
Elang pulang dari kampus langsung menuju ke rumah Dira, untuk memastikan keberadaan Dira. Kelihatan dari luar kalau rumah itu ada orang, lalu Elang mengetuk pintu ternyata mamah Meri yang membukakan pintu untuk Elang.
"Permisi tante! apa Dira ada di rumah?" tanya Elang, setelah mamah Meri membukakan pintu.
"Ayo masuk dulu El!" ajak mamah Meri.
"Terimakasih tante," ucap Elang, sembari mengikuti tante Meri ke dalam rumah.
"Silahkan duduk El! tante buatin minum dulu!" ucap mamah Meri.
Tante Meri datang membawa secangkir teh hangat dan satu piring kue.
"Silahkan di minum dulu El!" ucap mamah Meri, sambil meletakkan teh dan kue di meja.
"Terimakasih tante, maaf merepotkan!" ucap Elang, malu-malu.
"El ada apa?" tanya mamah Meri.
"Dira kemana tante? tadi kok gak masuk kuliah?" tanya Elang, penasaran dengan keberadaan Dira.
"Dira sedang istirahat tadi pagi badannya demam!" jelas mamah Meri.
"Sekarang gimana tante? baikan belum?" tanya Elang lagi.
"Udah baikan El! alhamdulillah demamnya sudah turun," kata mamah Meri.
"Syukurlah tante! semoga cepat sembuh ya buat Dira!" ucap Elang.
"Iya, terimakasih sudah datang ke sini Elang," kata mamah Meri.
"Sama-sama tante!" kata Elang.
"Elang, tunggu dulu ya? tante panggil Dira!" ucap mamah Meri, lalu pergi ke kamar Dira.
Dira keluar dari kamarnya dan menemui Elang, keadaan Dira saat ini sudah membaik.
"Elang, kamu di sini udah lama?" tanya Dira, sembari melihat sekeliling.
"Lumayan lama, nungguin kamu bangun tidur!" ucap Elang, bercanda.
"Masa sih! ayo di minum dulu Elang!" kata Dira, menyuruh Elang untuk minum karena melihat secangkir teh yang masih utuh di meja.
Elang meminum teh itu dan mencicipi kue yang di hidangkan oleh mamah Meri.
Mamah Meri berpamitan untuk pergi menjemput Vio adik Dira, sementara dia meminta Elang untuk menemani Dira terlebih dahulu.
Elang menceritakan soal tadi Luna dan Nisa waktu di kampus, Dira tertawa mendengar cerita Elang soal kedua temanya yang lucu.
Tak lupa juga Elang memberi kabar ke Nisa dan Luna lewat telepon genggamnya, karena tadi sudah janji pada mereka berdua. Setelah mamah Meri pulang dari menjemput Vio, Elang pulang ke rumah nya.
__ADS_1
####
Sisil marah kepada ayahnya karena menyetujui pembatalan pertunangan dia dengan Arkan. Dia sangat kecewa dengan Arkan, sekarang dia mempunyai niat buruk terhadap Arkan.
Kantor Arkan.
"Permisi!" ucap Sisil, saat akan masuk ke ruangan Arkan.
"Sisil! silahkan masuk!" kata Arkan, sembari melihat ke arah Sisil.
"Kak, Sisil datang ke sini mau minta maaf atas kesalahan Sisil! kakak mau kan maafin Sisil?" tanya Sisil, pura-pura minta maaf untuk menarik perhatian Arkan.
"Soal pertunangan Sil?" tanya Arkan balik.
"Iya kak! Sisil terlalu memaksa kakak!" ucap Sisil dengan modus.
"Aku sudah maafin kok... kata Arkan lirih.
"Sekarang apa kita masih bisa berteman?" tanya Sisil lagi.
"Oke! boleh asal jangan nakal!" ucap Arkan sambil melirik Sisil.
"Bagaimana kalau sebagai permintaan maaf, Sisil traktir kakak makan?" tanya Sisil.
"Kapan? saya belum ada waktu!" jawab Arkan.
"Sebisanya kakak saja, Sisil gak maksa," ucap Sisil,dia tersenyum karena usahanya dia rasa berhasil.
"Baru pulang kak?" tanya Elang, yang berada di ruang tengah sambil menonton televisi.
