Sahabat

Sahabat
Bab 54


__ADS_3

Dira mulai mengetuk pintu rumah Riri, dengan senyuman yang sangat ramah Riri menyambut kedatangan Dira dan Arkan.


"Arkan, Dira, ayo silahkan masuk! kita bicara di dalam," ucapnya sambil tersenyum.


"Aku datang ke sini ada perlu," ucap Arkan.


"Pasti soal Dion, kan? untuk masalah itu kalian tidak perlu ikut campur," ucap Riri.


"Riri, aku ingin kamu kembali seperti dulu. Sebelum mengenal dunia malam," jelas Arkan.


"Itu sudah menjadi pekerjaan tetap buat aku, lagian kalau aku menikah juga tidak ada yang mau," kata Riri.


"Kak Riri, jangan putus asa," kata Dira.


"Dira, kalau kamu jadi aku apa yang akan kamu lakukan?" tanya Riri.


"Tidak akan mengulang lagi, pastinya akan mencari kehidupan yang lebih baik," kata Dira. Karena suatu kesalahan bisa diperbaiki," Lanjutnya.


Riri memikirkan ucapan Dira, dia sangat menyesal sebenarnya.Bagi Riri apa yang dia lakukan di masa lalu dengan Dion sangatlah fatal.


"Riri, apa kamu mau memaafkan Dion?" tanya Arkan.


"Aku sudah memaafkan, tetapi aku tidak ingin menemuinya lagi," kata Riri.


Arkan lalu menjelaskan soal Dion yang ingin meminta maaf pada Riri dan mau memberikan pekerjaan yang layak di kota lagi. Awalnya Riri menolak apa yang di katakan oleh Arkan.

__ADS_1


Dira ikut membujuk Riri agar mau ikut kembali ke kota dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Riri bingung harus tinggal di mana, karena orang tuanya saat ini sedang marah dengannya.


Setelah cukup lama membujuk Riri, akhirnya dia mau bertemu dengan Dion. Dion juga menyiapkan sebuah tempat tinggal untuk Riri, semua yang menanggung Dion.


Dia melakukan semua, karena rasa bersalah dan sebagai bentuk tanggung jawab.


"Kakak, lebih baik ikut ke kota saja. Nanti kita bisa makan bareng," sahut Nisa, di tengah-tengah mereka membujuk Riri.


"Makan?" tanya Dion, yang keheranan dengan Nisa.


"Iya, makan. Biar kita semua sehat," ucap Nisa.


"Nisa, kita lagi serius ini," kata Dira, melirik ke arah Nisa.


Riri hanya tersenyum, dia merasa semangat untuk menjadi lebih baik menjadi hidup kembali setelah bertemu dengan Dira dan Nisa.


"Kalau begitu lebih kamu beres-beres barang yang mau di bawa, Riri," kata Arkan.


Riri segera membereskan barang-barangnya di bantu oleh Dira dan Nisa.


"Kalian baik sekali mau bantu aku," kata Riri.


"Dari dulu kita selalu baik, Kak," ucap Nisa.


"Nisa, gak boleh gitu," sahut Dira.

__ADS_1


"Dira memang selalu seperti itu, tidak pernah mengakui kalau dia itu baik," kata Nisa.


Ucapan Nisa membuatnya terkena lemparan gulungan kertas dari Dira, tetapi mengenai Arkan yang sedang ngobrol dengan Dion.


"Dira!" teriak Arkan.


"Nisa tadi, Kak," ucap Dira.


"Kebiasaan kamu selalu melempar apa-apa sembarangan, untung kena aku. Kalau kena orang lain gimana?" ucap Arkan.


"Kak, maksudnya Dira tadi mau lempar ke Nisa," jelas Dira.


Nisa menertawakan Dira dengan terbahak-bahak. Sementara Arkan dan Dira masih berdebat. Diam-diam Riri dan Dion saling menatap.


"Sudah belum? kita harus segera berangkat!" kata Arkan, mengalihkan perdebatan nya dengan Dira.


Mereka semua sudah siap untuk pergi ke kota, Riri ikut dengan mobil Arkan. Dia tidak mau satu mobil dengan Dion.


"Semoga tidak macet dan kita tidak kemalaman," ucap Dira.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2