
"Luna, ayo aku antar kamu pulang! ini sudah sore, nanti kamu kemalaman sampai rumah," ucap Leo.
"Makasih, Leo. Tapi aku mau pulang sendiri," tolak Luna.
"Ayolah Luna, jangan suka menolak!" kata Leo.
Dengan terpaksa Luna mau di antar pulang oleh Leo, mereka keluar dari kampus memang sudah sore. Di jalan Leo mengajak Luna untuk makan terlebih dulu, tetapi Luna menolak.
"Kamu tidak kasihan sama aku, Luna?" tanya Leo.
"Nanti makan di rumahku saja, dari pada beli," ucap Luna.
Leo tetap memaksa Luna, karena dia sudah sangat lapar. Tak sengaja mereka bertemu dengan Sisil.
"Ternyata kamu Luna, yang dekat dengan Leo," ucap Sisil.
"Kamu ngomong apa? gak jelas banget," sahut Leo.
"Tadi kebetulan kita bertemu di perpustakaan," kata Luna.
Sisil tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Luna, dia masih curiga dengan Luna dan Leo.
"Tepat sasaran kemarin Keke robek buku Luna," sahut teman Sisil.
"Apa? jadi kalian yang sudah merobek buku ku!" kata Luna.
__ADS_1
"Iya, kenapa?" tanya Sisil.
"Keterlaluan kamu, Sisil!" ucap Leo, kemudian mengajak Luna untuk pulang, mereka tidak jadi makan.
Sampai di rumah Luna mengajak Leo makan, awalnya Leo menolak karena tidak enak dengan Ibu Luna. Tapi Luna memaksa karena sebagai tanda ucapan terimakasih.
"Luna, aku jadi tidak enak sama kamu," ucap Leo.
"Anggap saja sebagai ucapan terimakasih, karena kamu sudah mengantar aku pulang," kata Luna, sembari tersenyum.
"Kalau begitu, aku pulang dulu! terimakasih juga buat makanannya," ucap Leo.
Leo kemudian meninggalkan rumah Luna, dia kembali ke tempat Sisil tadi.
"Itu balasan buat kamu, karena sudah menolak ku," kata Sisil.
"Kamu benar-benar keras kepala!" kata Leo.
Sisil meminta agar Leo mau berpacaran dengannya, tetapi Leo tetap menolak. Leo tau bagaimana sifat Sisil, itu yang membuat Leo menolaknya.
Luna sekarang menyesal karena tidak mau mendengarkan apa penjelasan Dira dan Nisa. Dia berencana ingin menemui Dira tetapi sudah malam.
Keesokan paginya Luna menunggu Dira dan Nisa di depan kamus, tetapi mereka tidak kunjung datang. Luna akhirnya pergi ke perpustakaan lebih dulu,
"Nisa, kita langsung ke kelas saja," ucap Dira.
__ADS_1
"Baik, Dira cantik," kata Nisa.
"Luna berangkat belum, ya?" tanya Dira, sebenarnya dia ingin menunggu Luna.
"Mungkin sudah, tidak mungkin Luna datang terlambat," kata Nisa.
Luna berjalan ke kelas tak sengaja bertemu dengan Dira dan Nisa. Luna meminta maaf kepada Dira dan Nisa karena salah mengira.
"Dira, Nisa maafkan aku," ucap Luna dengan pelan, sembari memeluk Dira dan Nisa.
Dira dan Nisa membalas pelukan Luna, mereka sangat senang karena Luna sudah memaafkan. Begitu juga dengan Luna, yang merasa bersalah.
Harusnya dia mendengarkan penjelasan sahabatnya itu dan mencari kebenarannya bersama.
Akhirnya mereka bertiga bisa bersama-sama lagi, Dira mengajak kedua temannya ke kantin. Dia mentraktir kedua sahabatnya sebagai tanda mereka sudah bersama lagi.
"Luna, kok kamu bisa tau kalau Keke yang merusak buku mu?" tanya Nisa.
"Kemarin teman Sisil yang bilang, itu yang rambutnya keriting kaya mie," jawab Luna.
"Aku juga lupa siapa namanya," sahut Dira.
"Mereka tetap keterlaluan, harus di beri pelajaran!" kata Dira.
Dira hendak pergi mencari Keke, dia akan membuat perhitungan. Tetapi Luna dan Nisa melarangnya, mereka takut Dira berantem.
__ADS_1