Sahabat

Sahabat
Bab 85


__ADS_3

Pagi ini Dira tidak berangkat magang, Arkan tidak menjemput Dira karena harus ke kampus dulu baru ke kantor. Dira malah asyik belajar membuat kue dengan Bunda Sinta, Mamah Meri tidak bisa ikut membuat kue karena ada keperluan di butik nya.


"Dira, bahan untuk membuat kue ada di meja dapur! Mamah buru-buru," ucap Mamah Meri.


"Tapi, Mah...


Mamah Meri sudah keluar rumah lalu pergi dengan mengendarai mobilnya, sedangkan Dira langsung mengambil bahan yang sudah di siapkan oleh Mamahnya dan membawa ke rumah Bunda Sinta.


"Semoga Kak Arkan dan Elang sudah berangkat," ucap Dira saat berada di jalan menuju rumah Arkan.


Dira mengetuk pintu rumah Arkan, ternyata yang membukakan pintu Bunda Sinta sendiri.


"Dira, kamu sudah datang! ayo masuk, sayang!" ajak Bunda Sinta.


"Iya, Tante. Tadi Mamah juga suruh Dira bawa ini," ucap Dira, menunjukkan tas plastik yang dia bawa.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dapur.


"Kebetulan kamu libur, jadi kita bisa belajar membuat kue," ucap Bunda Sinta.


"Sebenarnya gak libur, Tante. Dira gak mau magang lagi," ucap Dira.


"Nanti gimana dengan nilai kuliah, kamu?" tanya Bunda Sinta.


"Pindah kampus, tante. Besok mau bilang sama Papah," ucap Dira.


"Jangan gitu, sayang. Kapan nikah nya kalau gitu," ucap Bunda Sinta.


"Kapan saja Tante, mau besok juga bisa. Yang penting Dira tetap kuliah," kata Dira.


"Aduh aku salah ngomong lagi," ucap Dira dalam hati.


Bunda Sinta sangat senang mendengar ucapan Dira, dia sudah tidak sabar untuk mempercepat pernikahan Arkan dan Dira.


"Beneran? Tante senang sekali Dira," ucap Bunda Sinta lalu memeluk Dira.


Dira menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sekarang ia bingung harus berbuat apa gara-gara salah bicara.


***


Luna dan Nisa saat ini berada di kantor milik Sisil, mereka kembali magang karena takut nilainya di bikin jelek. Mereka di suruh membersihkan rumput lagi dan membersihkan lingkungan kantor. Kali ini mereka tidak berani membantah karena Dira tidak ada. Saat waktu makan siang mereka bertemu dengan Arkan.


"Luna, Nisa baju kalian kenapa kotor sekali?" tanya Arkan.


"Biasa habis cabut rumput di kantor," jawab Nisa.


"Kurang kerjaan kalian! bukannya belajar bikin laporan atau apa malah cabut rumput, gimana nanti kalian kalau kerja di perusahaan," kata Arkan.

__ADS_1


"Emang kita yang mau," ucap Luna.


"Dira mana? kok gak bareng kalian?" tanya Arkan, panik takut di kerjain sama Sisil.


Luna dan Nisa bingung dengan Arkan kenapa malah tanya dengan mereka, padahal yang dekat rumahnya Arkan.


"Dira udah gak mau magang lagi di kantor Sisil," jawab Luna.


"Ya sudah! terimakasih, aku duluan," ucap Arkan kemudian bergegas pergi ke rumah Dira.


Luna dan Nisa kembali lagi ke kantor, untuk melanjutkan membersihkan rumput. Sisil keluar dan menghampiri mereka.


"Yang bersih kalau kerja! niat gak sih!" ketus Sisil.


"Kita juga niat!" kata Nisa tak kalah ketus juga.


"Awas kalian kalau sampai lapor ke dosen!" kata Sisil


"Pak Arkan sudah tau, kalau kita kamu suruh membersihkan rumput," sahut Luna.


"Dasar kalian tukang ngadu, kalau punya mulut di jaga!" kata Sisil kemudian pergi meninggalkan Luna dan Nisa.


Luna dan Nisa tidak takut dengan ancaman Sisil sekarang, karena mereka harus menegakkan keadilan. Kalau mengalah terus Sisil pasti akan terus menindas nya.


