
Dhimas bertanggung jawab sepenuhnya, karena dia yang sudah menerima anak magang. Walaupun pemilik perusahaan dia tidak pernah sombong, dia mau berbaur dengan karyawan di kantor maupun di cafe.
"Enak kita di sini, gak panas," kata Nisa.
"Jangan berisik!" ucap Luna. Ia sedang fokus memperhatikan Dhimas yang sedang menjelaskan.
"Kalau ada yang tidak paham, kalian tanya dulu. Jangan malu," ujar Dhimas.
Setelah Dhimas pergi, mereka bertiga fokus mengerjakan apa yang sudah menjadi tugas mereka.
***
Arkan setelah mengantarkan Dira pulang ke rumah, kebetulan Elang juga masih ada di rumah.
"Arkan, baru pulang?" tanya Bunda Sinta.
"Iya, Bun. tadi antar Dira magang dulu," jawab Arkan.
"Kak, belum nikah kalian! jangan buatin ponakan dulu buat Elang," cletuk Elang.
"Elang!" teriak Bunda Sinta.
"Elang berangkat dulu! Kak, jangan senyum aja," ucap Elang lalu pergi ke kampus.
__ADS_1
"Dasar bocah!" kata Arkan.
"Kenapa juga kamu malam-malam ngajak Dira ke rumah? sudah tau di sana gak ada orang," kata Bunda Sinta.
"Arkan lagi bahagia aja, Bun. Dira mau pacaran sama Arkan, ngajak cuma nunjukin," jelas Arkan.
"Lain kali jangan malam-malam kalau ke sana," kata Bunda Sinta. Bunda gak enak sama Jeng Meri," Lanjutnya.
"Iya, Bunda! Arkan ke kamar dulu mau tidur," kata Arkan lalu meninggalkan Bunda nya.
Siang hari Arkan bangun dari tidurnya, di rumah sudah tidak ada orang. Ia teringat kalau tadi pagi belum meminta maaf pada Mamah Meri, lalu ia berangkat ke butik Mamah Meri.
Sampai di sana Arkan dipersilahkan masuk oleh karyawan Mamah Meri, ternyata Bunda Sinta sedang berada di sana. Kedua orang tua itu sedang sibuk menyiapkan pernikahan Arkan dan Dira.
"Tante, bisa bicara sebentar?" tanya Arkan.
"Arkan aja gak tau kalau Bunda ke sini," kata Arkan.
"Bicara apa? kita lagi sibuk ngurusin pernikahan kamu," kata Mamah Meri.
"Arkan mau minta maaf, Tante. udah ngajak Dira ke rumah tapi malah Dira ketiduran," jelas Arkan.
"Gak apa-apa, Arkan. Lain kali jangan di ulang," ucap Mamah Meri dengan lembut.
__ADS_1
"Dengerin itu, Ar!" sahut Bunda Sinta.
"Arkan sudah gede, Bun. Tau mana yang boleh dan tidak," kata Arkan.
"Dira juga salah, kalau malam kebiasaan gampang ngantuk di bangunin juga susah," kata Mamah Meri.
Mamah Meri dan Bunda Sinta sebenarnya sudah membicarakan soal ini, tadi sebelum Arkan datang. Arkan di butik sampai sore hari, ia menemani Bunda dan Mamah Meri.
Saat istirahat Luna dan Nisa menagih ucapan Dira, kenapa tidak jadi ke rumah Luna.
"Dira, sekarang jelaskan kenapa tadi malam kamu tidak datang," ucap Luna.
"Aku ketiduran di rumah Kak Arkan," kata Dira.
"Apa!" Nisa kaget.
"Iya, aku ketiduran. Gak sengaja juga," ucap Dira.
"Padahal kamu kalau sudah tidur susah di bangunin," kata Luna.
"Terus kamu ngapain aja, Dira?" tanya Nisa.
"Kita makan lalu ke rumah Kakak, aku ketiduran! gak ngapa-ngapain," jelas Dira.
__ADS_1
Mereka bercerita sambil menunggu Arkan menjemput Dira, Luna dan Nisa ikut memani Dira menunggu Arkan. Mereka tidak tega meninggalkan Dira sendiri di depan kantor.
Arkan belum sampai karena kena macet di jalan, kebetulan menuju tempat itu hanya ada satu jalan.