Sahabat

Sahabat
Bab 80


__ADS_3

Dira menuruti perkataan Arkan untuk beristirahat, sudut bibirnya masih terasa perih.


Mamah Meri ternyata ada benarnya juga, melarang Dira untuk tidak ke kampus terlebih dulu. Dira merenung dan menyesal karena sudah membangkang.


"Dira, gimana sudah baikan belum?" tanya Arkan, dia khawatir dengan keadaan Dira sehingga meminta dosen lain untuk mengisi jam mengajarnya.


"Mendingan, Kak," jawab Dira.


"Sekarang ceritakan kejadian tadi pagi!" kata Arkan.


"Jangan di bahas lagi, Kak," ucap Dira, menolak menjelaskan kejadian tadi pagi. Yang Dira takutkan Arkan marah pada Sisil dan mengeluarkan dari kampus.


"Yakin? kamu tidak mau cerita?" tanya Arkan, penuh dengan tekanan.


"Kakak, aku baik-baik saja! sudah tidak perlu di perpanjang lagi masalah ini," kata Dira.


"Dira, aku tidak suka kamu berantem! ayo kita pulang!" ajak Arkan.


Arkan mengantarkan Dira pulang ke rumahnya, Mamah Meri dan Papah Dira kaget melihat putrinya pulang dengan keadaan pipi merah dan sudut bibirnya terluka.


"Dira, kamu kenapa? bibir kamu berdarah," ucap Mamah Meri. Tadi Mamah sudah bilang tidak usah ke kampus," Lanjutnya.


"Biasa Tante, berantem sama Sisil," ucap Arkan.


Papah Dira heran dengan putri nya itu, karena sering berantem. Waktu masih muda Papah Dira tidak pernah berantem.


"Kalian ini punya dendam apa sebenarnya? kenapa selalu ribut," kata Mamah Meri.


"Kakak mau jadi jagoan, Mah," sahut Vio, menjulurkan lidah ke arah Dira.


"Vio!" teriak Dira.


"Dira, dulu waktu masih sekolah Papah tidak pernah berantem. Kenapa kamu sering berantem?" tanya Papah Dira.


"Ini semua karena Dira tadi di antar sama Papah," jawab Dira.


"Apa hubungannya?" tanya Arkan.


"Kakak, kaya gak tau Sisil aja! belain dia terus," ucap Dira, mengerucutkan bibirnya. Membuat Arkan semangat untuk mengerjai Dira.


Arkan berpamitan untuk pergi ke kantor, tetapi Papah Dira melarangnya. Papah Dira ingin membicarakan soal pertunangan dan soal bisnis.


Papah Dira menyuruh Arkan masuk ke ruang kerjanya, Dira ingin mendengar tetapi tidak di izinkan.


"Arkan, sebelumnya om minta maaf karena sudah menjodohkan kamu dengan anak om. Apa kamu bersedia?" tanya Papah Dira.


"Tentu saja, om," jawab Arkan.

__ADS_1


"Kamu tidak terpaksa, kan?" tanya Papah Dira.


"Sebelum dijodohkan Arkan sebenarnya sudah suka sama Dira, om. Bahkan saat belum tau Arkan di jodohkan dengan siapa, hati ini sangat sedih. Kebetulan Bunda keceplosan kalau Dira yang akan dijodohkan dengan Arkan, rasanya sangat bahagia," jelas Arkan.


"Maafkan Dira juga kalau masih canggung, mungkin karena belum terbiasa," kata Papah Dira.


"Om tenang saja! semoga Dira bisa menerima Arkan," ucap Arkan.


Di ruang keluarga Dira panik, dia penasaran apa yang dibicarakan oleh Arkan dan Papahnya.


"Kakak, kaya setrika aja mondar-mandir dari tadi," ucap Vio, yang sedang duduk sambil menikmati roti kering buatan Mamah Meri.


"Anak kecil diam aja," kata Dira.


"Duduk dulu, Dira!" kata Mamah Meri.


"Mah, Dira penasaran apa yang diomongin sama Papah. Jangan-jangan Kak Arkan ngadu lagi," kata Dira.


"Gak baik main nuduh, nanti tunggu Papah kamu," ucap Mamah Meri.


Dira khawatir kalau Arkan ngadu ke Papahnya, soal Dira sering berantem dan bikin masalah.


