Sahabat

Sahabat
Bab 21


__ADS_3

Happy Reading❤


"Kak, ayo kita pulang!" ajak Dira.


"Habiskan dulu makanan kamu!" suruh Arkan.


"Kak!" ucap Dira.


"Iya, kenapa? ayo habiskan dulu!" ucap Arkan.


"Dira mau cerita, tetapi kakak janji dulu!" kata Dira.


"Janji apa?" tanya Arkan.


"Rahasia kita berdua," ucap Dira.


"Oke! cerita apa?" tanya Arkan, menyetujui permintaan Dira.


"Kakak, sebenarnya Dira kasihan sama ibu panti, kalau Dira tidak berkerja," ucap Dira.


"Maksud kamu apa, Dira? kamu selama ini berkerja buat bantu biaya di panti!" ucap Arkan.


"Iya, kak!" ucap Dira.


"Panti itu apa kekurangan donatur?" tanya Arkan.


"Ibu panti sudah mengajukan proposal tapi, jarang orang mau bantu mereka," jelas Dira.


"Besok antar aku ke panti!" ucap Arkan.


"Pulang dari kuliah, ya? soalnya Dira besok ada tugas!" ucap Dira.


Arkan mengantarkan Dira sampai depan rumah, mamah Meri melihat Arkan yang mengantarkan Dira pulang.


"Arkan, kamu tidak masuk ke rumah dulu?" tanya mamah Meri.


"Terimakasih, tante! lain kali saja!" ucap Arkan, lalu tersenyum ke arah mamah Meri.


Tak lupa Dira juga mengucapkan terimakasih pada Arkan, setelah Arkan pergi Dira dan mamah Meri langsung masuk ke dalam rumah.


***


Suasana makan malam di rumah Arkan saat ini, hening tidak ada percakapan sama sekali.


Elang yang mendadak diam menjadi pusat perhatian bunda Sinta, biasanya dia paling banyak ngomong saat makan.


"Elang, ayo nambah! biasanya kamu suka sama tumis!" ucap bunda Sinta.


"Sudah kenyang, bunda! Elang duluan ya!" ucap Elang, meninggalkan bunda Sinta dan Arkan yang sedang makan lalu masuk ke kamarnya.


"Arkan, adik kamu kenapa?" tanya bunda Sinta.


"Nanti Arkan lihat, bun!" ucap Arkan, melanjutkan makanya.


"Ya, sudah kamu habiskan dulu!" ucap bunda Sinta.


Setelah selesai makan Arkan mengetuk pintu kamar Elang.


Tok... tok... tok...

__ADS_1


Tak ada jawaban dari Elang, Arkan mencoba membuka pintu tetapi di kunci dari dalam. Dia berpikir kalau adiknya mungkin sudah tidak lalu kembali ke ruang tengah.


"Mungkin Elang sudah tidur, bun!" ucap Arkan.


"Ya, sudah biarkan dia istirahat," kata bunda Sinta.


"Bunda, besok Arkan boleh tidak mengajak Dira pergi?" tanya Arkan.


"Minta izin dulu sama tante Meri, kalau bunda boleh saja," ucap bunda Sinta.


Elang keluar dari kamarnya, dia hendak ke dapur mengambil minum, saat melewati ruang tengah dia mendengar percakapan bunda dan kakaknya.


Saat Arkan mengetuk pintu tadi Elang sedang mengerjakan tugas dari kampus. Dia sengaja tidak menyahut karena ada sesuatu yang dia sembunyikan.


"Elang, sini dulu!" panggil bunda Sinta.


"Iya, bunda! Elang ambil minum dulu," sahut Elang.


Setelah mengambil air minum Elang duduk di sebelah bundanya dan mulai bicara.


"El, kamu kenapa dari tadi diam saja?" tanya Arkan.


"Tidak apa-apa, kak! El lagi banyak tugas!" alasan Elang.


"Kamu tidak seperti biasanya, El!" sahut bunda Sinta.


Elang selalu mengelak bilang tidak ada apa-apa, padahal dia sedang kesal dengan kakaknya yang jalan sama Dira. Bunda Sinta lalu menyuruh kedua putranya itu untuk beristirahat.


Keesokan harinya Elang berpamitan berangkat dulu ke kampus, lalu dia pergi ke rumah Luna.


"Pagi, bu!" sapa Elang, pada ibu Luna.


"Eh... ada Elang! masuk dulu, Luna baru mandi!" ibu Luna menyuruh Elang untuk menunggu Luna di dalam tetapi dia menolak.


