
DIRA
LUNA
NISA
ARKAN
ELANG
SISIL
LEO
Pantai yang di kunjungi keluarga Dira sangat indah, mereka sangat bahagia.
Dengan tidak sabar mereka akan bermain ke pantai dulu, tetapi mamah Meri melarang. Mereka harus ke vila milik bunda Sinta terlebih dahulu untuk menurunkan barang yang di bawa.
"Kalian pilih kamar sendiri, di sini ada empat kamar tidur," ucap bunda Sinta.
"Kita bertiga saja, tante," ucap Dira.
"Sebelah ujung ya Dira, di sana kamarnya besar ada dua tempat tidur," tunjuk bunda Sinta.
Dira, Luna dan Nisa kemudian menuju kamar yang di tunjukkan oleh bunda Sinta, hamparan pantai yang begitu indah dapat di lihat dari jendela kamar mereka.
Mereka bertiga sudah tidak sabar ingin bermain air dan pasir di pinggir pantai. Lain halnya dengan Elang yang justru tidur di dalam kamar sedangkan Arkan sibuk dengan laptopnya.
Mamah Meri dan bunda Sinta sedang menyiapkan makanan untuk makan nanti, mereka berbelanja ikan di pasar ikan yang berada di pantai itu.
Selain ikan yang masih segar harganya juga terjangkau, tidak seperti harga di kota tempat mereka tinggal.
"Dira, ayo kita ke pantai!" ajak Luna.
"Nanti saja Luna, ini masih panas," ucap Dira.
"Walaupun panas di pantai pasti sejuk," sahut Nisa.
Luna kemudian keluar dari kamar, dia menemui mamah Meri dan bunda Sinta yang sedang memasak. Kemudian dia ikut membantu memotong sayuran dan mengiris bumbu-bumbu.
"Luna, bagaimana keamanan ibu kamu?" tanya mamah Meri.
"Ibu sudah sehat, tante," jawab Luna.
"Tante belum sempat ke rumah kamu, Luna. Maaf, ya," ucap mamah Meri.
"Tidak apa-apa tante," ucap Luna.
"Luna, kamu teman Dira sama Elang ya?" tanya bunda Sinta.
"Iya, mereka teman Luna tante," ucap Luna.
__ADS_1
"Bun, ini Luna yang pernah Elang cerita sama bunda," sahut Elang, yang tiba-tiba datang.
Bunda Sinta lalu berkenalan dan ngobrol dengan Luna, Elang dulu memang pernah cerita tentang Luna.
"Elang, kamu bantu bakar ikan ya," ucap bunda Sinta.
"Bun, kenapa Elang terus yang di suruh bantu masak? itu kakak ada, dia malah kerja," protes Elang.
"Arkan bawa kerjaan kesini El?" tanya bunda Sinta.
"Lihat saja bun, dari tadi di depan laptop," ucap Elang.
Bunda Sinta kemudian pergi ke kamar yang di tempati oleh Arkan, dia menegur Arkan.
"Ar, bunda ajak kamu kesini buat liburan. Kenapa kamu bawa kerjaan?" tanya bunda Sinta.
"Tanggung bun, sebentar lagi kelar," ucap Arkan, tanpa menoleh ke bunda nya dia justru sibuk dengan laptopnya.
"Besok kerjakan di kantor saja Ar, bunda tidak mau melihat kamu sibuk," omel bunda Sinta.
Arkan kemudian menutup laptopnya dan keluar kamar mengikuti bundanya.
Luna dan Elang saat ini tengah membakar ikan, mereka kelihatan sangat akrab dan saling mengejek.
"Dira sama Nisa di mana Luna?" tanya Arkan.
"Mereka ada di kamar, pak," jawab Luna.
Arkan duduk sambil tersenyum melihat Luna dan Elang membakar ikan.
"Luna, ikannya mirip kamu," ucap Elang.
"Beda, cantikan aku Elang," kata Luna.
"Yang adil ikannya mirip Elang. Iya kan Luna," sahut bunda Sinta.
"Akhirnya selesai juga kita masak jeng," ucap mamah Meri.
"Tinggal kita siapkan di meja makan, jeng," kata bunda Sinta.
Dengan di bantu Arkan, Elang dan Luna makanan akhirnya tertata rapi di meja makan.
Kurang lebih seperti ini makanan yang mereka hidangkan saat ini.
Di dalam kamar.
"Dira, bau ikan bakar. Aku jadi lapar," ucap Nisa.
