Sahabat

Sahabat
Bab 111


__ADS_3

Arkan mengambil kucing Dira, dari tadi dia ada di situ tidak berhenti juga. Ia ingin membawa kucing itu pulang, tetapi tidak diperbolehkan oleh Dira.


Kucing itu di rawat Dira dari masih kecil, sehingga saat nurut dengan majikannya.


"Balikin, Kak! nanti Dira tidak ada teman," kata Dira dengan cemberut.


"Aku mau bawa pulang, siapa suruh dari tadi main kucing terus," ucap Arkan sembari mengelus bulu kucing itu.


"Awas saja kalau kenapa-napa!" ancam Dira yang sangat menyayangi kucing itu.


"Cici cantik juga, gak sabar pingin bawa pulang ke rumah," ucap Arkan melirik Dira yang cemberut.


Arkan membawa kucing itu keluar rumah Dira, semakin membuat Dira kesal. Dira mengikuti Arkan membawa kucingnya keluar.


"Kak, balikin cici! dia lapar itu, cici mau makan dulu," ucap Dira merengek seperti anak kecil.


Arkan berpamitan pulang pada Dira, ia membawa cici masuk ke dalam mobil. Saat Dira ingin ikut masuk, pintu mobil sudah di tutup oleh Arkan. Ia lalu menjalankan mobilnya ke rumah.


Sampai di rumah Bunda Sinta teriak-teriak, dia takut dengan kucing.


"Arkan!" teriak Bunda Sinta.


"Iya, Bun. Kenapa teriak?" tanya Arkan.


"Bawa pergi itu kucing, Bunda gak mau nanti gigit," kata Bunda Sinta sembari mengambil sapu.


Arkan melepaskan cici di dalam rumah, kucing itu langsung melompat dan naik di atas sofa.


"Awas nanti Bunda pukul kalau masuk ke dapur," ucap Bunda Sinta lalu kembali ke dapur.


Arkan duduk sambil bermain dengan cici, dia lupa tidak membawa makanan cici. Dia kemudian masuk ke dalam kamar, cici masuk ke dapur membuat Bunda Sinta teriak lagi.


"Arkan! Bunda usir ini kucing!" teriak Bunda Sinta menghentikan potong sayur.


Tak lama kemudian Dira datang, mengetuk pintu. Bunda Sinta dengan cepat membuka pintu itu.


"Dira, untung kamu datang! Arkan bawa kucing masuk dapur, tolong kamu usir ya," ucap Bunda Sinta dengan panik.


"Cici masuk ke dapur, Bunda," kata Dira lalu pergi ke dapur mengambil cici dan memeluknya.

__ADS_1


Dira sangat takut cici kenapa-napa, makanya dia langsung menyusul Arkan. Bunda Sinta meminta Dira membawa kucingnya ke kamar Arkan, agar dia bisa memasak dengan tenang.


"Arkan ada di kamarnya, kamu antar ke sana saja kucing itu, sayang," ucap Bunda Sinta seraya melanjutkan memotong sayur.


"Ini kucing Dira, Bun. Tadi di bawa Kak Arkan, untung saja cici baik-baik saja," jelas Dira.


"Arkan keterlaluan sudah tau Bunda takut kucing malah di bawa pulang," kata Bunda Sinta.


Dira lalu mendekatkan kucing itu pada Bunda Sinta, awalnya Bunda Sinta menghindar tetapi cici kucing yang jinak dan nurut asal di panggil namanya.


Bunda Sinta sejak lama takut kucing, karena pernah di gigit saat membawa ikan waktu pulang dari pasar. Semenjak kejadian itu Bunda Sinta sangat takut, dan merasa tidak suka dengan kucing.


Dira melepaskan kucingnya di dalam kamar Arkan, lalu dia membantu Bunda Sinta memasak. Bunda Sinta sangat senang di bantu oleh Dira, moment seperti ini yang dia tunggu-tunggu makanya ingin cepat punya menantu.


"Sayang, masa kamu manggil calon suami sendiri Kakak," ucap Bunda Sinta dengan lembut.


"Dira bingung, Bun. Sudah terbiasa jadi susah," ucapnya malu-malu kucing.


Bunda Sinta tersenyum, dia juga memaklumi karena belum terbiasa.


Dira kemudian hendak masuk ke dalam kamar Arkan untuk mengambil cici, dia ingin membawanya pulang. Tetapi Arkan sedang mengajak cici bermain-main, Dira jadi tidak enak mau mengambilnya.


