
Dira sudah menunggu Arkan di depan kampus, dia akan mengajak Arkan untuk mengunjungi panti asuhan yang dia ceritakan pada Arkan.
"Dira, ayo pulang!" ajak Elang, di dalam mobil Elang sudah ada Luna dan Nisa.
"Aku masih ada perlu, kalian duluan saja," jawab Dira, menolak ajakan Elang.
"Nanti kalau ada-apa sama kamu bagaimana?" sahut Nisa, mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil.
"Jangan khawatir kalian, sudah sana pulang," usir Dira.
Elang langsung melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Dia kesal dengan jawaban Dira, yang justru mengusirnya.
Pak Arkan tak kunjung kelihatan, Dira masih menunggu di bawah pohon yang rindang di depan kampus. Datang lah Sisil yang pasti akan bikin masalah.
"Hai, Dira! kamu belum pulang?" tanya Sisil.
"Belum," jawab Dira singkat.
"Eh... ada pelayan cafe," ucap salah satu teman Sisil.
"Mending jadi pelayan, dari pada kalian beban orang tua," ucap Dira.
"Kamu ngomong apa?" tanya teman Sisil, sambil menjambak rambut Dira.
"Kalian pikir aku takut!" jawab Dira, membalas jambak an teman Sisil.
"Sisil tolong aku!" teriak teman Sisil.
"Tidak, aku bisa di do dari kampus," ucap Sisil dengan santai.
"Kalau berani jangan minta tolong! satu lawan satu!" ucap Dira
"Lepaskan!" teriak teman Sisil.
"Dira!" teriak pak Arkan, dari kejauhan.
"Aku tidak ada masalah sama kamu! tapi kenapa kamu selalu mengganggu!" kata Dira, masih menarik rambut teman Sisil.
Pak Arkan mendekat dan melerai mereka, lalu menarik Dira masuk ke dalam mobilnya. Sisil semakin kesal melihat hal itu, dia bahkan menyalahkan temanya.
"Dira, kamu bisa tidak jangan berantem seperti itu?" tanya pak Arkan.
"Mereka yang mulai, kenapa Dira tidak boleh membalas," ucap Dira.
"Kamu ini cewek Dira, tidak baik," kata pak Arkan.
"Kak, aku hanya membela diri!l, apa itu salah?" tanya Dira.
"Lain kali kamu hindari saja, jangan di ladenin," ucap pak Arkan, lalu melajukan mobilnya.
Dira tidak menjawab, dia justru menatap pak Arkan.
"Kenapa melihat ku seperti itu?" tanya pak Arkan.
"Kak, pelan-pelan bisa tidak," ucap Dira.
Arkan menjalankan dengan pelan kecepatan mobilnya, membuat Dira protes lagi.
"Kak, tidak begitu juga kali," ucap Dira, melirik ke arah Arkan.
__ADS_1
"Ternyata kamu bawel juga, Dira," ucap Arkan.
"Nanti Dira diam, kakak bingung," kata Dira.
"Ini kita mau kemana?" tanya Arkan.
"Kakak lupa? katanya kemarin bilang mau lihat panti," terang Dira.
"Masih jauh?" tanya Arkan lagi.
"Tidak kak, sebentar lagi, tetapi mobil kakak tidak bisa masuk," ucap Dira.
"Iya, masa mau di bawa masuk ke rumah," kata Arkan.
"Bukan begitu kakak, maksud Dira tidak bisa masuk ke dalam gang karena sempit," jelas Dira.
"Tidak ada jalan lain apa?" tanya Arkan.
"Dira tidak tau kak," jawab Dira singkat.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di jalan yang akan menuju ke panti itu, terpaksa Arkan menitipkan mobilnya di rumah warga yang ada di pinggir jalan.
"Dira, kita jalan jauh tidak?" tanya Arkan.
"Tidak, itu rumahnya kak!" tunjuk Dira, karena mereka memang sudah di dekat panti.
Dira mengetuk pintu panti, ibu panti membuka pintu lalu menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Arkan senang bisa bertemu dengan ibu panti, dia juga mengutarakan maksud kedatangannya ke panti. Anak-anak panti juga sangat antusias berkenalan dengan Arkan, kebetulan Elin juga ada di panti.
"Elin, ayo kita bicara sebentar!" ajak Dira.
"Ada apa Dira?" tanya Elin.
