
"Nisa, bangun!" Luna membangunkan Nisa yang masih tertidur di dalam butik milik mamah Meri.
"Biarkan Luna, mungkin Nisa kelelahan," ucap mamah Meri.
"Kekenyangan, mah," sahut Dira.
"Benar, tante yang di bilang Dira, kebiasaan Nisa memang begini," ucap Luna.
"Mamah ke depan dulu, ada tante Sinta yang mau ambil baju," kata mamah Meri lalu keluar dari ruangannya.
Akhirnya Nisa terbangun juga, Luna menyuruh Nisa untuk segera cuci muka dan akan mengajaknya untuk pulang.
"Nisa, ayo kita pulang!" ajak Luna.
"Dira belum traktir kita, Luna," tolak Nisa, ingat saja Nisa kalau soal makan.
"Kamu masih lapar?" tanya Dira pada Nisa.
"Tidak! tapi menagih janji kamu!" jawab Nisa.
Mereka bertiga akhirnya meminta izin pada mamah Meri, untuk ke tempat kuliner yang dekat dengan butik tersebut.
****
Elang saat ini sedang berada di kantor Arkan, dia di minta untuk belajar berbisnis juga oleh Ayahnya.
"Kakak, ini bagaimana?" tanya Elang, sambil melihat berkas yang dia bawa.
"El, kalau kamu tanya terus kerjaan kakak gak kelar-kelar, dong," ucap Arkan.
"Terus tanya siapa?" tanya Elang.
Arkan lalu memanggil Laura untuk membantu Elang, menjelaskan yang tidak di mengerti oleh Elang.
"Laura, tolong kamu bantu Elang dulu!" ucap Arkan, sambil mengerjakan pekerjaannya.
"Baik, pak," ucap Laura, menghampiri Elang yang duduk di sofa dalam ruangan kerja Arkan.
Elang melihat penampilan Laura dari ujung rambut sampai kaki, dalam hatinya heran dengan kakaknya yang betah kerja bareng wanita yang penampilannya seperti orang tidak benar, pakaian sedikit terbuka.
"Ada yang perlu di bantu, Mas?" tanya Laura.
"Belum ada, mbak," ucap Elang, melirik ke arah Laura.
Hampir tiga puluh menit Laura menunggu Elang yang sedang belajar mengerjakan berkas, tetapi sama sekali tidak ada yang di tanyakan.
Arkan lalu menyuruh Laura untuk kembali ke meja kerjanya. Setelah Laura pergi Elang memprotes Arkan, soal pakaian yang di kenakan Laura.
"Kakak, kenapa pegawai kakak berpakaian tidak sopan?" tanya Elang.
"Yang penting pakai baju, El," jawab Arkan.
Laura menggunakan rok di atas lutut dan baju blazer, bagian dada sedikit terbuka.
"Bunda aku suruh kesini besok, biar melihat kelakuan anaknya," ucap Elang.
__ADS_1
"Tidak usah mulai El, wajar kan orang di kantor berpakaian seperti itu," jelas Arkan.
"Dari El masuk sini hanya wanita tadi yang berpakaian seperti itu," ucap Elang.
Arkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mendekati adiknya dan menjelaskan soal pakaian yang di gunakan Laura. Elang tetap protes dan tidak mau tau, dia tetap meminta Arkan untuk bilang ke Laura.
Bunda Sinta menelpon Arkan, dia minta di jemput di butik milik mamah Meri.
"Elang, bunda minta di jemput," ucap Arkan.
"Di mana, kak? kakak saja yang jemput!" ucap Elang.
"Butik tante Meri," jawab Arkan.
"Kakak, saja yang jemput," kata Elang.
Arkan lalu menuju ke butik mamah Meri, yang tidak jauh dari tempat kerja Arkan. Setelah memastikan Arkan benar-benar pergi, Elang menemui Laura.
"Mbak, boleh saya bicara sebentar," ucap Elang, berada di meja kerja Laura.
"Silahkan, Mas," kata Laura, sembari merapikan berkas yang dia pegang.
"Tolong besok kalau berpakaian yang lebih sopan," ucap Elang.
