Sahabat

Sahabat
Bab 78


__ADS_3

Kali ini Elang mengantarkan Nisa ke rumahnya terlebih dahulu, baru ke rumah Luna. Saat berada di jalan Elang bertanya kepada Luna, apakah dia diperbolehkan mampir di rumah Luna atau tidak.


Luna memperbolehkan Elang mampir dirumahnya, kebetulan dia tidak terlalu sibuk. Biasanya sepulang dari kampus Luna membantu Ibunya membuat makanan, karena sudah tidak berjualan sendiri makanan itu di titipkan.


"Kamu tidak sibuk, Lun!? takutnya ganggu kamu sama Ibu," kata Elang, saat berada di rumah Luna.


"Tidak Elang, kalau siang Ibu harus istirahat," ucap Luna.


Semenjak sakit Ibu Luna sudah tidak berjualan makanan lagi, saat ini Luna yang membantu Ibunya membuat makanan dan di titipkan ke tetangga.


Luna masuk ke dalam rumah membuatkan minuman untuk Elang.


"Lama sekali kamu, Lun? ngapain aja?" tanya Elang.


"Buat minuman," ucap Luna, meletakkan nampan yang berisi dua gelas minuman di meja. Minum dulu, Elang!" Lanjutnya.


"Baik banget kamu, Luna," kata Elang, memuji Luna.


Elang rupanya baru sadar kalau Luna itu anak yang baik, dari dulu Luna adalah sahabat paling pengertian di banding lainnya.


"Harus dong! gak kaya kamu kalau kesini pasti ada apanya," ucap Luna.


"Jangan nyindir gitu juga, aku butuh teman untuk cerita," kata Elang.


"Emang kamu mau cerita apa? Dira lagi atau Kak Arkan?" tanya Luna.


Elang bercerita pada Luna, kalau dirinya sudah mulai bisa menerima Dira sebagai calon Kakak iparnya. Walaupun setiap hari harus melihat kebahagiaan kakaknya dia ikhlas.

__ADS_1


"Sekarang aku mengerti kenapa Bunda menjodohkan Kakak dengan Dira," kata Elang.


"Kamu sebagai adik yang baik memang harus mengalah, Elang," ucap Luna.


"Pasti itu, Dira saja mau menerima dan tidak menolak berarti dia juga suka sama Kakak," ucap Elang, padahal Dira menerima karena orang tuanya bukan karena suka. Hati Dira untuk siapa tidak ada yang tau, karena Dira tidak pernah cerita kepada siapapun soal perasaannya.


"Kalau aku jadi Dira juga tidak menolak, siapa coba yang tidak mau dijodohkan dengan laki-laki yang tampan mapan lagi," kata Luna.


"Apalagi Dira cantik, pemberani, mandiri lagi tapi suka berantem," kata Elang.


"Serasi ya, Elang," ucap Luna.


"Banget, makanya Dira milih Kakak dari pada aku," kata Elang, dengan wajah sedihnya.


Luna tidak terima Dira di bilang suka berantem, karena Luna tau kalau Dira hanya membela diri. Elang kesal dengan Luna, dia kemudian berpamitan pulang.


"Luna, aku pulang saja!" ucap Elang.


"Tidak kok, aku ke sini butuh teman untuk bercerita. Kamu bisanya malah nambah kesal, Luna," kata Elang.


"Luna, minta maaf sama Elang!" sahut Ibunya, yang tidak sengaja mendengar percakapan Luna dan Elang.


Luna kemudian meminta maaf kepada Elang, sesuai dengan apa yang Ibunya perintahkan.


"Nak Elang, kita sebagai manusia harus belajar mengikhlaskan apa yang tidak ditakdirkan untuk kita. Begitu juga dengan apa yang kita terima harus pandai mensyukurinya," kata Ibu Luna.


"Iya, Bu. Ini juga baru membiasakan diri untuk menerima kenyataan," ucap Elang.

__ADS_1


"Ayo kita masuk ke dalam! kita makan dulu!" ajak Ibu Luna.


Elang menolak, dia berpamitan untuk pulang dengan alasan Bundanya sudah menunggu. Ibu Luna juga tidak memaksa Elang.


"Luna, lain kali kalau ada teman bercerita kasih solusi jangan di ledek," ucap Ibunya, saat Elang sudah pergi meninggalkan rumah Luna.


"Bu, tiap hari Elang juga cerita begitu terus," kata Luna.


"Kamu bisa mendengarkan, Luna. Elang anak yang baik, jangan seperti itu," ucap Ibunya.


Luna saat ini di beri banyak nasehat oleh Ibunya, walaupun mereka orang tidak punya setidaknya selalu baik kepada siapapun. Mau mendengarkan keluh kesah orang lain, yang membutuhkan tempat bercerita.


***


"Kak, ayo kita pulang! Kakak belum mandi, kan?" ucap Dira. Arkan membawa Dira ke toko buku terdekat saat pulang dari kampus tadi.


"Siapa bilang? aku bangun tidur langsung mandi, apalagi mau antar kamu," ucap Arkan.


Arkan menyuruh Dira untuk membaca buku, agar tidak mengajaknya pulang.


"Buku apa ini, Kak?" tanya Dira, sambil menyandarkan kepalanya di meja.


"Di baca dulu makanya biar tau," kata Arkan.


"Kak, bawa pulang boleh?" tanya Dira lagi.


"Bayar dulu, baru boleh di bawa," jawab Arkan, menoleh ke arah Dira.

__ADS_1


Dira mengerucutkan bibirnya, lalu memulai membaca buku yang di beri oleh Arkan tadi. Selembar demi selembar dia baca, ternyata isi buku itu sangat menarik. Dira menyukai buku itu dan hendak dia beli.


Arkan masih sibuk memilih-milih buku, Dira menuju di mana Arkan berada.


__ADS_2