
Bunda Sinta menyuruh Arkan untuk mengantarkan Dira pulang, di perjalanan Dira hanya diam karena malu dengan Arkan.
"Kenapa diam saja?" tanya Arkan, tersenyum ke arah Dira.
"Kak, beneran kita dijodohkan?" ucap Dira, belum percaya dengan kenyataan dirinya dijodohkan dengan Arkan.
"Iya, kamu sebenarnya menolak kan?" kata Arkan.
"Aku takut yang di bilang Elang beneran," ucap Dira.
Arkan memberhentikan kendaraannya di pinggir jalan, dia tidak ingin membuat Dira terpaksa menerima perjodohan ini.
"Dira, aku tau Elang suka sama kamu. Buat aku juga berat masa bersaing dengan adik sendiri, kalau kamu terpaksa mending kita batalkan saja," jelas Arkan.
"Mamah dan Tante Sinta gimana?" tanya Dira.
"Asal kita kompak, mereka pasti bisa mengerti," jawab Arkan.
Arkan kemudian mengajak Dira kembali ke butik, mereka akan meminta perjodohan dibatalkan.
"Ada apa kalian kembali?" tanya Mamah Meri, yang sedang asyik dengan Bunda Sinta mencoba kebaya.
"Iya, Arkan ada apa?" sahut Bunda Sinta.
"Bun, kita minta...
"Kak, jangan!" teriak Dira.
"Ada apa sebenarnya? ayo katakan!" ucap Bunda Sinta.
__ADS_1
"Jangan bilang kalian minta kita membatalkan perjodohan ini," sahut Mamah Meri.
Arkan dan Dira hanya diam dan saling berpandangan, ada rasa tidak tega dengan orang tuanya. Arkan mencari ide alasan mereka kembali ke butik.
"Tidak, Tante! Kita balik lagi karena baju Dira ketinggalan," bohong Arkan.
"Syukurlah! Tante kira kalian minta perjodohan ini dibatalkan," ujar Mamah Meri.
Dira kemudian mengambil bajunya yang memang tertinggal, lalu mengajak Arkan pulang.
"Dira, kenapa kamu melarang aku berbicara?" tanya Arkan.
"Aku tidak mau melukai perasaan Mamah dan Tante," ucap Dira.
"Kamu terpaksa menerima aku?" tanya Arkan.
"Tidak, Kak," jawab Dira.
"Eh...Kakak ipar datang," ucap Elang. Langsung mendapat tatapan mata dari Arkan.
"Adik ipar harus nurut sama Kakak ipar," kata Arkan.
"Tidak bisa begitu, Kak," ucap Elang.
"Gak usah ngeledek, Elang," sahut Dira.
Mereka bertiga kemudian bercanda di ruang keluarga, walaupun sedih buat Elang tetapi dia berusaha baik-baik saja.
"Dira, sebagai calon istri yang baik. Tolong buatkan makanan, dong!" kata Arkan.
__ADS_1
"Jangan mau, Kakak ipar! nanti tangan kamu kotor," kata Elang.
"Tapi kalau tidak enak jangan marah, Kak," ucap Dira.
Arkan kemudian menemani Dira ke dapur untuk memasak, Elang juga ikut karena berniat mengganggu Dira.
"Kalian tidak membantu malah melihat!" ucap Dira.
"Mana yang mau di bantu?" tanya Arkan.
Dira meminta Arkan memotong cabai, alhasil potongan cabe itu besar-besar.
"Kak, ini yang makan gimana? yang kecil motongnya," protes Dira.
"Kamu tidak kasih contoh tadi," kata Arkan.
"Buruan masaknya, udah laper ini," ucap Elang.
"Elang, kamu aja yang masak!" kata Dira.
Mereka bertiga akhirnya masak bersama, karena lapar mereka menghabiskan semua masakan itu. Selesai makan Dira membereskan meja makan dan mencuci piring yang kotor.
"Kak, Dira pulang dulu!" pamit Dira pada Arkan.
"Nanti nunggu Bunda dulu," ucap Arkan.
"Kalau sudah sama Mamah, Tante Sinta pasti lupa waktu," kata Dira.
"Mereka kan best friend, Dira," sahut Elang.
__ADS_1
Dira akhirnya menunggu Bunda Sinta pulang, tetapi yang di tunggu tidak kunjung datang.
Bunda Sinta dan Mamah Meri saat ini sedang berada di gedung, tempat mereka akan melangsungkan pesta nanti.