Sahabat

Sahabat
Bab 42


__ADS_3

Saat ini Mamah Meri dan bunda Sinta sedang berkunjung ke rumah Luna, mereka di antar oleh Elang. Ibu Luna sangat senang menyambut kedatangan mereka, sudah lama tidak bertemu dan bercerita.


Kedatangan mereka tak lain ingin memberikan oleh-oleh yang di beli saat liburan kemarin.


"Jeng, Dira mana kok tidak di ajak?" tanya Ibu Luna.


"Tadi ada di rumah jeng, kelihatanya mau pergi juga tadi," jawab Mamah Meri.


"Arkan kemarin juga minta izin mau ajak Dira pergi, jeng," sahut Bunda Sinta.


"Dira sekarang sudah besar, cantik lagi," puji Ibu Luna.


"Maaf ya, jeng. Dulu sering merepotkan menitipkan Dira di sini," ucap Mamah Meri.


"Justru saya senang, karena Luna ada temannya," kata Ibu Luna.


Memang benar dulu waktu masih sekolah menengah Dira sering di titipkan di rumah Luna, karena Mamah Meri sering ke luar kota. Dira menjadi mandiri dan mau berkerja karena belajar dari kehidupan Luna yang sangat sederhana.


Elang dan Luna hanya menjadi pendengar saat orang tua mereka bercerita.


"Elang, Luna kenapa kalian diam saja?" tanya Bunda Sinta.


"Bunda sedang asyik cerita gitu, nanti kalau Elang ikut bicara takut gak nyambung," ucap Elang.


"Tidak kalau ganggu Elang," sahut Mamah Meri.


Luna hanya tersenyum, dia sangat terharu karena Mamah Meri dan Bunda Sinta mau berkunjung ke rumahnya. Orang tua dari sahabatnya itu juga tidak pernah membedakan, walaupun Luna bukan orang berbeda seperti mereka.


Luna dan Elang kemudian berbincang-bincang di teras rumah, mereka tidak ingin mengganggu orang tua yang sedang bertukar cerita.


"Elang, Dira pergi kemana dengan pak Arkan?" tanya Luna penasaran, karena dia melihat akhir-akhir ini Dira sangat dekat dengan Arkan.


"Mana aku tau, Luna," jawab Elang.


"Kalau Dira ikut kesini kan ramai, apalagi ada Nisa," ucap Luna.


"Dira memang lagi dekat sama kakak kelihatannya," tebak Elang.


"Baguslah, semoga saja Dira punya pacar biar tidak manja," ucap Luna.


"Apa? aku tidak akan membiarkan mereka berdua pacaran," kata Elang.


"Kenapa? kamu cemburu?" tanya Luna.


"Luna, coba kamu pikir. Keluarga kita sangat dekat, bahkan sudah seperti saudara masa kakak sama Dira pacaran," jelas Elang.


"Kalau jodoh tidak kemana, Elang," ucap Luna.


"Yang dipikirkan akhirnya nanti, kalau mereka berantem terus orang tua ada yang tidak terima nanti bisa jadi musuh," kata Elang.

__ADS_1


"Kalau di lihat tante Meri dan tante Sinta tidak mungkin sampai bermusuhan, mereka sangat bijak," ucap Luna.


"Jangan bahas itu, Luna," kata Elang, yang sebenarnya dia suka sama Dira sejak lama tetapi dia tidak pernah mengungkapkan karena alasan yang dijelaskan pada Luna tadi.


***


Arkan saat ini sedang mengajak Dira untuk pergi ke toko buku, dia sengaja mengajak Dira karena menurut Arkan, Dira bisa dijadikan teman untuk saling berdiskusi soal buku.


"Kakak, buku ini menarik kelihatannya," ucap Dira.


"Coba lihat," kata Arkan, meminta buku yang sedang di pegang oleh Dira.


"Kamu mau jadi pebisnis?" tanya Arkan.


"Tidak, Dira ingin menjadi orang yang sederhana, tapi banyak uang biar bisa membantu orang yang membutuhkan," jawab Dira.


"Kalau tidak berkerja dan berusaha, dari mana dapat uang?" tanya Arkan lagi.


"Minta kak," jawab Dira.


"Iya, percaya Mamah dan Papah kamu orang kaya," ucap Arkan.


