
Malam ini Dira dan Arkan sedang berada di sebuah cafe, mereka makan malam sekaligus merayakan hari jadian mereka. Arkan memberikan sebuah buket bunga untuk Dira, malam ini adalah malam yang paling mengesankan buat Dira.
"Kak, makasih buat semua. Dira sangat bahagia, baru ini Dira dapat bunga dari orang spesial," ucap Dira.
"Kalau gitu setiap hari akan aku kirimkan bunga untukmu," ucap Arkan.
"Jangan setiap hari, Kak! nanti uang Kakak habis buat beli bunga," ucap Dira, membuat Arkan tersenyum.
"Biar kamu selalu bahagia," ucap Arkan.
Dira mencium bunga itu, karena masih segar dan baunya wangi.
"Ketemu Kakak, setiap hari Dira sudah bahagia," kata Dira.
"Dira, Luna pasti nungguin kamu ini. Mau ke sana tidak?" tanya Arkan.
"Tidak, Kak. Dira mau sama Kakak aja," ucapnya.
"Aku akan mengajak mu ke suatu tempat, kamu mau kan?" tanya Arkan, ia ingin mengajak Dira ke rumah barunya.
"Kemana?" tanya Dira singkat.
Arkan kemudian mengajak Dira ke rumah itu, jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah Dira. Rumah itu terletak di dalam perumahan mewah.
"Kak, kok masuk ke perumahan! kita mau ke rumah siapa?" tanya Dira.
"Nanti kamu juga tau," jawab Arkan.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah, rumah yang masih baru dan terlihat belum ada penghuninya. Arkan mengajak Dira untuk masuk, Dira tidak mau karena takut di marah i pemiliknya.
"Ayo kita masuk!" ajak Arkan, ingin memperlihatkan isi rumah itu pada Dira.
"Gak mau! nanti pemiliknya marah. Masa kita masuk tanpa permisi," tolak Dira.
Dira lalu masuk ke dalam rumah, karena Arkan terus memaksanya.
"Kak, ini rumah siapa? kok tidak ada orang?" tanya Dira, melangkahkan kaki menuju meja yang ada di ruang tamu karena melihat sesuatu.
"Rumah kita nanti, gimana? kamu suka tidak?" tanya Arkan.
"Kita? ini ada buku Elang di sini," ucap Dira seraya menunjukkan buku milik Elang pada Arkan.
"Elang sering tidur di sini kalau siang," kata Arkan.
"Pantesan ngilang mulu, ternyata ngumpet di sini," kata Dira.
__ADS_1
Arkan lalu mengajak Dira berjalan mengelilingi isi rumah, ia meminta pendapat Dira jika ada yang Dira tidak suka akan di renovasi lagi.
Dira menyukai kamar rumah itu, karena pintunya berhadapan langsung dengan kolam renang. Dira membuka pintu kamar itu, lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Arkan tersenyum melihat kelakuan Dira, yang aneh menurutnya.
"Kamu suka, kan?" tanya Arkan duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu.
"Iya, Kak. Maunya langsung nempatin tapi, Dira gak mau kita buru-buru nikah," ucap Dira.
"Alasannya apa? kalau kamu mau boleh tempati dari sekarang," kata Arkan. Gak usah nunggu nikah dulu," Lanjutnya.
"Dira sebenarnya takut kalau gak bisa jadi istri yang baik buat, Kakak," ucap Dira. Bahkan sikap dia masih manja dan seperti anak kecil, membuat Dira ragu sendiri untuk menikah.
"Aku sudah bilang, aku tidak mempermasalahkan itu," ujar Arkan yang sebenarnya memang suka sama Dira sejak sering menghukumnya.
"Rumah ini besar, Kak! nanti Dira gak bisa bersih-bersih, gak bisa masak, gak...
"Gak bisa apa lagi?" tanya Arkan memotong ucapan Dira.
"Dira belum selesai bicara, Kakak!" ucap Dira agak keras, karena kesal dengan Arkan.
Arkan kemudian keluar dari kamar itu, dia menerima telepon dari Elang. Elang marah-marah karena dari tadi nunggu Arkan dan Dira, tetapi tidak datang ke rumah Luna.
Di rumah Luna.
