Sahabat

Sahabat
Bab 68


__ADS_3

Dira sangat kesal setelah mendengarkan cerita Luna, kenapa Keke dan Sisil selalu mengganggunya. Seandainya Luna dan Nisa tidak melarang menemui Keke dan Sisil, pasti sudah Dira ajak baku hantam.


"Awas saja kalau ketemu di jalan," gerutu Dira.


"Biarkan saja! aku sudah mengerjakan lagi, Dira," kata Luna.


"Mereka keterlaluan, tidak jelas masalahnya main robek buku orang saja," kata Dira.


"Kita harus sabar, Dira," sahut Nisa.


Siang hari saat berada di kantin, mereka bertemu dengan Sisil dan Keke.


"Dira, kita ke kelas aja yuk!" ajak Luna.


"Aku mau makan, Luna. Tadi di rumah belum sempat sarapan," kata Dira.


"Tapi, jangan berantem! itu ada Keke sama Sisil," ucap Nisa.


Dira menuruti apa kata temannya, dia tidak akan meladeni Sisil dan Keke berantem lagi. Sisil menghampiri meja di mana Dira dan kedua temannya sedang menunggu pesanan.


"Udah akur aja kalian," ucap Sisil.


"Emang siapa yang tidak akur! kita selalu akur," sahut Nisa.


"Luna, sejak kapan kamu jalan sama Leo?" tanya Keke.

__ADS_1


"Bukan urusan kamu!" sinis Luna.


"Sisil, Keke kalian pergi dari sini! bikin nafsu makan ilang saja," sahut Dira.


Sisil marah mendengar ucapan Dira, dia mulai menjambak rambut Dira. Dira membalas perbuatan Sisil, Keke membantu Sisil ikut menarik baju Dira.


Nisa tidak terima temannya diperlukan seperti itu, dia kemudian mengambil minuman entah punya siapa lalu menyiramkan ke muka Sisil. Mereka berdua berhenti mengeroyok Dira. Sisil melotot ke arah Nisa, membuat Nisa berlari dari kantin. Sisil dan Keke mengejar Nisa yang sedang berlari ke arah kantor dosen.


"Dira, kamu tidak apa-apa?" tanya Luna.


"Sedikit memar lengan ku, ayo kita tolong Nisa!" ajak Dira, berlari mengejar Nisa.


"Tunggu!" teriak Luna.


Dira sudah tidak menyahut, dia khawatir dengan Nisa kalau sampai Sisil dan Keke menangkapnya.


"Apa yang terjadi, Luna?" tanya Elang, yang kebetulan berjalan di belakang Luna.


"Dira berantem lagi dengan Sisil," jawab Luna.


Elang langsung berlari menuju ke arah Dira berada, dia sangat panik.


Nisa berlari menuju ke ruangan dosen, dia sembunyi di kolong meja.


"Kemana anak itu?" tanya Keke.

__ADS_1


"Kurang ajar sekali, beraninya nyiram kita," kata Sisil.


"Ayo kita balik! ketauan dosen bisa di hukum," ucap Keke.


Saat mereka akan pergi, Dira datang ke tempat Sisil dan Keke berada.


"Mana Nisa, Sisil?" tanya Dira.


"Cari aja sendiri!" ketus Sisil.


"Dira!" teriak Elang, yang baru datang.


Sisil mengajak Keke untuk pergi, karena melihat Elang datang.


"Iya, Elang," ucap Dira.


"Kamu berantem lagi sama Sisil?" tanya Elang.


"Aku hanya membalas apa yang dia lakukan, emang kenapa?" tanya Dira balik.


"Bagus! kamu gak bisa di ingatin," ucap Elang.


"Namanya juga membela diri! kalau rambut aku jebol semua gimana? nanti gak cantik lagi," jelas Dira.


Elang lalu menarik tangan Dira menuju ke tempat Luna berada, dia menasehati Dira dan Luna. Ketika Elang sudah peduli maka dia akan banyak bicara, apalagi dengan orang yang dekat.

__ADS_1


Nisa saat ini masih berada di kolong meja. Kebetulan ada dosen yang masuk ke ruang itu, jadi dia tidak berani keluar. Dia sedang mencari ide bagaimana cara keluar dari ruangan dosen.


__ADS_2