Sahabat

Sahabat
Bab 41


__ADS_3

Sisil saat ini sedang bertemu dengan Leo di sebuah cafe.


"Sisil, kamu kemana saja beberapa hari ini? kamu mau menghindari aku ya?" tanya Leo.


"Tidak Leo, aku ada acara saja kemarin," jawab Sisil.


"Kenapa aku telepon tidak di angkat?" tanya Leo lagi.


"Kamu gak tau kesibukan orang saja," kata Sisil.


"Emang kamu sibuk apa?" Leo bertanya lagi, karena dia curiga ada yang sedang Sisil sembunyikan.


"Begini Leo, kamu saja sukanya sama Dira. Kenapa peduli dengan kesibukan aku," kata Sisil


Leo lalu menjelaskan kalau dia sudah menganggap Sisil sebagai sahabatnya, tetapi Sisil tidak terima kalau hanya di anggap sebagai sahabat. Sisil ingin mempunyai hubungan yang lebih dengan Leo bukan hanya sebatas sahabat atau teman.


"Kamu harus paham dengan maksud ku," kata Leo.


"Tapi, aku tidak mau hanya sekedar sahabat," ucap Sisil.


"Sisil, kalau aku terpaksa nanti ujungnya tidak baik mending kita temenan," jelas Leo.


"Apa yang menarik dari Dira?" tanya Sisil.


"Dira itu baik, ramah, mandiri, cantik," jawab Leo.


Mendengar jawaban Leo memuji Dira, Sisil pergi begitu saja meninggalkan Leo. Dia tidak terima dengan pujian yang di ucapkan Leo untuk Dira.


"Sisil!" teriak Leo.


Tetapi Sisil sudah berlari menjauh dari meja mereka, saat Leo mau mengejar Sisil pelayan cafe sudah datang mengantarkan pesanan.


"Ini pesanan kakak, silahkan di nikmati," ucap pelayan cafe dengan ramah.


"Mbak, bisa temani saya makan?" tanya Leo pada pelayan itu.


"Tapi, saya harus berkerja kak," tolak pelayan itu dengan lembut.


"Nanti saya izinkan sama bos kamu," kata Leo.


"Gimana ya, kak," ucap pelayan itu.


Leo kemudian meminta izin pada pemilik cafe dan pelayan itu di perbolehkan menemani Leo makan.


Dari pada di buang mending di makan orang begitu maksud Leo sebenarnya.


Setelah selesai makan Leo meninggalkan cafe itu, dia berencana akan pergi ke rumah Sisil. Dia tidak enak dengan Sisil takut melukai perasannya.


"Kenapa jadi begini, apa iya aku harus pura-pura suka sama Sisil," gerutu Leo.


Leo kemudian datang ke rumah Sisil, dia berusaha menjelaskan kepada Sisil. Tetapi Sisil tetap pada pendiriannya, membuat Leo kesal.


"Kalau aku terpaksa pura-pura suka sama kamu, apa bisa membuat kamu bahagia?" tanya Leo.


"Pastilah aku bahagia, asal kamu berusaha untuk suka sama aku," ucap Sisil.


"Cinta tidak bisa dipaksakan Sisil, yang ada entar kita jadi musuh," jelas Leo.

__ADS_1


"Kita tidak ada yang tau, bisa jadi seiring berjalannya waktu akan tumbuh rasa itu," Sisil masih saja berusaha meyakinkan Leo.


Leo tidak bisa menjawab sekarang, dia butuh waktu untuk memikirkan lagi.


***


Di kampus.


Dira, Luna dan Nisa saat ini sedang berada di taman kampus, mereka sedang mengerjakan tugas untuk besok.


"Kalian belum pulang?" tanya Elang.


"Kita banyak tugas Elang," jawab Luna.


"Bantuin kakak ganteng," sahut Nisa.


"Kebiasaan kalau ada maunya," ucap Elang.


"Kamu pulang aja dulu, kalau di sini hanya gangguin kita!" kata Dira.


Elang di mata mereka bertiga kali ini banyak salahnya, nafas pun mungkin juga salah. Kemudian Elang meninggalkan mereka bertiga.


Padahal Elang punya niat baik, dia ingin mengantarkan mereka bertiga pulang tetapi dia sekarang mudah tersinggung. Apalagi ucapan Dira, baginya sangat sensitif.


"Elang tadi kesini mau apa, ya?" tanya Dira.


