Sahabat

Sahabat
Bab 106


__ADS_3

Tak terasa film kartun yang mereka tonton sudah selesai, Nisa sampai tertidur dan bersandar di pundak Elang. Elang kemudian meminta Luna dan Dira untuk membangunkan Nisa, tetapi mereka berdua tidak mau.


"Ayo Lun, kita keluar duluan!" ajak Dira seraya menggandeng tangan Luna dan meninggalkan Elang.


"Dira! Luna! tunggu!" teriak Elang membuatnya jadi pusat perhatian orang.


"Mas, kalau lagi nonton jangan teriak-teriak dong!" kata orang di sebelahnya.


Elang kemudian meminta maaf kepada orang yang berada di sebelahnya itu, dengan pelan-pelan ia membangunkan Nisa yang tertidur.


Nisa mulai terbangun, ia kaget karena Dira dan Luna sudah tidak ada di sebelahnya.


"Eh... Kakak ganteng, maaf Nisa ketiduran. Untung gak ileran," ucap Nisa seraya tersenyum malu.


"Gak apa-apa! pulang yuk, Nisa!" ajak Elang.


Keduanya kemudian menuju ke tempat parkir mobil Elang, tetapi Dira dan Luna belum ada di tempat itu.


"Kemana lagi mereka! bikin susah saja," gerutu Elang sembari mengambil ponselnya dalam saku untuk menghubungi Dira.


"Mungkin mereka belum keluar, Kak," ucap Nisa.


Dira dan Luna saat ini sudah berada di mall sebelah bioskop, tadi Bunda Sinta mengajak Dira belanja. Kebetulan saat keluar bioskop Dira mendapat telepon dari calon mertuanya itu, lalu mereka bertemu di mall.


"Dira, pasti Elang sama Nisa nyariin kita," ucap Luna dengan khawatir.


"Tenang saja Luna, sudah aku kasih tau," kata Dira.


"Sayang, kenapa kamu jahil banget sama Elang?" tanya Bunda Sinta.


"Maafin Dira, Tante. Seru aja ngerjain Elang," jawab Dira.


"Panggil Bunda aja mulai sekarang, biar terbiasa," ucap Bunda Sinta sembari memilih aksesoris.


"Dira pura-pura malu, Tante," sahut Luna yang ada di sebelah Dira.


Dira hanya tersenyum, dia memang masih malu dan belum terbiasa. Sudah tiga jam lebih mereka berbelanja, Bunda Sinta kemudian mengajak mereka pulang. Mereka mengantarkan Luna pulang lebih dulu, kemudian pulang ke rumah.


"Tante, Dira turun sini saja," ucap Dira saat sudah sampai di depan rumah.

__ADS_1


"Ke rumah Bunda dulu, Sayang," kata Bunda Sinta dengan lembut.


"Nanti Mamah nyari Dira, Tante," ucap Dira mencari alasan agar tidak di ajak pulang ke rumah Bunda Sinta.


Bunda Sinta tidak menghiraukan ucapan Dira, ia langsung membawa Dira ke rumahnya. Setelah sampai di rumah Bunda Sinta menyuruh Dira untuk istirahat, ia tau kalau Dira pasti capek.


"Sayang, istirahat dulu di kamar Arkan! ayo Bunda antar," ucap Bunda Sinta berjalan menuju kamar Arkan sedangkan Dira mengikuti dari belakang.


Bunda Sinta juga memberikan ganti baju agar Dira mandi dulu lalu istirahat, karena waktu juga sudah hampir petang.


***


Elang saat ini sedang berada di kantor Arkan, sehabis mengantarkan Nisa ia langsung ke sana. Elang menemui Aldi karena mereka ada janji, untuk membicarakan bisnisnya.


"Ini masih jam kerja! kenapa kalian malah asyik ngobrol," ucap Hana sembari merapikan mejanya.


"Tengok jam, Han," kata Elang.


"Hana takut sama Laura yang cantik dan seksi, Elang," sahut Aldi. Sampai lupa waktu," Lanjutnya.


"Kalau aku jadi Kakak sudah aku suruh ganti baju," ucap Elang yang kurang suka dengan cara berpakaian Laura.


"Janganlah! lumayan buat cuci mata," kata Aldi.