***


Elang, Luna dan Nisa saat ini sedang berada di sebuah toko baju, mereka membeli baju untuk menghadiri acara pertunangan Arkan dan Dira nanti malam.


"Tidak cocok untuk kamu baju itu," kata Elang.


Nisa memilih baju warna yang tidak sesuai dengan kulitnya, sehingga tidak pas di kenakan. Giliran Luna yang bertanya pada Elang, dia juga menjawab tidak cocok.


"Elang, coba kamu yang pilih buat kita," ucap Luna, kesal dengan Elang sudah tiga kali mencoba baju dibilang tidak cocok semua.


"Ogah, Lun! Emang kamu mau aku pilihkan baju renang?" ucap Elang.


"Kakak ganteng, kita mau ke pesta bukan masuk sungai," sahut Nisa.


"Coba lihat baju itu! sepertinya cocok buat kalian," kata Elang, sembari menunjuk baju yang di gantung.


Luna dan Nisa mendekati baju yang di tunjuk oleh Elang, ternyata harganya mahal. Buat Luna tidak akan terbeli baju seperti yang di tunjuk Elang.


"Elang, yang sesuai kantong kalau milih," kata Luna.


"Ambil saja! anggap saja hadiah buat kalian berdua," kata Elang.


Luna menolak karena memang sangat mahal harganya, sedangkan Nisa sibuk memilih.


"Luna, ayo pilih! mumpung ada yang beliin," kata Nisa, tanpa rasa malu.

__ADS_1


"Tidak! kamu saja, aku pilih yang sesuai kantong aja," tolak Luna.


Mereka akhirnya tidak jadi membeli baju, karena sibuk berdebat.


"Aku capek ngikutin kalian!" kata Elang.


"Kita ke butik Tante Meri saja, Lun!" ajak Nisa.


"Jauh dari sini," kata Luna.


"Mau kalian sebenarnya apa? baju satu mall di bilang gak ada yang cocok," kata Elang, mulai kesal dengan Luna dan Nisa.


Karena Elang sudah mulai kesal, Luna dan Nisa kembali memilih baju di toko sebelah yang tadi. Di toko itu harganya lumayan ringan, tetapi menurut Elang tidak ada yang bagus.


Elang pergi ke toko lain dan membelikan baju untuk Luna dan Nisa.


"Mbak, kira-kira baju ini muat tidak buat orang itu," ucap Elang, menunjukkan Luna dan Nisa pada karyawan toko.


"All size, Kak. Pasti muat buat mereka," jawab karyawan toko.


Elang kemudian menyuruh pelayan toko itu untuk membungkus baju yang dia beli.


"Ayo kita pulang!" aja Elang.


"Kakak ganteng, gimana sih! kita belum dapat baju," kata Nisa.


"Iya, kita pulang saja," ucap Luna, dia berfikir bisa menggunakan baju yang lama untuk menghadiri pesta pertunangan Dira.


"Kita gak makan dulu?" kata Nisa, teringat dengan makanan.


"Boleh," ucap Elang singkat.


Mereka bertiga menuju ke cafe pilihan Elang, karena Elang akan membayar pesanan mereka.


"Kalian silahkan pesan! nanti aku yang traktir," ucap Elang.


"Yes! terimakasih, Kakak ganteng," ucap Nisa. Begitu senang saat mendengar Elang mau traktir, berbeda dengan Luna yang merasa tidak enak.


"Elang, nanti uang kamu habis. Biar kita bayar sendiri," ucap Luna.


"Ayah ku pulang, Luna. Pasti dia kasih uang jajan lebih," kata Elang.


"Walaupun di kasih lebih, kamu harus menghargai uang. Jangan di habiskan, kasihan orang tua," ucap Luna.


Elang sebenarnya sudah mulai ikut kerja tetapi tidak setiap hari, saat Arkan butuh bantuan. Arkan juga sering memberikan uang buat Elang, bahkan dia juga tau kalau Elang sering mentraktir temannya.


Setelah selesai makan Elang mengantarkan Luna dan Nisa lebih dulu. Dia juga harus ke rumah Dira untuk membantu mempersiapkan semua.

__ADS_1


Seperti biasa dia mengantarkan Nisa lebih dulu, baru ke rumah Luna.


__ADS_2