
Luna mengajak Nisa untuk masuk ke dalam kampus, karena Dira tidak datang dari tadi. Kebetulan Elang juga baru sampai di kampus dan memberitahu kalau Dira tidak datang. Tadi Elang sempat bertemu dengan Mamah Meri saat hendak ke kampus.
"Kalian ngapain masih di sini?" tanya Elang sembari berjalan di depan Luna dan Nisa.
"Nungguin Dira, Kakak ganteng," jawab Nisa tersenyum ke arah Elang.
"Gak usah di tunggu! ayo kita masuk saja!" ajak Elang menghentikan langkahnya menunggu Luna dan Nisa.
"Kamu ngada-ada, Elang. Kita hari ini ada janji pergi ke toko bahan kue," ucap Nisa.
"Siapa tau Dira bareng Kak Arkan," sahut Nisa.
"Terserah kalian saja," kata Elang lalu pergi meninggalkan Luna dan Nisa.
"Bisa jadi benar yang Elang bilang, ayo kita tunggu di kelas saja!" ajak Luna.
Luna dan Nisa kemudian masuk ke kelas, tetapi hari ini mereka terlambat masuk. Untung saja dosen yang mengajar baik, jadi mereka bisa mengikuti pelajaran.
***
Arkan hendak menjemput Dira di rumahnya untuk berangkat ke kampus, tetapi di rumah tidak ada orang. Mengirim pesan ke Dira tetapi tidak juga di jawab, ia lalu menelepon Mamah Meri. Jadi Arkan tau kalau saat ini Dira berada didalam rumah, Arkan langsung masuk ke dalam rumah dan membangunkan Dira.
"Kak, Dira masih ngantuk," ucap Dira membenarkan selimut yang di tarik oleh Arkan.
"Cepat bangun! kita berangkat ke kampus," ucap Arkan.
"Percuma Kak, nanti sampai di kampus juga sudah telat. Dira juga udah gak mau kuliah lagi," jelas Dira menutup wajahnya dengan selimut.
"Alasannya apa? walaupun kita nanti menikah, kamu masih bisa kuliah," kata Arkan terus memaksa Dira.
"Boleh kerja juga?" tanya Dira sembari bangun dari tidurnya lalu duduk.
Arkan lalu memberitahu Dira, kalau soal kerja ia belum mengizinkan. Karena Arkan belum tau nanti bagaimana setelah menikah, apalagi kelihatan sekali kalau Dira masih seperti anak kecil.
"Kak, Dira mandi dulu," ucapnya lalu mengambil handuk dan ganti baju kemudian masuk ke kamar mandi.
"Jangan lama-lama!" teriak Arkan sembari merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Selesai mandi Dira mendapati Arkan yang sedang tertidur, ia lalu membangunkan dan mengajaknya untuk sarapan.
__ADS_1
"Kak, antar Dira ke panti saja," kata Dira di sela-sela sarapan paginya.
"Untuk apa pergi ke sana? besok saja! sekarang kita harus segera ke kampus dulu," ucap Arkan.
"Dira sudah bilang dari tadi tidak mau ke kampus, Kak! dari pada di rumah sendiri ke sana ada temannya," terang Dira.
"Tau dari tadi kalau nggak mau pergi saya tinggal," ucap Arkan dengan kesal. Dia di rumah sampai tidak sarapan karena buru-buru mau mengantarkan Dira ke kampus.
"Siapa juga yang suruh nungguin?" tanya Dira.
Akan lalu mencubit pipi Dira dengan gemas, walaupun dipaksa bagaimana pun Dira tetap tidak mau untuk berangkat ke kampus. Kemudian Arkan mengalah dia mengantarkan Dira ke panti. Kebetulan juga hari ini dia tidak ada jadwal mengajar, jadi dia bebas tetapi harus tetap ke kantor.
Dira tersenyum senang karena dituruti permintaannya oleh Arkan, kemudian dia memberanikan diri mencium pipi Arkan.
"Sejak kapan kamu nakal begini?" tanya Arkan kaget bercampur senang.
"Sejak Kakak ngajarin Dira," jawabnya malu-malu dan menundukkan kepala.
