
Rencana Sisil dan Keke gagal untuk mengerjai Dira dan teman-temannya, Karena mereka malah keasyikan menikmati liburan mendadak mereka.
"Kita jauh-jauh dari rumah mengikuti mereka tetapi rencana kita gagal semua," ucap Sisil.
"Beruntung kita bisa liburan juga," kata Keke.
"Kita terbilang tidak rugi," sahut temannya.
"Sebaiknya kita kembali saja ke kota, dari kemarin Leo ngajak aku ketemu," kata Sisil.
"Aneh kamu sejak mengenal cowok itu," kata Keke.
Keke tidak suka dengan Leo karena selalu mengagalkan rencananya berbuat jahat, dia merasa kalau Sisil sudah termakan omongan Leo.
"Dia baik kok, gak salah aku berteman dengan Leo," sahut Sisil.
"Ini gimana? kita jadi pulang tidak?" tanya teman yang lain.
"Kita kemas-kemas sekarang, ayo!" ajak Keke.
Rombongan keluarga Dira dan Arkan saat ini sudah dalam perjalanan menuju rumah mereka. Kali ini Elang ikut duduk di belakang bersama Luna dan Nisa. Sekarang Elang sudah bersikap biasa tidak seperti kemarin ketika melihat Dira dekat dengan Arkan.
"Kak, antar aku ke rumah lebih dulu," ucap Luna. Mereka bertiga sudah memanggil Arkan dengan sebutan Kakak Arkan, karena takut di tambah tugas.
"Siap Luna, kita mampir bentar boleh tidak?" tanya Arkan.
"Tentu saja, kak," ucap Luna.
"Kita harus istirahat kak, lebih baik langsung pulang," sahut Elang.
"Besok saja kita ke rumah Luna lagi, benar kata Elang," ucap Dira.
"Sekarang ke rumah ku saja," kata Nisa, yang sibuk dengan makanannya.
"Kalian ini, masih jauh juga perjalanan kita sampai kota," ucap Arkan.
Hening.
Yang ada hanya suara kendaraan dan suara kripik Nisa saat di makan.
"Kak, besok aku tidak jadi ke kantor mu. Aku mau menjemput Vio di rumah neneknya," kata Elang.
"Vio gak bakal mau kamu jemput," ucap Arkan.
"Hahaha... Vio tidak akan pernah menolak tidak seperti Dira," kata Elang.
"Kok aku Elang, aku nolak apa?" tanya Dira.
"Saat aku mau jemput kamu," jawab Elang.
__ADS_1
Vio memang sangat akrab dengan Elang, ketimbang sama Dira. Mamah Meri besok berencana menjemput Vio dan mengajak Elang biar mau ikut.
Vio membatalkan liburannya karena dia lebih suka tinggal di tempat neneknya, Dira jarang ke rumah neneknya karena kesibukannya.
Akhirnya mereka telah sampai di perbatasan kota, Arkan akan mengantar Luna lebih dulu.
Luna sudah sangat khawatir dengan ibunya dan tidak enak dengan saudaranya karena telah menitipkan ibunya. Walaupun saudaranya itu baik tapi tetap saja tidak enak bagi Luna.
Sebenarnya Luna dan ibunya masih penasaran dengan siapa yang melunasi biaya rumah sakit, karena saudaranya di tanya malah bingung. Kebetulan Luna juga tidak memberi kabar mereka.
"Luna, aku lupa jalan menuju rumah kamu?" ucap Arkan.
"Dira, kasih tau dong," kata Nisa.
"Iya, Nisa," kata Dira.
Luna kemudian memberi tahu jalan ke rumahnya pada Arkan, tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Luna.
Luna turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih kepada semuanya, setelah dari rumah Luna mereka ke tempat Nisa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Luna.
"Nisa, kamu turun depan saja," kata Elang.
"Kakak ganteng, nanti bagaimana kalau aku yang cantik begini di ganggu orang lagi?" tanya Nisa.
"Siapa juga yang mau ganggu tukang makan, yang ada mereka takut kamu makan," ucap Elang.
"Kamu belum tau pesona ku, kakak ganteng," kata Nisa.