"Coba kamu telepon Dira, Luna!" pinta Elang.
Luna mencoba menelpon Dira, tetapi tidak bisa dihubungi karena Dira mematikan ponselnya. "Gak bisa, Elang," ucap Luna.
Elang kemudian menghubungi Arkan, dan menanyakan keberadaan mereka. Elang marah karena Arkan dan Dira, sedang berada di rumah baru.
"Mereka berada di rumah baru Kakak, gak mungkin datang kesini," kata Elang dengan muka kesalnya.
Mereka akhirnya tidak jadi pergi ke pasar malam, karena sudah terlalu malam dan besok harus magang juga.
"Udah Elang, gak usah marah sama mereka! lagian cuaca juga lagi gak bagus, takutnya hujan," ujar Luna.
"Ayo kita nyusulin Dira aja!" ajak Nisa.
"Ayo! tapi aku tidak mau antar kalian pulang, soalnya udah malam," sahut Elang.
Nisa kemudian melihat jam yang melingkar di tangannya. "Iya, udah jam sepuluh," ujarnya.
Elang kemudian berpamitan pulang, karena tidak enak dengan Ibu Luna. Sedangkan Luna mengajak Nisa untuk beristirahat.
***
__ADS_1
Di rumah Bunda Sinta belum bisa tidur, karena anak-anaknya belum ada yang pulang ke rumah.
"Bun, kenapa dari tadi mondar-mandir?" tanya Ayah Arkan.
"Anak-anak belum pulang, Yah. Ini udah malam," jawab Bunda Sinta.
"Mereka sudah dewasa, Bun! jangan terlalu dipikirkan," kata Ayah lagi.
"Untuk saja Ayah pulang, kalau tidak Bunda di rumah sendiri," ucap Bunda Sinta.
"Bunda, harus membiasakan diri karena setelah menikah nanti Arkan tinggal di rumahnya," ujar Ayah.
"Ikut tinggal di sana nanti, Yah," kata Bunda Sinta.
Suara ketukan pintu, membuat Bunda Sinta merasa lega akhirnya ada yang pulang anaknya. Padahal ini baru ditinggal keluar rumah, mereka juga pulang.
Ayah kemudian membuka pintu, ternyata Elang yang pulang lebih dulu. Dia menanyakan kepada Elang kenapa baru pulang, ia juga memberitahukan kalau Bunda nya khawatir.
Elang lalu menemui Bunda nya dan memeluknya, dia tau kalau Bunda nya sangat menyayangi kedua anaknya.
"Elang, kenapa pulang malam sekali?" tanya Bunda Sinta. Kakak kamu juga belum pulang," Lanjutnya.
"Maaf, Bun. Tadi kita nungguin Kakak sama Dira di rumah Luna, ternyata mereka tidak datang," ujar Elang.
"Terus mereka kemana?" tanya Bunda Sinta mulai panik lagi.
"Pergi ke rumah Kakak," jawab Elang sembari bermain ponselnya.
"Apa? mereka berdua, Elang?" tanya Bunda Sinta memastikan apa yang dia dengar.
"Bunda, Arkan sudah dewasa biarkan saja! lagian bentar lagi dia nikah," sahut Ayah nya.
"Gak enak sama jeng Meri, Yah. Arkan juga kenapa malam-malam belum pulang," kata Bunda Sinta.
Ayah dan Elang lalu menasehati agar Bunda nya tenang, tak lama kemudian Bunda Sinta mendapat telepon dari Arkan.
Arkan memberitahukan kalau Dira ketiduran di rumah barunya, dia kebingungan sudah beberapa kali membangunkan tetapi tidak juga bangun. Arkan juga sudah memberitahukan pada Mamah Meri. Bunda Sinta menyuruh Arkan untuk tidur di sana saja, tetapi dia tidak mau dan akan menunggu sampai Dira bangun.
"Kakak ada-ada saja," gerutu Elang.
"Apa kita perlu ke sana, Yah?" tanya Bunda Sinta.
"Tidak perlu Bun, mereka pasti bisa jaga diri," ucap Ayah.
Kemudian mereka kembali ke kamar untuk beristirahat, waktu juga sudah tengah malam.
__ADS_1