
"Kakak, gimana ini? Dira belum selesai kuliah, masa harus nikah," ucap Dira mengerucutkan bibirnya.
"Semua pasti akal-akalan Bunda biar kita cepat nikah, maafkan Bunda, sayang," ucap Arkan dengan lembut seraya mengelus kepala Dira dan menyandarkan di pundaknya.
"Bunda gak salah, tetapi Kakak yang salah. Kenapa juga tadi gak pakai baju langsung main bungkam mulut Dira," kata Dira.
Arkan meminta maaf pada Dira, lalu mencium keningnya dengan lembut.
"Kalian berdua menodai mata ku saja," ucap Elang yang baru saja pulang melihat Arkan dan Dira duduk bersebelahan.
"Kita lagi pusing, jangan ngeledek, Elang," kata Dira.
Elang kemudian duduk dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya, Arkan menceritakan kejadian tadi pada Elang. Dia justru tertawa mendengar cerita Kakaknya.
"Sebenarnya aku juga gak sabar mempunyai ponakan," ucap Elang.
"Elang!" teriak Dira.
***
__ADS_1
Bunda Sinta saat ini menemui Mamah Meri, ia memberitahukan hal ini pada Mamah Meri.
"Gimana jeng? berhasil tidak rencana kita?" tanya Mamah Meri.
"Jeng, sebenarnya aku kasihan sama Dira. Kelihatan sedih sekali, apa tidak keterlaluan," jelas Bunda Sinta.
"Tidak usah khawatir, Jeng! Dira urusan saya," kata Mamah Meri sangat senang.
Sebenarnya semua ini permintaan Mamah Meri, tiga hari yang lalu dia menghadiri arisan bersama teman sosialita nya. Kebetulan dia sendiri yang belum mempunyai cucu, semua temannya adalah nenek muda.
Kemudian Mamah Meri menemui Bunda Sinta, agar meminta Arkan segera menikahi Dira. Bunda Sinta mau saja dan senang kalau pernikahannya di percepat. Lalu Bunda Sinta menyampaikan semua ke Arkan, tetapi Arkan bilang kalau mau menunggu Dira selesai kuliah.
Bunda Sinta mengajak Mamah Meri untuk ke rumahnya, untuk membicarakan hal ini dengan keluarga. Setelah selesai Mamah Meri mengajak Dira untuk pulang, dan istirahat karena sudah malam.
"Arkan, kamu mau bikin orang tua malu saja! tunggu sampai kalian menikah," tegur Ayahnya yang kebetulan baru pulang.
"Tanya Bunda aja, Yah! Arkan gak apa-apain Dira," ucap Arkan.
"Benar, Bun?" tanya Ayah Arkan.
__ADS_1
Bunda Sinta terpaksa mengatakan semua, dia sendiri juga bilang kalau sudah tidak sabar untuk mempunyai menantu dan cucu. Ayah Arkan juga senang anaknya akan segera menikah, tetapi cara Bunda Sinta dan Mamah Meri tetap salah menurutnya.
"Kak, yang sabar! belum nikah di suruh cepat nikah, nanti sudah nikah di minta cucu," ucap Elang seraya menepuk pundak Arkan.
"Anak kecil jangan ikut-ikut tidur sana," kata Arkan.
***
Mamah Meri pagi ini membangunkan Dira, dia menyuruhnya untuk segera mandi dan berangkat kuliah.
"Mah, Dira gak mau berangkat kuliah," ucap Dira seraya membenarkan selimutnya untuk kembali tidur.
"Nanti nilai kamu jelek gimana? buruan bangun!" kata Mamah Meri sembari mengoyak tubuh Dira agar bangun dari tidurnya.
"Sebentar lagi Dira juga nikah, jadi gak perlu bagus nilainya," terang Dira.
Mamah Meri lalu keluar dari kamar Dira, ia tidak mau memaksa Dira lagi. Tak lupa ia berpamitan mau pergi ke butiknya, karena hari ini banyak pelanggan yang datang.
Di kampus Luna dan Nisa menunggu Dira, mereka tidak tau kalau hari ini Dira tidak berangkat. Luna mengirim pesan ke Dira tetapi belum juga di balas, karena Dira saat ini benar-benar tertidur.
__ADS_1