Arkan saat ini bingung mencari Dira, dia mencari di kampus terlebih dahulu sekalian lewat. Di kampus Arkan bertemu dengan Elang.


"Kakak ipar hilang, ya? Elang gak lihat, bukannya magang dia," kata Elang.


"Dia gak mau magang di kantor Sisil lagi," ucap Arkan, sembari melihat sekeliling kampus.


"Kakak, sudah ke rumahnya?" tanya Elang.


"Belum juga, ini dari kantor mampir sini," kata Arkan.


"Lebih baik cari di rumah. Nanti kalau Elang ketemu disini, Elang kasih tau," ucap Elang.


Arkan menuruti apa kata adiknya, dia pulang ke rumah Dira terlebih dahulu. Di jalan Arkan baru ingat kenapa tidak menghubungi lewat telepon.


"Kenapa aku tidak hubungi Dira dari tadi," gerutu Arkan kemudian mengambil telepon genggamnya dan mencoba menghubungi Dira. Tetapi tidak bisa, karena Dira mematikan telepon genggamnya.


Arkan pergi ke rumah Dira, tapi tak ada orang satupun yang berada di rumah. Kemudian dia pulang ke rumahnya, ia melihat Dira di rumahnya.


"Dira, kamu kemana saja? aku cariin," ucap Arkan. Aku telepon juga gak bisa," Lanjutnya.


"Cari kemana, Kak? Dira sengaja matiin," kata Dira.


"Ke kampus, ke rumah gak ada, ternyata di sini. Bunda mana?" ucap Arkan.

__ADS_1


"Ada di kamarnya, tadi Om telepon," kata Dira.


"Sekarang kamu, sini! aku mau tanya?" ucap Arkan.


"Tanya aja, Kak. Ini Dira lagi aduk tepung," kata Dira sembari menuang tepung ke dalam wadah.


"Sini dulu!" kata Arkan.


"Enggak mau!" tolak Dira malah menyibukkan diri.


Arkan menarik tangan Dira, lalu menyuruhnya untuk duduk.


"Kakak, ngapain maksa terus," ucap Dira lalu duduk di kursi yang ada di dapur.


"Kenapa kamu tidak mau magang di kantor Sisil? jawab dengan jujur!" kata Arkan.


"Gak usah galak-galak, Kak. Dira gak mau magang di sana karena di suruh cabut rumput," kata Dira.


"Itu aja alasannya? jangan seperti anak kecil, kamu bisa bilang ke atasannya," kata Arkan.


"Arkan, kamu sudah pulang?" tanya Bunda Sinta yang baru saja keluar kamar.


"Iya, Bunda. Arkan nyari Dira, gak mau magang," jawab Arkan.


"Kalau Dira tidak mau jangan di paksa," kata Bunda Sinta.


Dalam hati Dira sangat senang, karena ada Bunda Sinta yang membelanya, Bunda Sinta malah menyalahkan Arkan.


"Bunda, nanti kalau nilai Dira gak bagus gimana? Tante Meri pasti marah ke Dira," kata Arkan.


"Gak masalah kalau soal nilai, lagian Dira mau di percepatan nikahnya," kata Bunda Sinta membuat Arkan kaget sedangkan Dira membelalakkan matanya.


"Apa?" kata Arkan.


"Maksudnya pernikahan kalian di percepatan," ucap Bunda Sinta lagi.


"Oh... jadi Dira udah gak mau magang lagi, gak mau lanjut kuliah, minta segera nikah gitu?" tanya Arkan.


"Benar kan, Dira?" tanya Bunda Sinta.


"Kakak ipar gak sabaran ternyata," sahut Elang yang tiba-tiba datang.


Dira malu lalu menundukkan kepalanya, "Kenapa jadi seperti ini, bisa-bisa aku nikah beneran gak jadi kuliah," ucapnya dalam hati.


"Dira di tanya malah bengong," kata Elang lagi.


"Ayo Dira, kita lanjut buat kuenya? jangan pedulikan anak-anak Tante," ucap Bunda Sinta.

__ADS_1


Memecahkan suasana tegang, mungkin Dira malu untuk menjawab pertanyaan Arkan itulah yang ada dipikiran Bunda Sinta.


__ADS_2