
"Dion, apa orang tua kamu bisa menerima aku? aku takut," ucap Elin dengan khawatir.
"Kamu tenang saja, aku sudah menceritakan soal kamu dengan mereka," kata Dion menenangkan hati Elin.
"Tapi, aku tidak yakin," kata Elin.
Dion berusaha meyakinkan Elin kalau orang tuanya bisa menerima Elin dengan keadaan apapun, dia berencana ingin memperkenalkan Elin dengan orang tuanya.
Keputusan Dion saat ini sudah bulat, dia tidak mau menunda-nunda lagi. Keinginannya untuk menjadikan Elin sebagai istrinya akan segera ia wujudkan.
Elin memang masih ragu, karena dia anak yang hidup di panti asuhan sedang keluarga Dion orang terpandang. Apa mungkin bisa menerima Elin yang seorang yatim piatu? rasanya tidak mungkin, itulah yang sedang Elin pikirkan.
"Sayang, ayo kita masuk ke dalam!" ajak Dion saat berada di depan rumahnya.
"Dion, aku...
"Ayo! Papah, Mamah sudah nungguin," ucap Dion seraya menggandeng tangan Elin.
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam rumah, Elin merasa sangat takut. Orang tua Dion menyambut kedatangan Elin dengan ramah, Elin tidak menyangka.
__ADS_1
"Silahkan duduk, Elin," ucap Mamah Dion dengan lembut.
"Makasih, Tante," kata Elin dengan tersenyum lalu duduk di sebelah Dion.
Mamah Dion menanyakan soal keluarga Elin, membuat Elin gemetaran karena pertanyaannya mengingatkan soal masa lalunya.
"Mah, tolong tanya yang lain," sahut Dion melihat ke arah Elin yang nampak pucat.
"Sepertinya anak ini mempunyai trauma yang mendalam," ucap Mamah Dion dalam hati.
"Tidak apa-apa, Dion," ucap Elin memaksakan diri untuk tersenyum.
"Maaf, Elin," kata Mamah Dion.
"Elin, jangan sungkan-sungkan main ke rumah Dion," ucap Papahnya.
"Iya, Om," jawab Elin singkat.
Mamah Dion di bantu Elin menyiapkan makan siang untuk mereka, walaupun bukan orang yang berada Elin bisa menyesuaikan diri. Setelah selesai makan, Dion mengantarkan Elin ke panti asuhan.
__ADS_1
"Pah, bagaimana calon mantu kita?" tanya Mamah Dion yang kurang setuju sebenarnya.
"Terserah Dion, Mah. Mereka yang akan menjalani," jawab Papah Dion dengan tenang.
"Kok gitu? Papah gak malu kalau Elin tidak punya rumah dan keluarga," kata Mamah Dion.
"Semua sudah jalan hidup Elin, Mah! jangan seperti itu, kalau semua itu terjadi sama anak kita gimana?" ucap Papah Dion dengan bijak.
Kedua orang tua itu berbeda pendapat, tetapi setelah di pikir-pikir ada benarnya ucapan Papah Dion. Dia selalu memberikan pengertian kepada istrinya, kalau Dion sudah sangat menyayangi Elin mereka juga tidak akan bisa berbuat apa-apa.
Ibu panti juga kaget mendengar ucapan Elin dan Dion, ia tidak menyangka akan secepat ini.
"Nak, boleh Ibu berbicara empat mata dengan mu?" tanya Ibu panti pada Dion.
"Tentu saja boleh, Bu," jawab Dion.
Kemudian Elin meninggalkan Ibu panti dan Dion yang akan berbicara.
"Kamu yakin akan menikah dengan Elin? apa orang tua mu setuju?" tanya Ibu panti.
__ADS_1
"Ibu, saya berjanji tidak akan pernah menyakiti hati Elin. Aku akan menjaga Elin dengan baik," kata Dion dengan sungguh-sungguh.
Ibu panti sebenarnya masih ragu dengan keputusan Elin dan Dion, tetapi ia tidak bisa melarang keduanya. Yang Ibu panti khawatirkan adalah trauma Elin.