"Iya El! kakak capek, tolong ambilkan minum dong!" ucap Arkan, sambil mendudukkan diri di sebelah Elang.
Elang pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Arkan.
"Nih! minum dulu keburu dingin entar!" ucap Elang, sambil memberikan secangkir kopi buat Arkan.
"Dira tadi tidak masuk kuliah El!" ucap Arkan.
"Dia lagi demam kak! Elang tadi dari rumahnya," kata Elang.
"Bisa sakit juga itu anak!" ucap Arkan, yang langsung dapat lirikan dari Elang.
"Namanya juga manusia kak!" sewot Elang, sambil melangkahkan kaki menuju kamarnya.
🍃🍃🍃
Keesokan paginya di kampus, nampak seseorang sedang menunggu Dira di depan pintu gerbang. Dira tak kunjung datang juga, orang itu terkadang melihat jam yang melingkar di tangannya.
Ketika Dira akan memasuki kampus tiba-tiba orang itu
__ADS_1
memanggilnya dan mengajak Dira berbicara.
Sepasang mata yang melihat itu sangat geram, ingin menegur tetapi bukan hak nya, kalau menegur salah.
Karena rasa penasaran orang itu mendengarkan Dira dan orang tadi dari dekat.
"Dira, kamu kemana saja beberapa hari ini tidak masuk kerja?" tanya orang itu, karena Dira tidak berpamitan.
"Lagi gak enak badan pak, maafin Dira ya!" kata Dira, merasa bersalah karena tidak memberi kabar pada bosnya.
"Tidak apa-apa Dira, kalau kamu masih sakit istirahat dulu saja!" ucap pak Dhimas, orang yang menunggu Dira adalah pak Dhimas.
Pak Dhimas ada keperluan lain datang ke kampus Dira, tetapi karena tau kalau Dira adalah mahasiswa di kampus itu dia menunggu Dira terlebih dahulu.
Dira berpamitan untuk masuk ke dalam kampus, tetapi pak Dhimas meminta Dira mengantarkannya ke ruangan salah satu dosen di kampus itu.
Saat Dira melewati Sisil dan teman-temannya, ada yang meledek Dira dan membuat langkah Dira terhenti.
Dira hendak menegur orang itu tetapi dia ingat sanksi yang di berikan pak Arkan, belum lagi orang tuanya pasti di panggil ke kampus.
"Ada apa Dira? kok berhenti?" tanya pak Dhimas, melihat ke arah teman Dira yang bersorak-sorak.
"Gak papa pak! mari jalan lagi!" ajak Dira, karena hampir sampai di ruangan yang akan di tuju.
Dira dan pak Dhimas melanjutkan jalan mereka, walaupun dalam hati Dira sangat sebal dengan salah satu teman yang meledek nya tadi.
"Pak, ini ruangan dosen! Dira pamit masuk kelas ya!" ucap Dira, pada pak Dhimas.
"Terimakasih ya, Dira," ucap pak Dhimas.
Dira segera masuk ke dalam kelasnya, di dalam kelas sudah di sambut oleh Luna dan Nisa.
Kedua temannya itu sedang berdebat soal dirinya yang di kira tidak akan masuk lagi.
"Dira!!!" teriak Nisa, berlari ke arah Dira lalu memeluknya.
"Dira! kamu sudah sembuh?" tanya Luna, bergantian dengan Nisa memeluk Dira.
"Aku baik-baik saja kok! kemarin hanya sedikit demam!" jelas Dira, kepada ke dua temannya itu.
"Dira, kamu tau tidak kita khawatir banget lho! aku sampai absen tidak ke kantin!" ucap Nisa, mulai deh...kantin lagi.
"Cuma absen sekali kan?" tanya Dira.
"Jangan percaya Dira, pagi-pagi dia sudah dari kantin!" sahut Luna.
Ketiga sahabat itu sedang bertukar cerita yang tidak ada habisnya, padahal baru sehari mereka tidak bertemu. Bagaimana ya kalau lama tidak ketemu hehe... Mungkin bisa sehari semalam mereka bercerita.
Itulah yang di namakan sahabat, ada yang khawatir dan mencari jika salah satu tidak terlihat, walaupun di kala bertemu saling berdebat tidak jelas.
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