
"Kak Arkan lama sekali, apa sebaiknya aku pulang dulu saja," ucap Dira.
Saat akan keluar dari mobil ada yang menghampirinya, dia adalah seorang satpam yang berkerja di kantor Arkan.
"Mau kemana, Neng?" tanya Satpam paruh baya itu.
"Pulang Pak, tolong nanti kalau kakak Arkan datang bilang ya, Pak," ucap Dira.
"Aduh, Neng. Tolong jangan pergi, nanti saya di pecat," ucap Satpam.
"Pecat? tidak mungkin kakak asal pecat," ucap Dira.
"Tadi, Pak Arkan pesan kalau sampai Neng, pergi sendiri saya akan di pecat," jelas Satpam.
"Kakak lama sekali, Dira ingin pulang," kata Dira mengerucutkan bibirnya.
Laura datang ke tempat parkir, dia menanyakan kepada Satpam keberadaan taksi yang baru saja dia pesan.
"Pak, apa taksi saya sudah datang?" tanya Laura, menghampiri Dira dan Satpam itu.
"Tidak, mbak. Saya di minta untuk jagain Neng cantik ini," jawab Satpam.
"Bapak ini bisa kerja tidak? Kenapa malah jagain orang tidak penting!" bentak Laura.
"Yang tidak penting itu kamu, bukan tugas pak Satpam," sahut Dira.
"Berani kamu sama aku!" teriak Laura.
"Siapa takut," ucap Dira.
Dira dan Laura lalu jambak-jambak an, sampai Satpam itu kewalahan untuk melerai mereka berdua. Untung saja Arkan segera datang dan melerai mereka.
"Hentikan!" teriak Arkan. Membuat Laura menoleh ke arah Arkan, sedangkan Dira menjambak Laura lagi.
"Sakit!" teriak Laura.
"Sudah Neng, hentikan," ucap Satpam.
"Kalian apa-apaan? Laura kenapa kamu juga seperti anak kecil," ucap Arkan.
"Dia yang mulai duluan, Pak," Laura menunjuk ke arah Dira.
"Jangan percaya, kak. Dia sudah tidak sopan dengan Satpam," ucap Dira.
"Jangan ngeles kamu! Dasar bocah gak tau diri!" kata Laura berlalu meninggalkan Arkan dan Dira.
"Neng ini gak salah, Pak," ucap Satpam dengan ketakutan.
"Lanjutkan kerja bapak!" suruh Arkan.
Arkan kemudian menyuruh Dira untuk masuk ke dalam mobilnya, dia mengajak Dira untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Rambut Dira masih terlihat acak-acakan, Dira merapikan dengan tangannya.
"Itu akibat suka berantem," ucap Arkan, melirik ke arah Dira.
Dira hanya diam tidak menjawab ucapan Arkan, dia tau kalau seharusnya tidak berantem seperti tadi. Laura bukan Sisil yang selalu mengganggu tetapi, Laura kalau melihat Dira seperti melihat musuh.
"Kenapa diam?" tanya Arkan dengan lembut.
"Jangan bilang Mamah, Kak. Dira tau kalau salah," ucap Dira.
"Aku sudah pernah bilang jangan suka berantem, kenapa masih saja kamu ulangi?" tanya Arkan.
Dira menceritakan kejadian tadi, tetapi Arkan sepertinya tidak mau mendengar alasan Dira. Yang Arkan mau Dira tidak berantem lagi, walaupun dia tidak bersalah.
"Maafkan Dira, Kak," ucap Dira.
"Iya, jangan berantem lagi," kata Arkan, mengelus pucuk kepala Dira.
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah Dira, Arkan ikut masuk ke dalam rumah Dira, karena ingin bertemu dengan Mamah Meri.
"Kak, minum dulu!" ucap Dira, meletakkan minuman yang telah dibuatnya di atas meja.
"Terima kasih, Dira. Tante Meri mana?" tanya Arkan.
"Belum pulang mungkin, Kak," jawab Dira. Mamah Meri saat ini masih dalam perjalanan pulang dari rumah Luna.
Karena Mamah Meri tak kunjung datang, akhirnya Arkan pulang duluan. Dia masih banyak kerjaan dari kantor yang dia bawa pulang.
Arkan tidak fokus mengerjakan pekerjaannya, dia malah membayangkan Dira yang sedang berantem dengan Laura.