Setelah sampai di panti, mereka tidak sengaja bertemu dengan Elin dan Dion. Dira bertambah senang, karena Arkan tidak jadi pergi ke kampus.
Ibu panti menyuruh Arkan dan Dira untuk duduk, beliau juga menjelaskan kalau Dion dan Elin akan segera menikah. Arkan kaget mendengar ucapan Ibu panti, dia tidak mengira kalau Dion akan secepat ini menikah.
"Iya, Dira. Secepatnya kita akan menikah," jawab Elin dengan tersenyum.
"Kita turut berbahagia, Elin," sahut Arkan.
Arkan kemudian mengajak Dion untuk berbicara berdua, karena ada sesuatu yang perlu Arkan sampaikan ke Dion.
"Kamu tenang saja, saya pasti jaga Elin dengan baik," ucap Dion yang sudah mengerti tujuan Arkan mengajaknya untuk berbicara.
"Bagus! kamu harus berubah. Kasian Elin, dia tidak seperti wanita lainnya," kata Arkan.
Dion menjelaskan ke Arkan kalau orang tuanya juga sudah menyetujui pernikahan mereka, Arkan sangat lega mendengar penjelasan Dion.
"Bagaimana dengan Rere?" tanya Arkan.
"Dia juga sudah ikhlas kalau kita menikah, bahkan dia juga sudah punya kekasih," kata Dion.
"Oh... semoga saja dia juga bahagia dengan pilihannya," kata Arkan.
__ADS_1
"Gimana tidak bahagia, pacarnya seorang duda kaya," kata Dion sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dion kemudian mengajak Arkan untuk kembali ke tempat Dira dan Elin berada, dia tidak mau di anggap menyembunyikan sesuatu pada Elin. Soal Rere semuanya sudah Dion ceritakan.
Dira dan Elin sedang bermain dengan anak-anak panti, mereka sangat senang karena di sambut dengan baik. Mereka juga ada yang sedih karena Elin sebentar lagi menikah dan tidak mungkin tinggal bersama mereka lagi.
"Elin, kamu benar siap untuk menikah?" tanya Dira yang merasa masih ragu untuk menikah.
"Siap gak siap, memang kita mau lajang terus kan tidak mungkin," kata Elin. Bukannya kamu juga akan menikah," Lanjutnya.
"Aku belum siap sebenarnya, tapi pernikahan ku sama Kak Arkan harus segera dilangsungkan," kata Dira.
Elin menasehati Dira, agar ia mau menerima dengan ikhlas apapun kekurangannya.
"Bukan masalah kurang tidaknya," ucap Dira.
"Terus? kamu belum siap?" tanya Elin.
"Iya, aku masih ingin belajar tetapi sudah kemauan orang tua kita juga," kata Dira.
Menikah bukanlah permainan jadi mereka harus memikirkan dengan matang, apalagi sifat mereka kadang masih seperti anak kecil.
Karena sudah puas bermain dengan anak-anak Dira dan Arkan berpamitan untuk pulang. Arkan juga harus segera pergi ke kantor.
Dira yang sangat malas ketika di ajak ke kantor terpaksa mengikuti ajakan calon suaminya itu, Karena Dira pasti akan berantem ketika bertemu dengan Laura.
"Kak, antar Dira pulang dulu," ucap Dira memberanikan diri.
"Sayang, kamu tidak takut aku di ganggu Laura?" tanya Arkan.
"Pecat saja kalau ganggu," kata Dira sambil melirik Arkan.
"Tidak segampang itu, Laura orang yang sangat rajin," kata Arkan membuat Dira mengerucutkan bibirnya.
Dira lalu memalingkan mukanya ke arah kaca, sedangkan Arkan tersenyum melihat Dira yang cemburu.
Sampai di kantor Dira tidak mau ikut masuk, dia menunggu di taman kantor. Dira sangat malas bertemu dengan Laura.
Laura sendiri juga tidak suka jika ada orang yang dekat dengan Arkan, alasannya karena dia pernah menaruh hati tetapi tidak tersampaikan. Dia malu mengatakan, Arkan sendiri juga tidak pernah merespon Laura kecuali masalah pekerjaan.
__ADS_1