"Mungkin ada sesuatu yang penting, kenapa kamu suruh pergi, Dira?" tanya Nisa.


"Aku hanya bercanda tadi," kata Dira.


Mereka lalu fokus dengan tugasnya lagi, biasanya kalau dikerjakan secara bersamaan mereka akan mendapatkan nilai bagus.


Setelah selesai mereka merapikan buku yang berserakan miliknya.


"Pulang ke rumah ku saja, yuk!" ajak Luna.


"Sudah sore Luna, lain kali saja," tolak Nisa.


"Iya, takut kemalaman nanti kita pulangnya," sahut Dira.


"Kenapa sekarang kalian banyak alasan? di ajak ke rumah saja tidak mau," gerutu Luna.


Nisa kemudian menceritakan kejadian saat pulang dari rumah Luna, sampai harus ke rumah Dira terlebih dahulu dan merepotkan Elang pada akhirnya.


Mereka masih takut kejadian itu terulang lagi, sekarang mereka kalau pergi selalu hati-hati.


"Dira, apa kabar?" sapa Leo, yang baru saja datang dan menyusul mereka di taman.


"Leo, kita baik kok," ucap Dira.


"Boleh aku duduk dengan kalian?" tanya Leo.


"Tapi, kita baru saja mau pulang," ucap Nisa.


"Bagaimana kalau aku antar kalian?" tawar Leo, membuat Dira kesal.


"Tidak, kita bisa pulang sendiri," tolak Luna.

__ADS_1


Leo tidak berhasil membujuk mereka bertiga, perjuangan Leo tidak hanya di situ, dia masih mengikuti mereka bertiga sampai didepan kampus.


Sisil mengetahui hal itu, dia langsung menghampiri mereka.


"Leo, aku cari kamu ternyata di sini," ucap Sisil.


"Tuh, ada yang nyariin Leo," sahut Dira, lalu mengajak teman-temanya untuk segera masuk ke dalam angkot.


Setelah Dira dan teman-temannya pergi, Leo marah dengan Sisil.


"Kamu bisa tidak jangan ganggu orang!" bentak Leo.


"Ganggu apa?" tanya Sisil.


"Kalau kamu seperti itu kapan aku bisa dekat dengan Dira," ucap Leo.


Leo kemudian meninggalkan Sisil sendiri, dia sudah terlanjur kesal dengan Sisil.


"Leo!" teriak Sisil.


Sisil mengikuti Leo yang berjalan menuju tempat parkir mobilnya. Dia meminta Leo untuk mengantarkan pulang.


"Leo, kenapa kamu jadi laki-laki tidak bertanggung jawab," ucap Keke, yang tiba-tiba berada di tempat parkir.


"Diam kamu! jangan ikut campur urusan orang," kata Leo.


"Gak usah nyolot kamu, aku ngomong apa adanya," ucap Keke.


"Jangan ribut kalian," ucap Sisil.


Leo semakin kesal dengan Sisil karena Keke yang selalu ikut campur urusan orang. Dia lalu meninggalkan keberadaan Sisil dan Keke.


"Kenapa juga kamu tiba-tiba muncul? Leo gak jadi antar aku pulang," ucap Sisil.


"Kenapa kamu menyalahkan aku, justru aku belain kamu Sisil," ucap Keke.


Sisil kemudian meminta Keke untuk mengantarkannya pulang, Keke dengan terpaksa mau mengantarkan Sisil.


***


"Dira, kamu baru pulang?" tanya mamah Meri.


"Iya mah, tadi kita mengerjakan tugas dulu," jawab Dira.


"Mamah berencana akan datang ke rumah Luna dengan tante Sinta, boleh kan?" tanya mamah Meri.


"Boleh mah, ada apa mau ke rumah Luna?" tanya Dira.


"Kita kemarin beli oleh-oleh banyak belum sempat antar ke sana," jelas mamah Meri.


Dira kemudian bercerita tentang keadaan Luna, dia merasa kasihan dengan Luna. Mamah Meri juga sudah tau semua dari Elang.


"Kamu ikut tidak ke rumah Luna?" tanya mamah Meri.


"Kalau sekarang tidak, mah," ucap Dira.


Mamah Meri sedang menunggu kedatangan Elang dan bunda Sinta. Tetapi mereka tidak kunjung datang karena masih ada kesibukan.

__ADS_1


__ADS_2