
"Dokter Ariesta? Bukankah dia dokter..." Hans seperti minta Bi Asih yang melanjutkan ucapannya.
"Iya tuan... dokter Ariesta adalah dokter kandungan yang pernah memeriksa kondisi Neng Dira saat mengandung Hara dahulu..."
"Itu berarti... berarti saat ini Dira sedang mengandung bi?"
"Sepertinya begitu tuan, untuk lebih pastinya sebaiknya tuan bawa Neng Dira ke klinik tempat dokter Ariesta praktek, soalnya kalo malam hari dokter Ariesta praktek di kliniknya yang ada di dekat ruko Neng Dira di Jalan Pattimura...."
Hans begitu bahagia walaupun kabar itu belum pasti, begitu pun dengan Bi Asih. Tapi tidak dengan Dira, bayang-bayang mengerikan saat dia hampir tidak bisa bertemu dengan putranya masih terus membayanginya. Karna sejak kejadian itu, Dira sebenarnya tidak lagi ingin memiliki anak lagi. Dia takut jika dia kembali mengandung, ketika melahirkan nanti dia tidak akan bisa melihat suami dan anak-anaknya lagi. Kendati demikian, seandainya Allah telah menitipkan kembali seorang buah hati, Dira pasti akan menerimanya dengan senang hati. Dira terdiam karena sedang berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Sayang, kamu kenapa? Tidak bahagiakah kamu dengan kehadiran baby kita yang kedua? Kenapa kamu berdiam diri sejak tadi..."
"Nggak papa mas, Dira hanya tidak ingin kecewa... karena semuanya kan belum jelas. Memang mungkin lebih baik kita segera berangkat ke dokter Ariesta saja. Tapi sebelumnya mas harus janji, jika ini semua gejala yang Dira alami ini bukan karena Dira sedang hamil, mas nggak boleh kecewa ya..." Hans mengangguk sambil tersenyum.
"Tetapi kamu kok bisa berpikiran begitu sih... Sayang... dengerin mas baik-baik, saat ini kita kan sudah punya Hara, jadi kalo seandainya nanti ternyata hasil pemeriksaan itu tidak menyatakan kamu berbadan dua, InsyaAllah mas tidak akan kecewa. Karena itu berarti menunjukkan bahwa kita harus lebih giat dan lebih rajin lagi untuk terus berusaha membuat adiknya Hara...he he he..." goda Hans yang sukses membuat wajah istrinya yang tadinya cemberut menjadi tersenyum.
"Huu...itu sih maunya Mas Hans..." ucap Dira sambil tersipu malu.
"Idih...gitu aja sampe merah merona... kita ini bukan orang yang masih pacaran sayang, kita ini sudah suami istri... masak masih malu aja... he he he..." ucap Hans sambil merangkul Dira. "Na gitu dong sayang senyum...biar dunia pun ikut tersenyum karna melihat indahnya senyumanmu..." Hans pun mencium pucuk kepala Dira.
"Gombal...!! Dasar laki-laki perayu..." Hans pun tertawa terbahak bahak.. "Udah ah ngegombalnya, kita jadi ke klinik dokter Ariesta nggak ni? Keburu malem ni...."
"Ayo dong... tapi perutmu masih kosong, gimana dong? Apa tidak sebaiknya kita makan dulu aja?"
"Tapi dokter Ariesta nya keburu selesai jam prakteknya..."
"Oke-oke...ayo kita berangkat sekarang... Bi Asih tolong baju hangat Dira bi..."
"Ini...ini tuan... Bi Asih sudah siapkan, ini sekalian sandwich dan susu buat isi perut sementara selama di jalan..."
"Terimakasih ya bi...'cup'... Bi Asih memang the best..."
"Kami pergi dulu bi... Titip Hara, tolong pamitin karena kami belum sempat pamit..."
"Iya tuan... hati-hati di jalan ya..."
"Iya bi... InsyaAllah... Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
🌹🌹🌹
Sekitar tiga puluh menit, mobil Hans pun memasuki halaman klinik bersalin dokter Ariesta. Jam baru menunjukkan pukul delapan malam tapi pasien yang antri tinggal beberapa orang saja. Setelah selesai mengurus verifikasi data pasien, Dira dan Hans pun duduk di bangku antrian.
"Mas, laper..." bisik Dira di telinga Hans.
"Makan bekel dari Bi Asih dulu ya..." Dira mengangguk. "Tunggu sini sebentar, mas ambil di mobil..." Dira kembali mengangguk, Hans menyentuh pucuk kepala Dira lalu keluar klinik.
__ADS_1
Begitu Hans keluar, Dira sibuk memainkan ponselnya. Tiba-tiba saja dia dikejutkan oleh panggilan dari seseorang yang sangat dia kenal.
"Nitha..."
"Hai dok apa kabar...? Sedang di Jakarta rupanya? Kok nggak mampir ke rumah.,."
"Alhamdulillah baik...aku sudah dua hari di sini tapi sibuk kesana-kemari. Hari ini aku mengantar undangan pernikahanku untuk Ariesta, dia itu sahabatku waktu masih kuliah dulu. Lah kamu sendiri mau periksa kehamilan atau baru mau konsultasi saja? Kamu datang sendiri?" tanya Haris, karena hanya melihat Dira seorang diri.
"Bersama Mas Hans, tapi dia sedang keluar sebentar..."
"Ooo... jadi bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Kamu dan suami kesini dalam rangka apa?"
Dira diam sesaat, ingin curhat dengan dokter Haris tapi takut. Namun mengingat dulu waktu dia melahirkan Hara dokter Haris yang menanganinya, akhirnya Dira pun bercerita juga tentang ketakutannya jika benar dia nanti positif hamil.