"Mungkin resto sebelah sedang masak ikan," kata Dira, masih asyik dengan ponselnya.
"Ayo Dira kita keluar kamar!" ajak Nisa.
Dira dan Nisa lalu keluar kamar, mereka menuju ke ruang makan.
"Mah, kok gak ngajak kita bakar ikan," ucap Dira.
"Mamah pikir kalian tidur," ucap mamah Meri.
"Ikannya sudah habis, kalian tidak kebagian," sahut Elang.
"Duduk dulu Dira, Nisa. Ayo kita makan bareng!" ajak bunda Sinta.
"Kakak ganteng, gak sisain buat Nisa?" tanya Nisa.
__ADS_1
"Siapa yang ganteng Nisa?" tanya bunda Sinta.
"Maksudnya kakak Elang, tante," jawab Nisa, salah tingkah.
"Berati Arkan gak ganteng dong," ucap bunda Sinta.
"Pak Arkan galak tante, suka hukum Dira dan kasih kita tugas," ceplos Nisa, membuat Arkan melirik ke arah Nisa sambil tersenyum.
"Pantesan gak ada yang mau sama Arkan," kata bunda Sinta.
"Besok pulang dari liburan kalian bertiga tugasnya nambah," ucap Arkan.
"Kok aku ikut!" teriak Dira.
"Nisa saja, pak," ucap Luna.
"Pertama kamu Dira, tidak membalas pesanku. Buat Luna dan Nisa karena kalian panggil saya pak, ini bukan di kampus," jelas Arkan.
Elang, bunda Sinta dan mamah Meri hanya tersenyum. Memang benar kemarin Arkan mengirimkan pesan ke Dira menanyakan soal buku yang dia kembalikan, tetapi Dira tidak membalas karena tidak enak dengan Elang yang meminta dia mengembalikan.
"Kakak, kita sering ketemu. Kenapa tidak tanya dari tadi?" tanya Dira.
"Aku tanya kemarin Dira," jawab Arkan.
"Pak, aku dan Nisa takut tidak sopan kalau panggil kakak," ucap Luna.
"Benar, pak," sahut Nisa.
"Kalian ngucapin lagi, tugas bertambah," ucap Arkan.
"Aku tidak mau kerjakan," ucap Dira, mengerucutkan bibirnya.
Karena Papahnya Dira dan Ayah Arkan sudah datang, mereka lalu makan bersama-sama. Seperti biasa Nisa mengambil porsi makanan yang banyak.
"Nisa, sedikit-sedikit ambilnya," bisik Luna.
"Boleh kan tante ambil banyak?" tanya Nisa.
"Tentu saja, pokoknya di habiskan semua," jawab bunda Sinta.
"Kamu dengar Luna, kata tante Sinta," ucap Nisa, membuat Luna malu.
Mereka lalu melanjutkan makan, Nisa nambah makanan sampai tiga kali. Dia tidak pernah merubah porsi makannya di manapun, tubuh Nisa juga tetap kecil tidak gemuk padahal makan dia juga sangat banyak.
Setelah selesai makan bersama mereka jalan-jalan ke pantai, ombak yang tidak begitu besar membuat mereka ingin berenang.
Mereka bertiga sangat menikmati suasana pantai yang begitu indah, sejuk.
***
Di kota Sisil kebingungan ingin menyusul Arkan liburan, dia menghubungi papah Arkan dan bertanya mereka liburan kemana. Rencananya Sisil akan mengajak gengnya untuk menyusul Dira dan lainnya.
Setelah melihat keakraban Dira dan bunda Sinta, dia berniat ingin menjahili Dira lagi.
"Keke, kapan kita berangkat? keburu mereka pulang," ucap Sisil, saat ini sedang menemui Keke dan teman lainnya.
"Nanti sore kita berangkat, aku belum minta izin sama mamah ku," kata Keke.
"Kalian tenang saja, kita bawa mobil sendiri biar cepat," kata Sisil.
"Leo bagaimana? tidak usah di ajak dia, hanya menggagalkan rencana kita," ucap Keke.
"Padahal aku ingin ajak dia, biar ada yang jagain kita," kata Sisil.
"Sisil, dia gak akan jagain kita yang ada ngajak berantem," ucap Keke.
__ADS_1
Sisil kemudian berfikir lagi, dia tidak jadi mengajak Leo. Karena benar apa yang di bilang Keke, pasti rencana mereka akan gagal.