Sahabat

Sahabat
Bab 76


__ADS_3

"Dira, sepertinya kita harus berpacaran dulu," kata Arkan.


"Aku tidak mau, Kak," tolak Dira.


"Kamu menolak ku?" tanya Arkan.


"Dira tidak mau pacaran. Ayo jalannya cepat, Kak!" jawab Dira, Arkan mengantarkan pulang Dira dengan berjalan kaki.


Sampai juga mereka di rumah Dira, Arkan hendak berpamitan pulang tetapi Vio melarangnya.


"Kak, ajarin Vio ngerjain tugas," ucap Vio.


"Nanti Kakak ajarin, Vio," sahut Dira.


"Tidak, Vio mau sama Kak Arkan," ucap gadis kecil itu, berlari ke arah Arkan sembari membawa buku.


"Ayo Kakak ajarin!" ucap Arkan. Duduk di kursi teras depan rumah Dira, Vio mengikuti Arkan.


"Vio, ajak Kak Arkan masuk," ucap Dira.


Dira masuk ke dalam rumah, dia masih canggung dengan Arkan.


"Kak, ayo kita ke dalam!" ajak Vio.


"Boleh," kata Arkan singkat, kemudian mengikuti Vio masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Tugas Vio sangat banyak, dia selalu menolak setiap Dira akan membantunya. Vio lebih suka belajar dengan Elang.


"Vio, kamu bisa minta tolong Kak Dira kalau tidak bisa mengerjakan," kata Arkan.


"Gak mau! Kak Dira saja kalau mengerjakan tugas nyontek Kak Luna, gimana mau bantu Vio," jelas Vio.


Dira datang dengan membawa secangkir kopi untuk Arkan, dia langsung melotot ke arah Vio.


"Biasanya juga sama Elang, ngapain gak minta tolong Elang," sahut Dira, sembari meletakkan nampan yang berisi secangkir kopi di meja.


"Kak Elang lagi sibuk," ucap Vio.


"Sudah jangan debat, ayo Vio kerjakan lagi!" kata Arkan.


"Mamah pinter milih calon Kakak ipar buat Vio," ucap Vio disela- sela mengerjakan tugas.


"Taulah, Kak. Mereka merencanakan sudah lama," jawab Vio. Tapi, Kak Arkan harus sabar menghadapi Kak Dira," Lanjutnya.


Dira sangat geram pada adiknya, ingin rasanya dia cubit pipi tembem Vio. Anak kecil itu pintar bicara, sering menjadi pendengar Mamah Meri dan Bunda Sinta saat membuat Kue.


"Vio, Dira, aku pulang dulu!" pamit Arkan.


"Jangan pulang dulu, Kak! temani Vio sampai Mamah pulang," ucap Vio.


"Vio, lebay deh!" kata Dira.

__ADS_1


"Ada Kak Dira, Vio. Tugasnya juga sudah selesai semua, kan?" ucap Arkan.


Vio tetap tidak mau di rumah dengan Dira, karena Dira akan tidur saat menemani Vio. Arkan pun mengalah, sudah berbagai alasan dia katakan tetap saja Vio tidak mau di tinggal.


"Kak, Vio ke kamar dulu," ucap Vio, sambil membereskan buku yang ada di meja.


"Kalau lama nanti Kakak pulang," kata Arkan.


"Vio pantes jadi adik kamu, Kak," sahut Dira. Bawa pulang sana," Lanjutnya.


"Bentar lagi aku bawa pulang kamu," ucap Arkan, tersenyum ke arah Dira.


Dira mengerucutkan bibirnya saat mendengar ucapan Arkan, tidak biasanya Arkan seperti itu. Hari ini dia berani menggoda Dira.


Yang di tunggu akhirnya datang juga, Mamah Meri dan Bunda Sinta baru pulang. Kebetulan Bunda Sinta mampir ke rumah Dira, jadi bertemu dengan Arkan.


"Arkan, kamu sudah di sini?" tanya Bunda Sinta, saat melihat Arkan.


"Iya, Vio tidak mau di tinggal pulang," kata Arkan.


"Vio sudah tidur," sahut Mamah Meri, yang baru saja menengok Vio di kamarnya.


"Kita di kerjain, Kak," kata Dira.


"Besok kalau kalian sudah menikah, Dira tidak boleh memanggil Arkan Kakak," ucap Mamah Meri.

__ADS_1


Dira protes mendengarkan ucapan Mamahnya,


__ADS_2