"Dira mau minta ke suami Dira nanti setelah menikah," jawab Dira asal.


"Matre juga kamu, belum menikah saja sudah mau minta," ledek Arkan.


Arkan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dira, kemudian mereka mencari buku yang lain. Setelah mendapatkan buku yang di cari Arkan, mereka makan di sebuah cafe dan bertemu dengan Sisil yang bersama Leo.


"Dira, kamu mau makan apa?" tanya Arkan.


"Apa ya? ngikut kakak aja," jawab Dira.


Arkan lalu memesankan makanan kesukaan Dira, sambil menunggu makanan datang mereka bercerita tentang buku yang di beli.


"Kak, apa buku ini nanti akan digunakan untuk mengajar?" tanya Dira.


"Tidak, buku ini buat bacaan di rumah," jawab Arkan.


"Dira!" teriak Leo, saat melihat Dira.


"Leo, kamu ke sini sama siapa?" tanya Dira.


"Itu, Sisil," tunjuk Leo.


"Boleh kita gabung di meja kalian?" tanya Leo.


"Silahkan, Leo," ucap Arkan.


Kemudian Leo mengajak Sisil untuk duduk bergabung bersama Dira dan Arkan, awalnya Sisil menolak tetapi Leo tetap memaksa Sisil.

__ADS_1


"Pak Arkan, kita gabung disini boleh?" tanya Sisil.


"Boleh," jawab Arkan singkat.


"Leo, sebenarnya aku tidak nafsu makan duduk di meja bareng pelayan cafe," ucap Sisil.


"Disini tidak ada pelayan cafe, yang ada Dira dan Pak Arkan," kata Leo, sambil melihat Dira.


"Jaga ucapan kamu, Sisil," sahut Arkan.


Dira hanya diam saat Sisil menghinanya, karena akan membuang waktu jika di ladenin. Akhirnya makanan mereka datang, hening tidak ada percakapan mereka fokus dengan makanan masing-masing. Setelah selesai makan Arkan mengajak Dira untuk pulang terlebih dahulu.


"Leo, kamu apa-apaan ngajak makan bareng mereka," ucap Sisil.


"Apa salahnya? kita juga mengenal mereka," kata Leo dengan santai.


"Aku tidak suka," ucap Sisil.


"Kamu tadi bilang tidak nafsu makan, kenyataannya makanan kamu juga habis," kata Leo.


Sisil tidak menjawab ucapan Leo, dia fokus dengan ponsel genggamnya. Leo hanya tersenyum melihat Sisil yang selalu bersikap tidak baik dengan Dira.


Di perjalanan pulang Arkan seperti biasa mengajak Dira untuk ke kantornya terlebih dahulu, Dira menolak untuk turun dari mobil.


"Kak, Dira tunggu di sini saja," ucap Dira.


"Ini di parkiran Dira, ayo kita masuk saja!" ajak Arkan.


"Tidak, Dira malu kak," tolak Dira.


"Ok, tapi kamu jangan kemana-mana!" kata Arkan.


Arkan lalu meninggalkan Dira di dalam mobilnya, dia masuk ke dalam kantor. Pekerjaan Arkan di kantor memang tidak terlalu sibuk, karena sudah banyak yang membantu sekarang.


"Pak, hari ini bapak ada jadwal meeting," ucap Laura, saat Arkan berada di ruangannya.


"Kenapa mendadak sekali?" tanya Arkan.


"Seharusnya besok pak, tapi saya pikir lebih baik sekarang," jelas Laura.


"Aku sudah pernah bilang kalau mau merubah jadwal konfirmasi dulu, jangan mendadak seperti ini!" ucap Arkan sedikit emosi.


"Maaf, pak," kata Laura.


Arkan kemudian memberitahu pada Dira kalau ada meeting, dia menyuruh Dira untuk ke ruangannya tetapi Dira tetap menolak.


Saat melihat kedatangan Arkan dan Dira, Laura tadi segera merubah jadwal meeting Arkan. Dia sengaja ingin membuat Dira menunggu Arkan lama, beruntung teman Arkan yang di jadwalkan meeting tidak marah.


Di ruang meeting Arkan memulai meeting nya agar cepat selesai, dia tidak enak meninggalkan Dira menunggu lama.

__ADS_1


__ADS_2