Sahabat

Sahabat
Bab 71


__ADS_3

"Kak Arkan ngapain, pakai ngajak ketemuan segala," ucap Dira dalam hati.


Dira mengiyakan ajakan Arkan untuk bertemu, dia menghapus air matanya lalu mandi dan berganti pakaian.


Arkan sudah menunggu di depan rumah Dira, tak lupa dia juga berpamitan pada Bundanya dan Mamah Meri.


"Dira, kita mau kemana?" tanya Arkan.


"Kakak, yang ajak! kenapa tanya Dira? Dira ikut aja," ucap Dira.


"Ya udah, kita muter-muter aja," kata Arkan.


Akhirnya mereka berdua mengelilingi kota dengan mobilnya, tidak ada pembicaraan antara keduanya.


"Dira, turun yuk!" ajak Arkan, saat berada di taman yang di hiasi lampu warna-warni.


"Boleh, Kak," ucap Dira sembari tersenyum.


Arkan mengajak Dira duduk di cafe yang ada di taman, alunan musik menjadikan suasana cafe menjadi sangat romantis.


"Tumben ngajak Dira jalan-jalan, Kak?" tanya Dira memulai percakapan.


"Biasanya kamu juga tidak mau di ajak," kata Arkan


"Karena sebentar lagi tidak bisa, manfaatin waktu yang ada," ucap Dira.

__ADS_1


"Maksudnya? kamu mau kemana?" tanya Arkan.


"Sebentar lagi sudah tidak bebas, Kak," jawab Dira.


"Aku lupa kalau sebentar lagi kamu lulus kuliah," ucap Arkan.


Mereka belum tau kalau dijodohkan, Dira kalau tau pasti akan menolak. Begitu juga dengan Arkan, kalau tau Elang menyukai Dira.


Elang yang saat ini di rumah menanyakan keberadaan Arkan, dia ingin meminta tolong untuk mengerjakan tugas.


"Bunda, Kakak belum pulang ya?" tanya Elang.


"Tadi minta izin keluar sama Dira," jawab Bunda Sinta.


"Iya, kenapa El?" tanya Bunda Sinta.


"Memastikan saja Bun, ingat kata-kata Elang. Jangan sampai berselisih paham dengan keluarga Dira nanti," ucap Elang, sudah seperti orang tua memberi nasehat.


"Kamu tenang saja! soal itu tidak perlu dikhawatirkan," ucap Bunda Sinta.


Elang lalu pergi ke kamarnya, dia sedikit kecewa dengan Dira. Dia mengganggap Dira tidak menepati ucapannya waktu itu. Elang merebahkan tubuhnya, mencoba memejamkan mata tetapi tidak bisa.


"Kakak, kelihatan sedih hari ini. Tidak seperti biasanya," ucap Dira, sembari menatap wajah Arkan.


"Dira, sebentar lagi aku mau menikah," kata Arkan.

__ADS_1


Dira tersedak minuman yang dia minum, saat mendengar ucapan Arkan. Dia kaget dengan apa yang Arkan katakan.


"Maaf, Kak. Aku kaget," ucap Dira.


"Lain kali hati-hati, kenapa kaget?" tanya Arkan.


"Habis tidak ada angin tidak ada hujan, Kakak bilang mau nikah. Sama siapa, Kak?" ucap Dira.


"Nanti kamu juga akan tau," kata Arkan.


Dira terdiam, kalau Arkan menikah dia merasa kehilangan sosok Kakak yang selalu membantu dan kadang bikin kesal.


"Asal Kakak tau, sebentar lagi Dira juga akan menikah. Entah sama siapa," ucap Dira dalam hati.


"Dira!" Arkan memanggil Dira sedikit teriak, karena Dira melamun.


"Iya, Kak," kata Dira.


"Kamu kebanyakan melamun, cerita juga ada apa?" tanya Arkan.


Dira tidak menceritakan kalau dia akan dijodohkan, tetapi malah mengalihkan pembicaraan. Arkan kemudian mengajak Dira pulang, sudah larut malam waktunya untuk istirahat. Besok pagi mereka juga harus ke kampus.


Di rumah Dira tidak bisa tidur, dia masih memikirkan apa yang akan terjadi jika sudah menikah nanti. Dira merasa masih seperti anak kecil, takut menyusahkan pasangannya.


Arkan di dalam kamarnya juga susah memejamkan mata, dia masih kepikiran siapa yang akan dijodohkan dengannya. Sebagai anak yang baik, dia rela melakukan apa saja untuk orang tuanya bahkan tidak peduli dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2