Mereka bertiga langsung terdiam saat melihat Arkan datang, ia membawa setumpuk kertas lalu memberikannya ke Hana.


"Kalian bertiga kalau ghibah jangan di kantor! nanti Laura dengar bikin ribut," ucap Arkan yang ternyata mendengar ucapan mereka.


Ketiganya terdiam, tidak menjawab ucapan Arkan sama sekali.


"Pak, sekarang kita lembur tidak?" tanya Hana mencairkan suasana tegang.


"Tidak Hana, sudah boleh pulang. aku juga mau pulang ini, di rumah ada calon istri," jawab Arkan lalu melangkahkan kaki dari ruangan itu.


Mereka bertiga kemudian berkemas-kemas lalu menuju tempat parkir, mereka tidak langsung pulang tetapi duduk di tempat yang tersedia dan melanjutkan ghibah nya.


"Elang, calon istri Kakak mu seperti abg, tapi cantik juga," ucap Aldi yang matanya jeli saat melihat wanita.


"Iya emang! tadi saja ngajak ke bioskop nonton film kartun, bikin kesel saja," kata Elang membuat Aldi dan Hana tertawa.

__ADS_1


Tawa mereka terhenti saat Laura lewat, dengan menggunakan pakaian kurang bahannya. Aldi menatapnya dari atas sampai bawah, ia terpesona dengan tubuh seksi Laura.


"Aldi, kedip dulu entar kelilipan," ucap Hana yang duduk di sebelah Aldi.


"Apaan sih, Hana! gak tau ada bidadari lewat," kata Aldi.


Elang kemudian memukul lengan Aldi. "Sadar di luar sana masih banyak yang berpakaian sopan lebih cantik juga," ucapnya.


"Tapi yang seperti Laura tidak ada, wajah bulenya itu yang membuat ku terpesona," ucap Aldi.


Elang kemudian mengajak Hana untuk pulang, sedangkan Aldi masih duduk menatap Laura.


***


Dira yang berada di kamar Arkan ketiduran, awalnya ia hanya ingin tiduran karena lelah. Rasa ngantuk pun tidak bisa ia tahan lagi, perlahan matanya mulai terpejam.


Tak lama kemudian Arkan sudah sampai di rumah, ia kemudian hendak masuk ke dalam kamar. Bunda Sinta yang memanggilnya tidak terdengar, padahal Bunda Sinta ingin memberitahu kalau Dira berada di dalam kamarnya.


Arkan tidak melihat kalau Dira tidur di tempat tidurnya, ia meletakkan tas kemudian mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Saat keluar dari kamar mandi, tubuhnya hanya berbalut handuk di bagian bawah sedang bagian atas tanpa sehelai benang pun sehingga menampakkan tubuh kekarnya. Tak sengaja Dira terbangun dan melihat Arkan keluar dari kamar mandi.


"Kakak!" teriak Dira sembari menutup matanya dengan kedua tangan.


"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Arkan sambil menuju ke arah Dira dan membungkam mulut Dira dengan tangan.


Dira mengigit tangan Arkan, "Kakak, pakai baju dulu!" kata Dira setelah Arkan melepaskan tangannya.


Bunda Sinta langsung menuju ke kamar Arkan saat mendengar teriakan Dira, ia langsung membuka pintu sehingga melihat Arkan yang hanya menggunakan handuk membungkam tangan Dira.


"Arkan!" teriak Bunda Sinta yang langsung menjewer telinga anaknya itu.


"Sakit Bun! lepasin," ucap Arkan.


"Kamu gak apa-apa, sayang?" tanya Bunda Sinta ke Dira.


Arkan kemudian menjelaskan kejadian itu, tetapi Bunda Sinta tidak percaya. Dia malah menyuruh Arkan untuk segera menikahi Dira secepatnya, lalu ia keluar dari kamar Arkan.


"Gara-gara Kakak, nih! kita jadi di suruh nikah cepat," ucap Dira dengan kesal.

__ADS_1


"Mau gimana lagi semua sudah terlanjur, kamu juga kenapa tidur di kamar ku," kata Arkan sembari menggunakan bajunya sedang Dira membelakangi Arkan, agar tidak melihatnya.


Setelah selesai mereka menemui Bunda Sinta, mereka bersedia untuk menikah secepatnya.


__ADS_2