"Masuk! jangan cuma di pintu," ucap Arkan saat tau kalau Dira berada di depan pintu.


Arkan tidak memberikan cici ke Dira, karena masih ingin bermain dengan cici.


***


Leo saat ini pergi ke rumah Sisil, tak sengaja melihat foto yang Sisil edit. Ia langsung meminta foto itu, karena ia tidak merasa pernah foto berdua dengan Dira.


"Dari mana kamu dapat foto ini?" tanya Leo sedikit emosi.


"Aku yang mengambil foto itu, saat kalian sedang di cafe," jawab Sisil dengan santai.


"Sisil, kamu dengar! aku sama sekali tidak pernah foto berdua dengan Dira, jadi tolong jangan membuat masalah baru!" kata Leo dengan tegas.


"Aku tidak peduli, Leo! jadi kamu jangan menghalangi rencana ku," kata Sisil.


"Kamu benar-benar jahat, Sisil!" ucap Leo.

__ADS_1


Sisil hanya tersenyum saat Leo bicara dengannya, jadi percuma bilang ke Sisil.


"Asal kamu tau! dulu Dira pernah menggagalkan pertunangan aku dengan Arkan, sekarang saatnya aku harus membalas perbuatannya," jelas Sisil.


"Harusnya kamu bisa introspeksi diri, sebelum berbuat jahat dengan orang lain. Bahkan kamu juga tidak tau apa sebabnya Arkan memutuskan pertunangan kalian," ucap Leo.


Leo banyak memberi nasehat pada Sisil, walaupun hanya di anggap angin lalu. Sebenarnya dia ingin Sisil itu berubah seperti orang lain, dan tidak membuat masalah. Tetapi masih sama saja, ia berbuat jahat terus terutama dengan Dira.


Keke sahabat Sisil juga membuat Leo kesal, dia selalu mempengaruhi Sisil. Mereka berdua seperti tidak puas kalau belum membuat orang lain celaka atau bermasalah.


"Buang foto yang kamu edit, jangan pernah merusak hubungan orang! kalau masih mau berteman dengan ku," kata Leo tanpa melihat ke arah Sisil.


"Leo, kamu jangan ikut campur masalah ini. Aku bisa menyelesaikan sendiri," ucap Sisil. Dan jangan pernah menyuruh aku tidak menggagalkan pernikahan Dira," Lanjutnya.


Leo kemudian pulang, dia merasa tidak di hargai oleh Sisil. Dia sebenarnya peduli dengan Sisil, tetapi Sisil tidak mau berusaha memperbaiki diri.


Saat berada di jalan ia melihat Nisa, yang sedang duduk di halte. Leo sengaja menghampiri Nisa, mungkin rasa kesalahannya pada Sisil akan hilang.


"Nisa, kamu sendiri aja ini," ucap Leo.


"Dah tau nanya," jawab Sisil sembari memakan camilan yang dia bawa.


"Nisa, aku tanya sesuatu boleh tidak?" tanya Leo.


"Boleh, asal jangan tanya masalah percintaan! aku tidak paham," kata Nisa lalu memasukkan makanan lagi ke dalam mulut.


Leo tersenyum, dia merasa terhibur dengan jawaban Nisa. "Aku cuma mau tanya, kamu udah makan habis berapa piring sehari?" ucapnya.


"Nisa jawab, tapi ada syaratnya. gimana setuju tidak?" tanya Nisa.


"Oke! katakan apa syaratnya?" kata Leo menyetujui syarat Nisa.


"Nanti antar Nisa pulang," ucap Nisa menatap Leo dan memainkan bola matanya.


"Siap kalau itu," kata Leo.


Kemudian Nisa menjawab pertanyaan dari Leo, Nisa modus juga ternyata. Bodohnya Leo mau saja menuruti kata Nisa.


"Kalau di rumah paling lima piring, lauknya suka di umpetin sama Mamah katanya biar tidak di makan kucing. Padahal kucing saja tidak punya," terang Nisa.

__ADS_1


Jangan salah walaupun Nisa doyan makan tetapi badannya menolak untuk gemuk, jadi dia tidak pakai acara diet.


Leo semakin tertawa mendengar jawaban konyol Nisa, belum pernah dia menemui cewek se konyol Nisa.


__ADS_2