
"Kak, tolong tutup mata! Dira mau keluar dari kamar mandi!" teriak Dira saat selesai membersihkan tubuhnya.
"Keluar! aku tidak akan melihat," ucap Arkan sembari menutup mukanya dengan selimut, agar istrinya tidak malu.
Dira kemudian keluar dari kamar mandi, dia tersenyum melihat Arkan yang menutup mukanya dengan selimut. Lalu ia menuju ke ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut juga.
"Sudah, Kak! buka saja," ucapannya.
Arkan membuka selimut dan melihat Dira yang sudah berada di sampingnya, istrinya sepertinya belum siap untuk melayaninya. Dia kemudian tidur membelakangi Dira, dan berusaha memejamkan matanya yang belum mengantuk.
"Kak, kenapa Dira dibelakangi?" tanya Dira.
"Istirahatlah! kamu pasti capek, besok pagi kita pulang," kata Arkan.
"Harusnya malam pertama seperti yang ada di film-film itu, suasananya romantis," kata Dira melirik ke arah Arkan yang masih membelakangi nya. Tapi Dira takut gak bisa jalan nanti," Lanjutnya.
"Jangan berfikir seperti itu! cepat tidur sebelum aku berubah pikiran," kata Arkan.
Mereka berdua akhirnya terlelap dan terbawa mimpi masing-masing, Arkan akan sabar menunggu istrinya sampai siap.
Keesokan harinya mereka pulang ke rumah Bunda Sinta terlebih dahulu, hari ini juga mereka akan menempati rumah barunya.
__ADS_1
"Lho, kok sudah pulang kalian?" tanya Bunda Sinta menatap Dira dengan rasa kecewa.
"Kita tidak bisa tidur, Bun," jawab Arkan.
Bunda Sinta menyuruh Arkan dan Dira masuk ke dalam rumah, mereka tidak terlihat seperti orang yang sedang kelelahan.
"Rencana ku pasti gagal," ucap Bunda Sinta dalam hati.
Elang yang baru saja keluar dari kamarnya, langsung duduk di sebelah Arkan. " Tadi malam gimana, Kak? kakak di tendang gak sama Dira?" tanya Elang dengan bisik-bisik agar Dira tidak mendengar.
Arkan lalu memukul lengan Elang, karena mengejeknya.
"Ada apa, Kak? kenapa Elang di pukul?" tanya Dira.
"Suami kamu tuh! main pukul saja," kata Elang.
"Pasti kamu berulah, Elang. Kalau tidak mana mungkin kamu di pukul," kata Dira.
Dira kemudian masuk ke dapur untuk membantu Bunda Sinta menyiapkan sarapan pagi, kebetulan tadi mereka belum sarapan.
Selesai sarapan Dira dan Arkan pergi ke rumah Mamah Meri, ternyata Mamah Meri sudah berangkat ke butik.
__ADS_1
Arkan dan Dira lalu mengemasi barang-barang milik Dira yang hendak di bawa ke rumah.
"Kak, Dira gak tega ninggalin ini kamar," ucapnya seraya merapikan baju dan di masukan ke dalam koper.
"Bawa aja kamarnya, kalau tidak tega," ucap Arkan yang sedang tidur tengkurap di atas kasur.
"Tidak bisa, Kak! nanti kita tidur di mana kalau pulang kerja," ucap Dira.
Arkan tersenyum melihat tingkah istrinya, dia lalu mengambil ponselnya karena berbunyi. Kemudian Dira menyelesaikan mengemasi barang-barangnya.
***
Nisa sedang berada di rumah Luna saat ini, mereka sedang belajar membuat kue tradisional seperti yang di jual oleh Ibu Luna.
"Luna, sekarang Dira bisa jalan tidak?" tanya Nisa yang kebanyakan membaca novel.
"Emang kenapa tidak bisa jalan? bukannya kemarin baik-baik saja," kata Luna yang memang tidak paham pembicaraan Nisa ke arah mana.
"Kamu tidak ngerti juga, Luna? itu seperti yang di novel-novel setelah menikah," jelas Nisa.
Luna baru paham, kemudian mencolek pipi Nisa dengan tepung. Dia kesal pikiran Nisa sudah mengarah ke hal yang lebih dewasa.
__ADS_1