
Arkan saat ini sedang mengobrol dengan Mamah Meri, membicarakan soal pernikahan dan tiba-tiba Dira datang. Karena ada hal penting yang dibicarakan dengan Arkan, Dira dan teman-temannya di suruh ngobrol di belakang dekat kolam oleh Mamah Meri.
"Arkan, acara pernikahan kalian mau di adakan kapan?" tanya Mamah Meri.
"Terserah Dira saja, Tante," jawab Arkan.
"Ngikutin Dira bisa-bisa kalian gak jadi nikah, dia kalau di tanya banyak alasan," kata Mamah Meri.
"Arkan juga gak mau maksa, takutnya Dira gak bebas," ucap Arkan.
"Ya sudah, biar Tante sama Bunda mu saja yang mengatur semua," ujar Mamah Meri.
Kalau yang mengatur orang tua Arkan sangat setuju, karena Dira tidak punya alasan untuk menolak. Arkan kemudian menyusul Dira dan teman-temannya di halaman belakang rumah.
"Kak, silahkan duduk," ucap Dira, saat mengetahui Arkan datang ke halaman belakang.
"Kalian bisa magang di kantor Dhimas gimana ceritanya? padahal lamar kerja di sana susah," ucap Arkan.
"Semua karena Dira, Kak," jawab Nisa.
"Oh... begitu sepesial ya? sampai langsung di terima," ucap Arkan sembari melirik ke arah Dira.
"Mamah tadi ngomongin apa, Kak? kayaknya serius sekali," kata Dira mengalihkan pembicaraan.
"Nanti kamu juga tau," jawab Arkan dengan muka datarnya.
"Dira, nanti malam kita nonton, yuk!" ajak Luna. Di dekat rumahku ada pasar malam," Lanjutnya.
__ADS_1
"Iya, Dira. Nanti malam aku mau tidur di tempat Luna," sahut Nisa.
"Aku ikut ke rumah Luna aja kalau gitu, bareng nanti dari sini," kata Dira.
Arkan hanya mendengarkan ketiga gadis labil itu bercerita, mereka persis seperti anak kecil.
"Kakak, ikut gak?" tanya Dira.
"Gak! nanti malam ada meeting sama Laura," jawab Arkan.
Dira sedikit kesal dengan jawaban Arkan, sedangkan Luna dan Nisa hanya diam. Nisa seperti biasa kalau ada makanan pasti mulutnya tidak berhenti. Beruntung kemarin Dira dan Bunda Sinta membuat kue.
Karena sudah sore Luna dan Nisa berpamitan pulang, Dira tidak ikut karena ada Arkan.
"Kak, beneran Kakak mau meeting sama Laura?" tanya Dira.
"Itu tinggal Kakak jaga perasaan Dira apa tidak," ucap Dira.
"Berarti kamu, suka sama aku?" tanya Arkan menatap Dira.
"Iya, kalau boleh," ucap Dira malu-malu kucing.
"Kalau begitu kamu kan, mengisi hatiku?" tanya Arkan seraya memegang tangan Dira, seperti yang ada di film-film yang tayang di televisi.
Dira menganggukkan kepalanya, dengan wajah yang memerah karena malu. Arkan sangat bahagia pernyataan cinta nya diterima, reflek dia memeluk tubuh Dira.
"Kak, belum boleh peluk," kata Dira.
__ADS_1
"Maaf, ini ungkapan bahagia. Orang lain pacaran dulu baru tunangan, kita tunangan dulu baru pacaran," ucap Arkan.
"Kakak, bisa aja," ucap Dira.
"Aku pulang dulu! nanti malam jangan lupa, aku tunggu di depan," ucap Arkan.
"Kemana, Kak?" tanya Dira bingung dengan ucapan Arkan.
"Merayakan hari jadian kita," ucapnya lalu pergi meninggalkan Dira dan berpamitan dengan Mamah Meri.
***
Elang saat ini berada di rumah Luna, karena Luna mengajaknya untuk ke pasar malam bersama.
"Luna, ayo kita berangkat!" ajak Elang.
"Bentar, nunggu Dira dulu," kata Luna.
"Dira mau ke sini juga? kenapa tadi tidak bilang, kan bisa bareng aku," kata Elang.
"Gak tau juga, soalnya tadi ada Kak Arkan," kata Luna.
"Kakak gak bakal mau, Luna. Nisa mana tadi?" ucap Elang.
"Ada di dalam," kata Luna.
Nisa sedang sibuk di dapur membantu Ibu Luna membuat makanan, untuk di jual besok. Luna hendak ikut membantu tetapi ada Elang, dia tidak enak meninggalkan Elang sendiri.
__ADS_1