
Di taman kampus Luna sengaja menemui Elang, dia ingin menjelaskan kejadian tadi di kelas.
"Elang, apa maksud ucapan kamu tadi pagi? kecewa sama Dira?" tanya Luna.
"Dira sudah mendekati Kak Arkan dan sekarang Leo," jawab Elang.
"Kamu dengar dari siapa? itu akal Sisil saja," jelas Luna.
"Luna, dia sudah banyak yang membicarakan seperti itu. Anak di kampus tau semua," kata Elang.
" Sekarang kamu gak kenal Dira? tanya saja sama kakak kamu, apa benar Dira mendekatinya," kata Luna.
Luna sangat kesal dengan Elang, mereka sudah berteman beberapa tahun tetapi Elang tetap saja berlagak seperti tidak mengenalnya.
"Untuk apa tanya, Luna. Semua sudah jelas," ucap Elang.
"Dira sering menolak ajakan Kak Arkan, mana bisa dia mendekati Kak Arkan," kata Luna.
Luna dan Elang berdebat tidak ada habisnya, panggilan dari Nisa membuat keduanya terdiam.
"Luna!" teriak Nisa.
"Ada apa, Nisa?" tanya Luna, melihat ke arah Nisa yang baru datang.
"Kamu lihat Dira tidak?" tanya Nisa.
__ADS_1
"Tidak, kita hanya berdua dari tadi," jawab Luna.
"Aku duluan!" pamit Elang, meninggalkan Luna dan Nisa.
"Kakak ganteng, aku ikut!" teriak Nisa.
Elang tidak menyahuti teriakan Nisa, dia masih kesal dengan Dira. Di tambah lagi dengan pembelaan Luna, yang selalu membela Dira. Sebenarnya Luna membela Dira karena tau bagaimana Dira.
Dira saat ini sedang berada di toko buku, dia sendirian tanpa mengajak teman.
"Ini kelihatannya menarik," ucap Dira dalam hati.
Setelah selesai dari toko buku, dia berjalan menuju cafe tempat dulu dia berkerja.
"Iya, mampir saja Kak. Bagaimana keadaan cafe, masih rame?" tanya Dira.
"Lumayan, sekarang pengunjung semakin bertambah. Kabar kamu gimana?" kata Dhimas.
"Aku baik-baik saja, Kakak apa kabar?" Dira balik bertanya.
"Seperti yang kamu lihat, cuma belum laku saja," jawab Dhimas sambil tersenyum.
"Harusnya ada peningkatan, Kak," kata Dira.
"Tidak ada yang mau sama aku, mungkin," ucap Dhimas.
__ADS_1
Dhimas masih begitu baik dan ramah dalam menyambut kedatangan Dira, dari dulu dia memang sangat baik. Tak menyangka Dira masih mau datang mengunjungi cafe.
Karena sudah sore Dira berpamitan untuk pulang, Dhimas ingin mengantarkan pulang. Dira menolak tawaran Dhimas, karena dia tidak enak kalau di lihat tetangga atau Elang.
Seperti biasa Dira pulang menuju rumah dengan jalan kali, sampai di jalan ada sebuah mobil yang berhenti. Pemilik mobil itu keluar dan mengajak Dira untuk pulang bareng. Dira menolak ajakan pemilik mobil itu yang ternyata adalah Bunda Sinta.
"Dira, kenapa kamu jalan sendiri? ayo pulang bareng tante!" ajak Bunda Sinta.
"Tidak, tante. Dira mau jalan kaki saja," tolak Dira.
"Nanti kamu capek lho, ini masih jauh," kata Bunda Sinta.
Dira bersikeras menolak ajakan Bunda Sinta, terpaksa Bunda Sinta meninggalkan Dira.Bunda Sinta sampai heran dengan Dira, biasanya juga mau.
Setelah sampai di rumah Bunda Sinta mencari Arkan, dia bertanya pada Arkan soal Dira.
"Arkan, kamu sudah lama sampai rumah?" tanya Bunda Sinta.
"Belum, baru juga sampai," jawab Arkan.
"Dira kenapa aneh gitu, tadi Bunda ajak bareng tidak mau," kata Bunda Sinta.
"Kebetulan Arkan belum bertemu Dira hari ini, coba nanti Arkan tanya," kata Arkan.
Bunda Sinta takut kalau Arkan dan Dira ada kesalahpahaman, makanya dia panik. Setelah mendengar ucapan Arkan, Bunda Sinta merasa lega.
__ADS_1