Sahabat

Sahabat
Bab 73


__ADS_3

"Ada apa, Elang?" tanya Dira.


"Dira, kamu tidak menepati ucapan kamu," kata Elang.


"Ucapan apa?" tanya Dira, kebingungan dengan apa yang dikatakan Elang.


"Kamu masih saja jalan sama Kakak," kata Elang.


"Lagian Kak Arkan yang ngajakin, sebentar lagi dia mau menikah," kata Dira, membuat Elang kaget.


"Nikah! sama siapa?" kaget Elang.


"Gak tau! kemarin bilang begitu, Elang," ucap Dira.


Dalam hati Elang bertanya-tanya kenapa dia sama sekali tidak di beri tahu, apa sudah tidak di anggap keluarga. Pikiran Elang saat ini sedang kacau, dia kemudian segera pulang ke rumah.


"Kebetulan Elang, kamu sudah pulang," kata Bunda Sinta. Ada yang ingin bunda bicarakan," Lanjutnya.


"Soal pernikahan Kakak," ucap Elang.


"Iya, maaf Bunda baru sempat bilang," kata Bunda Sinta.


"Tidak apa-apa, Bunda. Elang ngerti," kata Elang.


Bunda Sinta menceritakan rencananya dengan Mamah Meri pada Elang, hancur sudah harapan Elang. Kedua keluarga itu sudah menyetujui dan ternyata mereka merencanakan sudah sejak lama. Elang tidak berani membantah atau minta digagalkan. Dia sudah pasrah dengan semuanya,

__ADS_1


"Berati Dira belum tau, kalau akan dijodohkan dengan Kakak?" tanya Elang.


"Tante Meri belum memberitahu, El," jawab Bunda Sinta.


Elang tak kuasa melanjutkan percakapannya dengan Bunda Sinta saat ini, dia langsung pergi ke dalam kamarnya.


"Kenapa harus Dira yang akan menjadi Kakak ipar buat aku," ucapnya dalam hati.


Bunda Sinta khawatir dengan Elang, dia menyusul ke dalam kamar Elang untuk memastikan keadaan Elang.


"Elang, kamu makan dulu!" kata Bunda Sinta.


"Ayo makan bareng, Bun!" ajak Elang, dia berusaha bersikap biasa saja, agar keluarganya tidak khawatir.


Sembari menunggu Arkan pulang, Elang dan Bunda Sinta makan bersama.


"Elang aneh tiba-tiba pulang," ucap Dira.


"Cemburu mungkin dia, makanya langsung pulang," kata Luna.


"Gak Luna, aku sama Kak Arkan hanya berteman," kata Dira.


"Pak Arkan mau nikah sama siapa, Dira?" tanya Nisa.


"Aku juga belum tau, nanti kalau ketemu Tante Sinta aku tanya," jawab Dira.

__ADS_1


"Semoga dijodohkan sama aku," kata Nisa.


"Mimpi kamu, Nisa!" ucap Luna.


"Kamu tidak tau saja Luna, kalau mimpi itu lebih indah dari pada kenyataan," kata Nisa.


"Bener juga, Nisa. Biasanya kenyataan itu pahit," kata Dira.


"Kalian berdua masih saja mengeluh, coba jadi aku," sahut Luna.


"Makanya aku salut sama kamu Luna, kuat menghadapi kenyataan. Aku bangga dengan Ibu, berjuang sendiri membesarkan kamu," kata Dira, sembari memeluk Luna, Nisa juga ikut memeluk Luna.


"Kalian mulai sekarang tidak boleh mengeluh lagi! Jalani dengan senang hati, apapun yang terjadi," kata Luna.


"Pasti itu, Luna. Aku juga akan menerima perjodohan itu," ucap Dira.


"Apa? kamu dijodohkan, Dira!" kaget Nisa.


"Iya, bahkan aku belum tau dijodohkan sama siapa," kata Dira.


"Ini bukan jaman Siti Nurhaliza kenapa juga mau, Dira," ucap Nisa.


"Siti Nurbaya kali, Nisa," sahut Luna.


Mereka bertiga tertawa, alasan Dira mau menerima perjodohan itu karena ingin membahagiakan orang tuanya. Dira mengajak Luna dan Nisa pergi ke butik Mamahnya.

__ADS_1


Hari ini Dira akan memilih baju yang di pakai saat tunangan nanti, Mamah Meri dan Bunda Sinta sudah menyiapkan semuanya.


Tempat untuk melangsungkan pertunangan juga sudah mereka siapkan, ke dua orang tua itu sangat bersemangat sekali. Berbeda dengan anaknya yang masih santai.


__ADS_2