
"Ada apa menyuruh ku kesini lagi?" tanya Arkan.
"Kak, tugasnya boleh di kurangin tidak?" tanya Dira, bukannya menjawab pertanyaan Arkan malah bertanya.
Arkan mengernyitkan dahinya, "Malam-malam aku suruh ke sini cuma ngomongin tugas? gak ada yang lain," kata Arkan.
"Boleh ya, Kak...
"Jangan seperti anak kecil, Dira," ucap Arkan. Aku pulang dulu, gak enak sama tetangga," Lanjutnya.
Arkan hendak melangkahkan kakinya, tetapi tangannya di cekal oleh Dira.
"Apa?" tanya Arkan, seraya menatap wajah Dira begitupun sebaliknya.
"Maaf, Kak! gak ada," ucap Dira malu-malu sembari melepaskan tangan Arkan.
"Awas! nanti gak bisa tidur," kata Arkan tersenyum ke arah Dira.
"Kenapa jantung ku mau copot gini! harusnya tadi aku gak pegang tangan Kak Arkan," ucap Dira dalam hati, masih mematung di tempat itu menatap kepergian Arkan.
"Dira... Dira... Dira!" teriak Mamah Meri, karena di panggil bukanya menyahut malah melamun.
"Iya, Mah," sahut Dira.
"Masuk! ngapain kamu malam-malam di luar sendiri?" tanya Mamah Meri.
"Barusan Kak Arkan datang," jawab Dira.
"Arkan sudah pulang dari tadi, Dira," kata Mamah Meri.
"Iya, Mah. Tapi kesini lagi," jelas Dira.
"Kenapa tidak kamu ajak masuk?" tanya Mamah Meri.
"Cuma sebentar tadi, Dira ke kamar dulu, Mah," pamit Dira, lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Dasar anak muda! di suruh ketemu tadi gak mau, sekarang ketemu aja sembunyi-sembunyi," gerutu Mamah Meri.
"Ada apa, Mah? kenapa ngomel-ngomel sendiri?" tanya Papah Dira.
"Dira sama Arkan, Pah," jawab Mamah Meri.
"Iya, kenapa mereka?" tanya Papah Dira lagi.
Mamah Meri menjelaskan pada Papah Dira, apa yang baru saja di lihat. Papah Dira memaklumi karena menerima cinta lewat perjodohan perlu adaptasi, kadang ada yang tidak cocok jika sudah menikah dan mengakibatkan perceraian.
Arkan baru sampai di rumah, kebetulan Elang masih menonton televisi dan bertanya pada Arkan.
"Dari mana, Kak?" tanya Elang.
"Rumah Dira," jawab Arkan lalu duduk di sebelah Elang.
"Gak ingat waktu mentang-mentang sudah tunangan," ucap Elang.
"Anak kecil diam," kata Arkan.
__ADS_1
"Calon istri Kakak yang kaya anak kecil, hobinya berantem," kata Elang tidak terima di bilang anak kecil.
Arkan lalu menyuruh Elang untuk tidur, karena ngomongin Dira gak akan ada habisnya.
Pagi hari saat sarapan bersama Bunda Sinta meminta Arkan, untuk mengajak Dira ke rumah.
"Arkan, nanti ajak Dira ke rumah," ucap Bunda Sinta.
"Dira nanti sudah magang, Bun. Pulang mungkin sore tergantung perusahaannya juga," kata Arkan.
"Magang di perusahaan siapa?" tanya Bunda Sinta.
"Punya Ayahnya Sisil, Bun," jawab Arkan.
"Apa? kenapa di sana?" tanya Bunda Sinta lagi.
Bunda Sinta memarahi Arkan karena Dira magang di perusahaan milik keluarga Sisil, Arkan menjelaskan kalau dia tidak bisa berbuat apa-apa karena pihak kampus yang memilihkan dan bukan tugas Arkan.
"Bunda, kenapa perhatian sekali sama Dira?" tanya Elang.
"Tau gak kalian, Bunda sudah tidak sabar mempunyai menantu seperti Dira," kata Bunda Sinta.
Arkan dan Elang saling berpandangan, gak kebayang Dira tinggal di rumahnya pasti ribut terus dengan Elang.
"Kalau Dira tinggal di sini, Elang tinggal di rumah Tante Meri," kata Elang.
"Sekarang aja tukeran," sahut Arkan.
"Kak, gak takut besok tidur sama Dira?" tanya Elang.