"Sopan bagaimana? dari dulu permintaan atasan saya begini!" kata Laura.
"Atasan anda seorang laki-laki, tidak pantas wanita berpakaian seperti itu, terkesan menggoda," jelas Elang.
"Iya, besok saya ganti," ucap Laura.
Elang lalu pulang menuju rumahnya, sampai di rumah kakak dan bundanya belum pulang. Tetapi pintu rumah dalam keadaan terbuka ternyata ada Ayahnya yang juga baru datang. Elang lalu memeluk Ayahnya.
"Ayah, kenapa tidak kasih kabar kalau mau pulang? Elang bisa jemput," kata Elang.
"Gak surprise dong," ucap Ayahnya.
"Kebiasaan, Ayah kalau pulang selalu di rumah tidak ada orang," protes Elang.
"Bunda kamu kemana?" tanya Ayahnya.
"Tadi ke butik tante Meri, yah," jawab Elang.
"Elang, ayo kita lari sore!" ajak Ayahnya.
"Boleh, Elang ganti baju dulu," jawab Elang.
Elang dan Ayahnya lalu olahraga lari sore, mereka lari-lari di sekitar taman komplek dekat rumah. Ayah Elang memang begitu tidak mengenal lelah, padahal mereka baru juga sampai rumah sudah pergi saja.
***
Meri Boutique.
Arkan menjemput bunda Sinta di butik mamah Meri, tetapi di sana bertemu dengan tiga sahabat yang aneh.
"Pak Arkan," sapa Nisa.
__ADS_1
"Iya, Nisa," jawab Arkan.
"Antar kita bertiga pulang!" pinta Nisa.
"Nisa, pak Arkan kesini mau jemput tante Sinta," ucap Luna.
"Kalau Arkan mau biar antar kalian, nanti saya bisa bareng jeng Meri," kata bunda Sinta.
"Dira, mau pulang bareng siapa?" tanya mamah Meri.
"Biar bareng Arkan jeng, kita mampir dulu beli makanan kesukaan Ayah Arkan," sahut bunda Sinta.
"Boleh juga jeng, ayo kita ke dalam sebentar!" ajak mamah Meri.
"Dira belum jawab apa-apa... "ucap Dira lirih.
"Sengaja kamu, biar pulang bareng aku kan?" ucap Arkan pada Dira.
"Pak Arkan!" teriak Dira.
"Aku bukan bapak kamu," ucap Arkan.
"Pak, jadi antar kita pulang kan?" tanya Nisa lagi.
"Ayo masuk ke mobil!" ajak Arkan.
Nisa selalu duduk di depan samping pak Arkan, Luna dan Dira di belakang.
"Pak Arkan, sudah punya pacar belum?" tanya Nisa.
"Pacar," kaget Arkan, sambil melajukan mobilnya.
"Jangan-jangan jomblo seperti kita," tebak Nisa.
"Kamu tau saja, Nisa," ucap Arkan.
"Pak, pilih di antara kita bertiga," kata Nisa lagi.
"Tidak, kalian semua merepotkan," ucap Arkan.
"Kita tidak merepotkan pak, tetapi selalu bikin bahagia," sahut Luna.
"Kak, awas ya bilang kita merepotkan lagi, justru kakak yang selalu merepotkan," ucap Dira.
"Merepotkan bagaimana?" tanya Arkan.
"Selalu memberikan kita tugas, coba kalau tugas dari kakak tidak banyak, kita bisa menikmati hari-hari dengan santai," jelas Dira.
Arkan menjelaskan panjang lebar alasannya memberikan tugas kepada mahasiswanya. Dia ingin anak didiknya berhasil dan sukses, tugas yang dia berikan juga satu minggu sekali.
Sebenarnya tidak banyak, hanya Dira dan teman-temannya malas mengerjakan. Arkan saat ini di protes oleh mereka bertiga, tetapi dia tidak marah hanya tersenyum mendengar protes tiga sahabat itu.
Arkan mengantarkan Luna dan Nisa terlebih dahulu, lalu membawa pulang Dira ke rumahnya. Dia sengaja mengajak Dira ke rumahnya tanpa memberitahu terlebih dahulu.
Bersambung......
__ADS_1