"Nisa, sudah sampai," ucap Dira, karena Nisa sibuk berdebat dengan Elang.
Nisa segera turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih pada Arkan dan Dira.
"Nisa, kok kamu gak berterimakasih sama aku," ucap Elang, membuka kaca mobilnya.
"Biarin, kakak ganteng jahat," ucap Nisa lalu masuk ke dalam rumahnya.
Sekarang tinggal mengantarkan Dira pulang ke rumah, biasanya Arkan akan membawanya ke rumah lebih dulu. Tetapi karena Bunda dan Ayahnya ada di rumah Dira, mereka ke rumah Dira terlebih dahulu.
Mamah Meri sudah menyabut mereka, karena telah sampai rumah terlebih dahulu. Di meja ruang tamu sudah tersedia minuman dan camilan.
"Luna sama Nisa mana?" tanya bunda Sinta.
"Mereka sudah kita antar pulang, bun," jawab Arkan.
"Kenapa tidak di ajak kesini dulu?" tanya Ayah Arkan.
"Luna sudah khawatir dengan ibunya, om," jawab Dira.
Kedua keluarga itu sedang menikmati minuman dan camilan yang di sediakan oleh mamah Meri. Mereka sangat asyik menikmati waktu santai sambil mengobrol.
__ADS_1
"Jeng, kita pulang dulu ya," pamit bunda Sinta.
"Tidak nanti saja, jeng," kata mamah Meri.
Karena sudah sore dan takut merepotkan mamah Meri keluarga Arkan pulang, sebenarnya mamah Meri akan menyiapkan untuk makan bersama.
***
Keesokan harinya Elang sudah berada di rumah Dira, dia sedang menunggu mamah Meri untuk menjemput Vio.
"Tante, ayo kita berangkat!" ajak Elang, dia masuk ke dalam rumah Dira.
"Sini kita sarapan dulu, Elang!" ajak mamah Meri.
"Nanti saja, tante," tolak Elang.
Akhirnya mamah Meri tidak jadi sarapan, dia segera berangkat dengan Elang.
Dira hari ini tidak berangkat ke kampus, karena masih capek. Dia juga tidak tau kalau mamahnya dan Elang sudah berangkat menjemput Vio.
Di tengah perjalanan mamah Meri baru ingat kalau belum pamit dengan Dira, papah Dira juga sudah berangkat ke luar kota sebelum kedatangan Elang tadi.
"Elang, aku lupa belum pamit sama Dira," ucap mamah Meri.
"Telpon saja, tante," ucap Elang.
Mamah Meri kemudian menghubungi Dira, dia bilang kalau sudah berangkat dengan Elang menjemput Vio.
"Mamah sama Elang sama saja," gerutu Dira.
Dira kemudian berencana untuk pergi ke rumah Luna, tetapi saat di depan rumah ada Elin yang datang.
"Dira, kamu mau pergi?" tanya Elin.
"Iya, aku mau ke tempat teman," jawab Dira.
"Dira, aku datang kesini mau bilang terimakasih sudah membantu kita anak panti," ucap Elin.
"Ayo Elin, kita duduk dulu!" ajak Dira. Elin kemudian mengikuti Dira untuk duduk di kursi depan rumahnya.
Elin bercerita keadaan panti saat ini, sudah mulai membaik dan pemilik tanah tidak jadi mengusir mereka lagi.
"Aku ikut bahagia Elin, ini semua juga bantuan dari ksl Arkan," ucap Dira.
"Tolong sampaikan terimakasih kita buat kak Arkan, Dira," kata Elin lagi.
"Iya, aku sampaikan kalau ketemu kakak," ucap Dira.
Elin kemudian berpamitan pada Dira, dia akan berangkat berkerja. Dira segera berangkat ke rumah Luna setelah Elin pergi.
__ADS_1
Dira berangkat ke tempat Luna dengan berjalan kaki, dia sengaja tidak naik angkot karena ingin berjalan.
Di tengah perjalanan Dira bertemu dengan Leo, dia menawarkan diri untuk mengantar Dira ke rumah Luna, tetapi Dira menolak.