sudah sama-sama dewasa masih saja berantem," ucap Elang.
"Kita tidak berantem Elang, pergi kamu jangan ikut campur urusan orang!" usir Keke.
Elang melotot ke arah Dira, seakan-akan ada yang mau di tanyakan. Dira hanya diam tidak membantah atau menyahuti ucapan Elang.
"Dira, kecewa aku sama kamu," ucap Elang, lalu pergi meninggalkan kelas.
"Elang!" teriak Dira, tetapi Elang tidak menoleh atau berhenti, dia justru mempercepat langkahnya.
"Biarkan saja, Dira. Nanti aku jelaskan ke Elang," ucap Luna.
"Ayo kita pergi dari kelas orang miskin!" ajak Sisil.
"Lama-lama di sini bisa ketularan miskin," ucap Keke.
__ADS_1
"Pergi sana! awas virus miskin kita menempel di tubuh kalian!" ucap Nisa.
Beruntung saat mereka berdebat tidak ada dosen yang melihat, karena Dira bisa di sidang lagi.