Sahabat

Sahabat
Bab 70


__ADS_3

Pertemuan kedua ibu tadi membuat masalah untuk anaknya, karena tidak tau dengan siapa mereka di jodohkan.


"Dira, ada yang ingin Mamah bicarakan," kata Mamah Meri.


"Ada apa, Mah? tumben Mamah mau bicara," ucap Dira, sembari mendudukkan diri di sofa ruang keluarga.


"Kamu sudah dewasa, sudah pantas berkeluarga. Mamah ingin menjodohkan kamu, bagaimana?" tanya Mamah Meri.


"Maksud Mamah, Dira harus menikah!" kata Dira kaget.


"Iya, sayang. Mamah yakin suami kamu orang yang tepat dan bertanggung jawab," ucap Mamah Meri, tersenyum ke arah Dira.


Mata Dira berkaca-kaca, dia bingung harus menjawab apa. Kalau menolak dia takut Mamahnya marah, selama ini Dira merasa belum bisa memberikan kebahagiaan buat orang tuanya.


"Mamah mau jodohkan Dira sama siapa?" tanya Dira.


"Nanti kamu juga tau, rencana Mamah akan mempertemukan kalian saat acara tunangan," ucap Mamah Meri.


"Dira mau Mah, asal bisa membuat Mamah dan Papah bahagia," ucap Dira, lalu pergi ke dalam kamarnya.


Dira menangis, dia belum siap untuk berkeluarga. Tetapi kemauan orang tuanya tidak bisa dia tolak, karena dia merasa belum bisa membahagiakan orang tuanya.

__ADS_1


Di rumah Arkan juga di tanya oleh Bunda Sinta, saat Elang belum berada di rumah.


"Arkan, Bunda ada kabar gembira buat kamu," ucap Bunda Sinta.


"Kabar apa Bunda? jangan bikin penasaran," kata Arkan, sambil merapikan buku di rak buku.


"Kamu belum punya kekasih, kan?" tanya Bunda Sinta.


"Bunda, Arkan belum kepikiran soal itu. Arkan masih ingin membahagiakan Bunda," ucap Arkan dengan lembut.


"Syukurlah kalau belum ada," kata Bunda Sinta.


"Arkan penasaran dengan kabar gembiranya, Bunda," ucap Arkan.


"Bunda, ini sudah bukan zaman Siti Nurbaya pakai dijodohkan segala," kata Arkan. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ini cewek limited edition, Arkan. Kamu harus mau," kata Bunda Sinta.


"Macam barang branded aja, Bun. Pakai limited edition segala," ucap Arkan.


"Kamu mau, kan?" tanya Bunda Sinta.

__ADS_1


"Iya, terserah Bunda saja! asal Bunda dan Ayah bahagia," ucap Arkan, sambil tersenyum.


Bunda Sinta sangat bahagia mendengar ketersediaan Arkan untuk dijodohkan, kemudian dia memberi tau kabar ini pada Mamah Meri.


Arkan menuju ke dapur untuk menanyakan siapa yang akan dijodohkan dengannya, tetapi Bunda Sinta tidak memberitahu. Dia hanya bilang kalau besok lusa adalah hari pertunangan untuk Arkan.


"Jangan-jangan Bunda, jodohkan aku dengan Sisil," ucap Arkan.


"Kamu mau?" tanya Bunda Sinta.


"Batalkan saja, Bun! kalau sama dia, mending Arkan cari calon isteri sendiri," ucap Arkan.


Bunda Sinta tersenyum, dia meneruskan mencuci piring. Karena kalau menanggapi Arkan dia bisa keceplosan.


Perasaan Arkan saat ini entah sedih atau senang, dia hanya pasrah demi membuat orang tuanya bahagia. Arkan sangat yakin walaupun saat ini mereka belum mengenal, pasti suatu saat akan saling menerima.


"Arkan, kamu jangan bilang Elang dulu soal ini," kata Bunda Sinta.


"Kenapa Bun? kabar gembira harus disampaikan ke Elang," kata Arkan.


"Jangan dulu! Bunda takut dia marah," ucap Bunda Sinta.

__ADS_1


Arkan kembali ke ruang kerjanya, dia meneruskan merapikan buku lagi. Setelah selesai Arkan duduk dan mengambil telepon genggamnya, dia mengirim pesan pada seseorang. Arkan ingin bertemu dengan orang itu, sebelum dia bertunangan dengan wanita pilihan Bunda nya.


__ADS_2