"Tunggu sebentar, ya! ibu panggil Luna dulu!" ucapnya lalu masuk ke dalam rumah untuk memberitahu Luna kalau ada Elang.


Beberapa saat kemudian Luna keluar dari rumah, dia sudah rapi.


"Elang, maaf menunggu lama!" ucap Luna.


"Baru juga datang kok!" kata Elang.


"Ada apa kamu pagi-pagi ke sini?" tanya Luna, biasanya jarang Elang pagi-pagi ke rumah Luna.


"Aku mau ajak kamu, berangkat bareng ke kampus!" kata Elang.


"Kita jalan kaki saja!" ucap Luna.


"Kenapa? kan aku bawa mobil, Luna?" tanya Elang.


"Pokoknya aku tidak mau!" tolak Luna.


"Kamu aneh, Luna!" ucap Elang.


Elang tetap memaksa Luna untuk berangkat bareng dia, dengan mobilnya. Karena Elang tidak mau berjalan kaki, berbagai alasan pun dia keluarkan.


Akhirnya Luna yang mengalah dan mau berangkat bareng dengan Elang.


Sampai di kampus Dira dan Nisa sudah menunggu kehadiran Luna, mereka melihat Luna bareng Elang.

__ADS_1


"Dira, Luna curang di jemput kakak ganteng!" ucap Nisa, sambil cemberut.


"Biarkan, Nisa! mereka juga berteman!" kata Luna.


"Tetap saja! aku tidak terima!" ucap Nisa, membuat Dira tertawa.


"Maaf, aku baru datang! kalian sudah lama?" tanya Luna.


"Baru saja kok, Luna!" jawab Dira, sambil tersenyum sedangkan Nisa diam saja.


"Kok Dira tidak cemburu sama sekali, dia malah tertawa dan bercanda gitu!" ucap Elang dalam hati.


"Ayo kita masuk kelas!" ajak Luna.


"Keburu telah kita!" sahut Nisa.


"Tunggu!" kata Elang.


"Nanti kita bisa ketinggalan, kakak ganteng!" ketus Nisa.


"Dira, ada yang ingin aku tanya sama kamu!" ucap Elang, memberanikan diri.


"Boleh, tanya apa?" jawab Dira.


"Kalian duluan, biar Dira bicara sebentar sama aku!" kata Elang, menyuruh Luna dan Nisa untuk pergi dulu, setelah Luna dan Nisa pergi dia mulai bertanya pada Dira.


"Ada apa, Elang? buruan nanti aku di hukum kakak kamu lagi!" ucap Dira.


"Kemarin kamu di ajak kemana sama kak Arkan?" tanya Elang.


"Oh... itu, aku di ajak ke kantor lalu makan terus pulang!" jawab Dira dengan polos, dia tidak tau kalau Elang cemburu.


"Ke kantor! ngapain?" tanya Elang lagi.


"Tidak tau, kan kakak kamu yang ada perlu! udah belum kamu tanya?" ucap Dira, tidak sabar ingin masuk kelas.


"Apa kamu suka dengan kak Arkan?" tanya Elang.


"Tidak, Elang! kamu tanya jangan soal cinta, perasaan atau apa! aku tidak paham!" ucap Dira lalu pergi begitu saja meninggalkan Elang.


Senyuman terukir di wajah Elang, dia berpikir masih ada kesempatan dia juga tidak menyangka Dira yang secantik itu masih sangat polos soal cinta.


Dira lalu masuk ke dalam kelas, tetapi dia mendapati pak Arkan sudah berada di dalam kelas.


"Permisi, pak!" ucap Dira.


"Dari mana kamu?" tanya pak Arkan.


"Ngobrol sama Elang," ucap Dira dengan santai.


"Apa tidak ada waktu lain, sampai bisa telat masuk kelas?" tanya pak Arkan.


"Tau tuh! tanya saja sama adik bapak!" kata Dira, lalu menuju ke tempat duduknya.


Pak Arkan terdiam mendengar jawaban Dira, lalu melanjutkan mengajarnya. Tetapi Dira dan kedua temannya itu masih saja berisik dan membuat ketiganya di berikan tugas lagi.


Dalam mengajar Arkan sangat disiplin, Elang yang adiknya sendiri sering menerima tugasnya apalagi Dira.


...🖤🖤🖤🖤🖤...

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca dan mendukung ❤


Maaf kemarin belum bisa up karena kesibukan di rl🙏


__ADS_2