
Dira bangun pagi-pagi karena harus menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan suaminya, ia melakukan semua pekerjaan rumah sendiri karena belum ada asisten rumah tangga.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Arkan seraya memeluk Dira dari belakang saat sedang memasak.
"Dari tadi, Kak! Kok udah rapi? Kakak, mau ke kantor?" tanya Dira saat membalikkan badan dan melihat suaminya sudah rapi.
Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Arkan malah mencium bibir istrinya. Dira mendorong Arkan karena bau masakan gosong.
"Jadi gosong, Kak! gara-gara KaKak ini," ucapnya sembari mengangkat telur yang gosong.
"Mana taruh sini! jangan di buang, biar aku makan," kata Arkan seraya memberikan piring ke Dira.
"Kak, ini pasti udah gak enak di makan! Dira buatin lagi," kata Dira hendak mengambil telur lagi.
Arkan melarang Dira membuatkan telur goreng lagi, dia tetap memakan telur yang gosong tadi.
"Enak kok! ini cobain," ucap Arkan sembari menyuapi Dira.
"Kak, jangan bercanda! ini gak enak, Dira ingin seperti istri pada umumnya yang masak buat suaminya tapi kakak malah ganggu," kata Dira.
Arkan tersenyum melihat istri cantiknya mengerucutkan bibir, setelah selesai sarapan Arkan berpamitan pergi ke kantor.
Dira kemudian melanjutkan membersihkan rumah, karena kesepian ia lalu bermain dengan kucing kesayangannya.
__ADS_1
***
Bunda Sinta datang ke butik Mamah Meri, dia membawa mobil sendiri karena tidak ada yang mengantar. Para suami mereka sudah kembali ke luar kota.
"Jeng, kita jadi tidak ke rumah Arkan?" tanya Mamah Meri.
"Besok aja jeng, mereka malu nanti kita ledekin terus," jawab Bunda Sinta sembari melihat baju di butik Mamah Meri.
"Padahal aku pingin cek almari, bajunya sudah di pakai belum. Kalau gak di pakai gagal dong rencana kita, punya cucu lebih cepat," kata Mamah Meri.
"Sabar Jeng! mungkin mereka masih malu atau takut," ucap Bunda Sinta.
"Arkan suruh kesini sebentar, jeng. saya ingin bicara sebentar," kata Mamah Meri.
"Gimana, jeng?" tanya Mamah Meri yang sudah tidak sabar.
"Baru di jalan, jeng! Arkan dari kantor tadi," jawab Bunda Sinta.
Tak lama kemudian Arkan sampai juga di butik Mamah Meri, dia masuk ke dalam butik lalu duduk di sofa yang telah disediakan.
"Ada apa nyuruh Arkan kesini, Bunda?" tanya Arkan.
"Mamah kamu yang ada perlu," ucap Bunda Sinta.
__ADS_1
Saat ini Mamah Meri sedang melayani pelanggan, jadi Arkan ngobrol dulu dengan Bundanya.
"Arkan, Bunda boleh tidak main ke rumah kamu?" tanya Bunda Sinta mencari pembicaraan.
"Boleh Bun, asal oleh-oleh juga banyak," kata Arkan menggoda Bundanya.
Bunda Sinta kemudian memukul Arkan dengan tangannya, dia tau kalau Arkan sedang bercanda.
"Arkan, baju yang Mamah siapkan untuk Dira apa sudah di pakai belum?" sahut Mamah Meri.
"Belum, Mah! Dira tidak mau memakainya, sepertinya dia masih takut," jelas Arkan.
Mamah Meri kemudian meminta Arkan, agar lebih cepat memberikan dia cucu. Arkan tidak mau mengecewakan, dia juga bilang kalau akan berusaha semaksimal mungkin.
***
Di kampus Luna dan Nisa sangat kesepian karena Dira tidak ada, mereka kemudian bertukar pesan dengan Dira.
"Dira nyuruh kita main ke rumahnya, Nisa," ucap Luna seraya menatap layar ponselnya.
"Gak mau! biarkan mereka berdua menikmati hari tenang," kata Nisa.
"Kalau kita ganggu terus, nanti kita gagal punya ponakan," kata Luna.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian pergi ke taman kampus, untuk menunggu Elang.