"Kenapa aku malah membayangkan Dira," ucapnya, lalu kembali fokus dengan pekerjaannya tetapi tetap tidak bisa.
"Kak!" teriak Elang.
"Ada apa, El?" tanya Arkan, membuka pintu ruang kerjanya karena mendengar suara Elang.
"Kakak, tadi pergi kemana dengan Dira?" tanya Elang.
"Beli buku, kenapa emang?" tanya Arkan.
"Kalian tidak pacaran, kan?" Elang bukan menjawab pertanyaan Arkan tetapi dia malah balik bertanya.
"Kamu tanya apa, El? sudah sana keluar!" usir Arkan.
"Ingat, Kak!" kata Elang, lalu pergi dari ruang kerja Arkan.
Elang memberi peringatan pada Arkan, karena dia tidak ingin silaturahmi dengan keluarga Dira rusak hanya gara-gara soal cinta. Padahal Bunda Sinta sangat senang jika mempunyai menantu seperti Dira.
Kebetulan yang di inginkan keluarga mereka bisa menjadi besan, berbeda dengan pemikiran Elang. Kalau pun Elang sendiri yang mempunyai hubungan dengan Dira pasti akan direstui.
***
__ADS_1
Di kampus pagi ini Nisa dan Luna sudah menunggu kedatangan Dira, mereka sahabat yang paling setia dengan Dira.
"Maaf, aku terlambat datang," ucap Dira.
"Kemana saja kamu, kita nungguin lama banget," kata Nisa.
"Aku bangun kesiangan tadi pagi," ucap Dira.
"Kita masuk, yuk!" ajak Luna.
Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam kelas untuk mengikuti mata kuliah jam pertama. Dira tampak tidak fokus saat di dalam kelas, karena Arkan yang mengajar membuatnya mengingat kejadian kemarin di kantor Arkan.
Setelah selesai Dira mengejar Arkan keluar dari kelasnya, Dira bilang pada Arkan kalau ingin ikut pergi ke kantor dan meminta maaf pada Laura.
Arkan melarang Dira ikut, dia tau Laura itu seperti apa. Misal ada wanita yang dekat dengan Arkan pasti akan dia ganggu. Laura memang sangat profesional dalam melakukan pekerjaan, itu yang membuat Arkan mempertahankannya.
"Tapi, Pak," ucap Dira, merengek ingin ikut dengan Arkan ke kantor.
"Dira, Laura justru akan membuat aku sibuk. Dan dia bisa bebas ngerjain kamu," jelas Arkan.
Arkan kemudian menyuruh Dira untuk kembali bersama sahabatnya, karena dia akan segera pergi ke kantor.
"Dira, kamu semakin lengket saja dengan Pak Arkan," ucap Nisa.
"Sebentar lagi akan menjadi kakak Elang, dong," sahut Luna.
"Kalian ngomong apa? aku tidak dengar," ucap Dira.
Dira mengajak kedua sahabatnya untuk duduk dan bercerita tentang kejadian kemarin di kantor Arkan.
"Yang namanya Laura, cantik tidak?" tanya Nisa.
"Cantik, seperti bule," ucap Dira.
"Kenapa juga kamu belain satpam itu?" tanya Luna.
"Kasian Luna, kalau sampai di pecat bagaimana dengan nasib keluarganya. Mereka butuh makan, sedangkan satpam itu tulang punggung keluarganya," jelas Dira.
"Dira, kamu ada hubungan apa dengan kakak?" tanya Elang, penasaran karena tidak puas dengan jawaban Arkan.
"Cie, calon adiknya datang," ucap Nisa, membuat Elang melotot ke arah Dira.
"Kamu tanya apa Elang? gak jelas banget jadi orang," ucap Dira.
"Iya, Elang main tuduh aja," kata Luna.
Elang lalu pergi dari hadapan mereka bertiga, sikap Elang bertambah aneh bagi Dira. Dulu Elang sangat ceria dan selalu bersama mereka bertiga, sekarang kelihatan menjauh.
Dira sadar dengan perubahan sikap Elang, tetapi dia sama sekali tidak menegur karena takut menyinggung perasaan Elang.
Luna dan Nisa juga mulai sadar dengan perubahan sikap Elang saat ini.
__ADS_1