Elin akhirnya mau berbicara dengan Dira, Dira mulai menjelaskan dengan Elin siapa dia sebenarnya dan Elin sangat kecewa dengan Dira, dia tidak mau bertemu dengan orang kaya lagi. Itu semua salah Dira dari awal tidak pernah jujur tentang siapa dia. Dira menjadi sangat sedih, ibu panti yang sebenarnya sudah tau siapa Dira juga ikut membujuk Elin, dan memberi nasehat pada Elin, tetapi Elin belum bisa memaafkan Dira.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa, Dira," ucap Elin.
"Elin, aku minta maaf," sesal Dira.
"Sekarang kamu bawa orang kaya kesini? bikin aku tambah kecewa, Dira," ucap Elin.
"Elin, kamu jangan seperti itu, nak!" sahut ibu panti.
"Ibu tau kan, Elin benci sama orang kaya," ucap Elin.
"Tetapi maksud kedatangan mereka baik, Elin," kata ibu panti, Elin lalu pergi meninggalkan mereka.
Arkan dan Dira lalu berpamitan untuk pulang, Dira masih merasa sedih.
"Dira, kenapa teman kamu tadi seperti kecewa sama kamu?" tanya Arkan.
"Kak, kemarin Dira sudah cerita kan," ucap Dira.
"Kamu jangan sedih lagi, dia butuh waktu," kata Arkan, dia sengaja bertanya lagi pada Dira.
"Iya, kak," jawab Dira singkat.
"Dira kita ke kantor sebentar, ya? ada yang harus kakak tanda tangan," jelas Arkan.
"Tapi, lapar kak," ucap Dira, memegang perutnya.
__ADS_1
"Nanti sampai kantor kakak pesan makanan buat kamu," ucap Arkan, tersenyum ke arah Dira.
Sampai di kantor Arkan menyuruh Laura memesankan makan untuk dia dan Dira.
"Dira, kamu tunggu di ruangan ini! jangan kemana-mana nanti Laura datang antar makanan," ucap Arkan.
"Jangan lama-lama, kak!" kata Dira, Arkan lalu meninggalkan Dira di ruang kerjanya.
Tok... tok... tok...
"Masuk," sahut Dira.
"Kamu lagi, ini pesanan pak Arkan," ucap Laura, memberikan makanan yang dia bawa pada Dira.
"Terimakasih, kak," kata Dira.
"Pak Arkan kok bisa suka sama, kamu?" tanya Laura.
"Karena aku cantik," ucap Dira asal, sambil membuka makanan itu.
"Cantikan juga aku," sahut Laura.
"Tapi kak Arkan tidak suka," kata Dira, membuat Laura kesal.
"Kalian kenapa?" tanya Arkan, yang baru saja datang.
"Pak, saya permisi keluar, pesanan bapak tadi sudah saya berikan ke kekasih bapak," ucap Laura, lalu pergi dari ruangan Arkan.
"Duduk, kak! ini makan dulu!" ucap Dira.
"Dira, kenapa kamu bilang kalau kamu kekasih ku?" tanya Arkan.
"Biar tidak ada yang ganggu kakak lagi," ucap Dira.
"Laura sudah lama kerja di sini, jadi tidak akan ganggu," jelas Arkan.
"Kakak suka sama dia?" tanya Dira.
Arkan tersenyum mendengar pertanyaan Dira, dia menatap Dira, lalu Dira menundukkan kepala karena malu.
"Kenapa kak Arkan menatap ku seperti itu? aku malu, jantung ku kenapa juga kok berdetak? tidak... aku tidak boleh suka sama kak Arkan," ucap Dira dalam hati.
"Dira, ayo habiskan makanan kamu! terus kita pulang!" ucap Arkan.
"Iya, kak, ini Dira juga makan lagi," jawab Dira.
Arkan memangil Laura ke ruangan dia, untuk memberikan laporan kerjanya. Laura tampak mencari perhatian Arkan di depan Dira, membuat Dira semakin kesal.
"Kakak, ayo kita pulang!" ajak Dira.
"Sebentar, ini belum selesai," ucap Arkan.
"Masih lama ya, kak?" tanya Dira.
"Sudah kok, ayo kita pulang!" ajak Arkan.
Setelah Laura keluar dari ruangan Arkan, mereka lalu pulang ke rumah. Arkan mengantarkan Dira pulang terlebih dahulu.
Bersambung.......
__ADS_1