"Bismillah saja... kejadian waktu itu belum tentu terulang lagi. Bisa jadi waktu itu karena kamu sedang berada dalam tekanan hidup yang berat dan kamu melahirkan pun tanpa didampingi oleh suamimu. Kalo sekarang kan berbeda, aku lihat suamimu sangat mencintaimu. Melihat cara dia memperlakukan dirimu, kadang masih bikin aku cemburu...ha ha ha..." dokter Haris tertawa.
"Ngaco... udah mo nikah juga nyemburuin istri orang....he he he..."
"Ya benar...akhirnya aku akan menikah, walaupun aku harus menikah dengan orang yang tidak pernah aku harapkan. Emm... kau tau Nitha, aku pada akhirnya memutuskan menikah dengan Sekar, itu kan karena kamu..."
"Lho kok gitu? "
"Jangan mulai deh, jika ada yang dengar nanti bisa salah paham..."
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya... lima tahun aku menunggumu ternyata kamu tidak pernah membukakan pintu hatimu untukku..."
"Yang berlalu biarlah berlalu, saya minta maaf jika saya telah membuat dokter kecewa tapi dari sejak pertama kali kita bertemu, seingat saya... saya selalu bilang jika saya seorang wanita yang bersuami dan saya pun tidak pernah mengucap janji apapun terhadap dokter kan? Seperti halnya dokter menyarankan kepada saya agar mengucap Bismillah untuk berani menerima seandainya saya positif hamil, maka ucapkanlah juga Bismillah untuk menjalani pernikahan dokter Haris dengan Sekar. Semoga samawa ya dok..." ucap Dira sambil tersenyum.
"InsyaAllah... terimakasih Nith atas do'anya. Aku menantikan kedatanganmu dan keluarga..."
"InsyaAllah kami akan datang..."
"Oke kalo gitu aku pamit dulu, salam buat suamimu ya? Assalamu'alaikum..."
"Siap... InsyaAllah... Wa'alaikumsalam..." Dira melambaikan tangannya kepada Haris.
"Tangan tu diturunin... orangnya udah jauh juga..." ucap Hans sedikit ketus.
"Eh mas udah sampai... kok ngambilnya lama amat sih, tadi ada dokter Haris ke sini loh, dia titip salam buat mas..." ucap Dira cuek nggak merhatiin sikap suaminya yang sedang terbakar cemburu. Dia malah asik menikmati sandwich yang dibawakan oleh Bi Asih, Hans pun jadi jengkel sendiri. Baru saja dia ingin bicara dengan Dira, tiba-tiba seorang suster sudah memanggil nama istrinya.
Mereka pun akhirnya masuk ke ruang dokter.
"Selamat malam Bu Andira... apa kabar? Lama kita baru bertemu lagi ya... Ini...?"
__ADS_1
"Selamat malam dok, Alhamdulillah saya baik-baik saja... Ini suami saya dok..."
"Ooo...mari silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu?"
Setelah sedikit berbasa-basi, akhirnya Dira menceritakan kondisinya sejak kemarin. Dan dokter Ariesta pun menyimak keseluruhan cerita Dira dengan seksama.
"Kapan terakhir kali datang bulan?"
"Aduh lupa sih dok, tapi untuk bulan ini saya memang belum datang bulan..." ucap Dira Setelah lama mencoba mengingat-ingat.
"Oke kalo gitu,mari kita periksa ya... mari silahkan naik ke brankar, biar jelas kondisinya..."
Dira menurut saja apa kata dokter, walaupun jantungnya kini berdegup lebih kencang. Setelah pemeriksaan beberapa saat...
"Alhamdulillah... selamat tuan... nyonya...anda berdua akan mendapatkan buah hati kembali..."
"Alhamdulillah... jadi istri saya positif hamil dok?" teriak Hans kegirangan, dokter Ariesta mengangguk sambil tersenyum, sementara bayangan kematian seolah tengah melayang-layang dalam otaknya.
"Sayang, akhirnya Hara akan punya adik. Dia pasti akan senang sekali..."
"Iya... Alhamdulillah ya mas..." Dira mencoba tersenyum semanis mungkin, agar tidak mengecewakan suaminya.
"Baik... agar janin masih berusia sangat muda, jadi mohon diperhatikan asupan gizinya, jangan mengerjakan pekerjaan yang berat-berat, harus banyak istirahat dan ini ada beberapa obat serta vitamin sebagai penunjang bagi sempurnanya perkembangan janin..."
Sepanjang jalan pulang, Dira hanya berdiam diri saja. Berkali-kali dia menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya, seolah dia tidak ingin jauh-jauh dari suaminya. Hans menepikan mobilnya ke sebuah taman kota yang terdapat danau ditengahnya.
"Kamu ingin jalan keluar sayang?" tanya Hans. Dira pun mengangguk dengan cepat, lalu keduanya pun keluar dari mobil dan duduk di bangku taman yang menghadap ke danau.
"Dingin?" Dira menggeleng tapi tangannya sedari tadi tidak pernah lepas memeluk lengan suaminya.
"Aku tidak akan kemana-mana... Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan kepada mas?" Dira menoleh ke arah suaminya dan tangan Hans pun merangkul pundak istrinya kemudian merapatkan tubuh Dira pada tubuhnya. Dira masih terdiam namun kemudian Dira menyandarkan kepalanya ke pundak suaminya, sementara kedua tangannya memegang dan mengelus-elus tangan kanan suaminya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1