"Gini lho Bun, pasti Kakak di hajar sama Dira," kata Elang.
"Pikiran kamu El, gak akan berani Dira sama Kakak," kata Arkan.
Kemudian Elang berpamitan untuk berangkat ke kampus, Arkan juga harus segera berangkat karena mengantarkan Dira terlebih dahulu.
Luna dan Nisa saat ini masih mencari alamat perusahaan milik keluarga Sisil, karena bersebelahan dengan milik Arkan jadi mereka bingung.
"Itu ada Sisil, ayo kita tanya!" ajak Nisa.
"Jangan! nanti dia ngajakin ribut, kita kasih tau Dira dulu," ajak Luna.
"Dira juga jam segini belum datang, kita harus tepat waktu katanya," ucap Nisa. Bikin lapar saja," Lanjutnya.
Dira masih di perjalanan saat ini, karena Arkan jemputnya telat.
"Tumben diem aja, biasanya bicara gak berhenti," kata Arkan.
"Kak, sekarang kok aku canggung sama Kakak," ucap Dira.
"Belum terbiasa saja! nanti lama-lama juga gak," kata Arkan.
"Dulu malah tidak," kata Dira.Arkan tersenyum mendengar ucapan Dira.
Saat sampai di depan perusahaan milik keluarga Sisil, Dira melihat Sisil.
__ADS_1
"Ingat! jangan berantem!" kata Arkan.
"Tapi, kalau Sisil mulai duluan gimana?" tanya Dira.
"Mending kamu menghindar atau pergi," jawab Arkan.
"Kalau tiba-tiba dia jambak Dira dulu, masa Dira diam aja?" ucap Dira lagi.
"Bisa teriak minta tolong," kata Arkan. Sudah sana turun, nanti terlambat," Lanjutnya.
"Yang ada orang pada lihatin, Kak," ucap Dira, lalu turun dari mobil.
Dira menuju ke arah Luna dan Nisa yang sedang menunggunya.
"Untung kamu cepat datang, Dira," ucap Luna.
"Ayo kita masuk saja!" ajak Dira.
"Aku nungguin kamu, jadi lapar Dira," sahut Nisa.
"Makan mulu!" kata Dira.
Mereka bertiga lalu masuk ke dalam, dan bertanya kepada karyawan perusahaan itu di mana ruang mereka.
Karyawan perusahaan menyambut dengan ramah dan sangat baik, tetapi pemiliknya yang terkenal sangat galak. Mereka bertiga menemui pemilik perusahaan lebih dahulu, yang tak lain adalah Sisil. Dia beralasan mengantikan orang tuanya saat ini.
"Ternyata kalian yang magang di sini!" ucap Sisil.
"Iya, gak usah basa-basi! kalau bisa yang sportif," ucap Dira.
"Terserah aku dong! ini perusahaan milik ku sendiri," ucapnya dengan sombong.
"Sisil, kita kesini mau magang. Jangan ngajak ribut," kata Luna.
"Orang miskin seperti kalian pantes nya bersih-bersih saja!" kata Sisil.
Dira menahan amarahnya, ingin rasanya dia menonjok muka Sisil yang sudah menghina. Sisil kemudian memanggil petugas kebersihan perusahaan itu, lalu menyuruhnya untuk mengajari Dira, Luna dan Nisa.
"Kita gak salah masuk ruangan," ucap Nisa.
"Ayo kita pulang saja!" ajak Dira.
"Kita sabar dulu, jangan terpancing emosi," ucap Luna.
"Yang benar saja kita magang di suruh bersih-bersih," kata Dira.
"Udah Dira, kita lakukan apa yang perusahaan perintahkan," ucap Luna.
"Gak bisa gitu juga! ini gak sesuai namanya," sahut Nisa.
Karena kesal mereka bertiga hanya duduk di depan ruangan yang dibersihkan.
"Kalian sabar dulu! kita saja yang sudah lama berkerja di sini sering bersih-bersih, padahal petugas kebersihan ada sendiri," ucap salah satu karyawan perusahaan yang baru keluar dari dalam ruangan. Mungkin karyawan tadi mendengar ucapan mereka bertiga.
Siang hari saat matahari sedang panasnya, mereka bertiga di suruh untuk mencabut rumput liar yang ada di taman kecil. Keringat bercucuran membasahi tubuh mereka, beruntung waktu istirahat telah tiba.
__ADS_1