
Pulang dari kampus Luna dan Nisa pergi ke rumah Dira, mereka akan belajar membuat kue bersama Mamah Meri.
"Tante, Nisa bagian tes rasa aja boleh tidak?" tanya Nisa.
"Tidak boleh begitu Nisa, kita harus berkerjasama," sahut Luna.
"Boleh, tapi sekarang bantu pecahin telur dulu," ucap Mamah Meri.
"Dira bagian melihat saja," ucap Dira.
"Semua harus kerja, ya," kata Mamah Meri.
Dengan berkerja sama akhirnya mereka bisa membuat kue dengan hasil yang memuaskan, mereka mencoba membuat kue kedua dengan tekstur yang berbeda. Tadi mereka membuat kue basah, sekarang mencoba membuat kue kering.
"Cetakan ini lucu sekali," ucap Luna.
"Bagus punyaku Luna, ini bentuk hati," kata Nisa.
"Punyaku kenapa beda sendiri, bentuk kucing," ucap Dira.
"Anggap saja itu cici, Dira," kata Mamah Meri.
"Mah, harusnya punya Dira sama dengan punya Luna dan Nisa," protes Dira.
Mamah Meri memang sengaja memberikan cetakan yang berbeda, karena memang di toko habis saat membelinya.
__ADS_1
"Ini punya ku sudah selesai," kata Dira.
Nisa menambahkan adonan kue yang di cetak ke wadah Dira yang sudah kosong, dengan alasan kita kerjasama.
"Nisa, kenapa dituang ke wadah ku," protes Dira.
"Kita harus berkerjasama, Dira yang cantik," ucap Nisa.
"Curang itu namanya, Nisa. Kita sudah diberikan bagian yang sama," kata Luna.
Mereka bertiga masih seperti anak kecil, Mamah Meri hanya memperhatikan dengan senyum-senyum sendiri.
Setelah melalui drama panjang, karena Nisa yang curang dan hanya bicara terus akhirnya acara membuat kue selesai juga.
Hasil pembuatan kue mereka bagi menjadi tiga bagian, mereka membagi dengan sangat adil. Luna dan Nisa berpamitan untuk pulang karena hari sudah mulai sore.
"Luna, gawat kue ku tinggal sedikit," ucap Nisa.
"Kamu lupa pesan dari tante Meri, makan setelah sampai di rumah," kata Luna.
"Habis aku lapar sekali," ucap Nisa.
"Tadi kita di rumah Dira sudah makan, Nisa," kata Luna.
"Hehehe... aku mau nambah malu," ucap Nisa, dengan cengengesan.
__ADS_1
Luna heran dengan temanya yang satu ini, kalau makan tidak tau kapan kenyang nya. Dengan ikhlas dia memberikan sedikit kue nya untuk Nisa.
"Makasih ya, Luna. Kamu memang sahabat terbaik," ucap Nisa sambil memeluk Luna.
"Lepaskan, Nisa!" ucap Luna, karena Nisa memeluknya terlalu erat.
Mereka bertiga sangat berbeda tetapi saling melengkapi, terutama bagi yang sangat membutuhkan pasti akan mereka bantu.
***
Dion sore ini datang ke rumah Arkan, dia menceritakan tentang Riri yang mengusirnya saat dia datang ke rumahnya.
"Arkan, sepertinya aku gagal membawa Riri kembali," ucap Dion dengan putus asa.
"Kamu belum mencobanya lagi, jangan sampai Riri terjerumus lebih dalam ke dunia malam," kata Arkan.
"Bagaimana caranya?" tanya Dion.
"Datang lagi ke sana dan bujuk Riri dengan pelan, pasti dia mau," jawab Arkan.
"Belum juga bicara sudah di usir," kata Dion, menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Kita coba ke sana lagi, mungkin besok lusa baru bisa," kata Arkan.
"Hari libur? bagaimana dengan Elin, dia juga ngajak jalan. Kalau aku ajak tidak mungkin," kata Dion.
__ADS_1
Dion malah memikirkan orang lain, bukan masalah yang telah dia perbuat. Kadang sifat Dion yang begini membuat Arkan kesal.
Masalah dengan Riri harus Dion selesaikan terlebih dahulu, baru urusan yang lain. Karena dia yang bersalah maka harus bertanggung jawab.