Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Nggak Mau Adik Ileran


__ADS_3

Jam dinding di kamar Hans menunjukkan pukul setengah dua belas malam ketika Hans terjaga dari tidurnya, sementara Dira masih terlelap disampingnya setelah pergulatan panjang mereka tadi. Hans sampai lupa menyalakan ponselnya sejak dia mengecasnya karena kehabisan baterai.


Begitu ponsel di nyalakan, ada belasan bahkan mungkin puluhan notifikasi pesan dan panggilan masuk ke ponselnya. Hans mengamati siapa saja orang yang menghubungi dia, tapi ternyata hanya satu orang yang menulis pesan dari memanggilnya 'boss' sampai memanggilnya 'kampret'. Tak ada seorang pun yang berani memanggilnya begitu kecuali Alex sahabatnya yang sudah mulai murka...he he he...


'Ya salam...pantas saja dia marah, aku kan tadi memberikan tugas padanya, mungkin...ah bukan mungkin lagi...ini mah pasti karena dia akan memberikan laporan dari hasil penyelidikannya... he he he... siap-siap di semprot deh...'


Hans pun langsung menelpon Alex.


📞 "Tau nelpon balik lu... Dasar boss kampret..."


📞 "Waduh... waduh... kesambet apaan lu? Tengah malam marah-marah kayak orang kesurupan... Assalamu'alaikum Pak Alex... he he he..." salam Hans sambil terkekeh.


📞 "Wa'alaikumsalam... Lu itu yang kesambet tuyul... Ngasih tugas,minta cepet dapet hasilnya tapi ponsel di matiin. Gimana gue mo ngasih laporan coba... Mentang-mentang boss seenaknya sendiri...huuh..."


📞 "Oke-oke... maaf deh... aku tadi habis dari nganter Dira ke dokter terus baterai ponselku abis, jadi sampai rumah baru aku cass..."


📞 "Nganter Dira ke dokter? Dira sakit apa?" tanya Alex cemas.


📞 "Dari tadi pagi dia muntah-muntah terus setiap habis makan..."


📞 "Terus apa kata dokter?"


📞 "Hara mau punya adik?"


📞 "What?"


📞 "Iya... hebat kan aku... dua bulan belum ada aja, Dira sudah berbadan dua... he he he... Nah kamu? Kapan adiknya Alika jadi? Payah lu... he he he..."


📞 "Iya deh lu hebat... selamat deh kalo gitu... Tapi ngomong-ngomong ini laporannya jadi nggak?" ucap Alex yang sedikit kesal karna diledekin Hans masalah anak.


📞 "Jadi dong... ngegas mlulu... So gimana... gimana hasil dari penyelidikan anak buahmu..."


Alex pun kemudian menuturkan hasil penyelidikan anak buahnya tentang Jessica.


Setelah di usir oleh Hanna, ternyata Jessica pergi ke sebuah rumah yang telah diberikan oleh Rico sesuai wasiat dari Tuan Hendrik dan sebagai wali Erik, Jessica juga berhak atas saham perusahaan sebesar 10% milik Erik tentunya. Dan agar Jessica bisa mendapat tunjangan hidup serta biaya pendidikan putranya, maka Jessica juga diwajibkan bekerja di perusahaan Tuan Hendrik sebagai asisten Reno. Dan kenapa Jessica dijadikan asisten Reno, ini lebih dikarenakan agar mereka bisa memantau gerak gerik Jessica di perusahaan, supaya tidak arogan karena kini dia telah menjadi salah satu pemegang saham di perusahaan itu.


📞 "Bagus... Alhamdulillah, jadi untuk urusan dengan Jessica berarti sudah selesai. Kini aku bisa bernafas lega..."


📞 "Semoga saja..."


📞 "Maksudmu?"


📞 "Sepertinya Jessica masih saja terobsesi dengan elu. Gue takut dia belum bisa menerima kenyataan bahwa lu sudah tidak mungkin bisa dia miliki lagi. Dan pengusiran yang dilakukan oleh Hanna, pasti akan membuat dia merasa terhina. Selanjutnya elu bisa tau apa yang akan dilakukan oleh Jessica, jika dia merasa di tindas oleh seseorang."


📞 "Ya... aku tau..."


📞 "Dia belum berubah Hans, dia masih menjadi rubah betina yang licik. Di tambah lagi perusahaan kita yang masih punya beberapa proyek bersama dengan perusahaan milik keluarga Tuan Hendrik, akan memaksa kita sering bertemu lagi dengan Jessica."


📞 "Aku tau apa yang harus aku lakukan... Yang pasti, tolong untuk beberapa waktu jangan tarik anak buahmu yang mengawasi Jessica. Pantau terus agar Jessica tidak menggangu keluargaku terutama anak dan istriku..."


📞 "Kalo boleh tau apa yang akan lu lakukan?"


Baru Hans ingin menjelaskan, sudah terdengar suara Dira memanggil namanya...


"Mas...Mas Hans..." panggil Dira yang terbangun dan tidak mendapati Hans disisinya.


📞 "Nanti aku jelasin di kantor, Dira terbangun dan nyari aku tuh... Assalamu'alaikum..."

__ADS_1


📞 "Wa'alaikumsalam... Huu... dasar bucin..." gerutu Alex dari sebrang.


"Ya...ya... mas di sini..." sahut Hans dari arah balkon.


"Habis telpon siapa? Kok pake sembunyi-sembunyi di balkon...?"


"Huu... bawaannya kok su'udzon aja..." ucap Hans sambil menowel ujung hidung istrinya. "Mas habis telpon Alex, nanyain laporan dari tugas yang mas berikan tadi petang."


"Emang tugas apaan?" Dira duduk di pangkuan Hans sambil mengendus-endus aroma tubuh suaminya.


"Tugas membuntuti Jessica..."


"Membuntuti Kak Jessica? Kenapa? Emang Kak Jessica pergi kemana? Bukannya dia masih ada di rumah ini?"


"O iya, mas belum bilang sama kamu ya?"


"Soal apa?"


"Soal kepergian Jessica sore tadi karena di usir oleh Hanna..." Dira menggeleng.


Kemudian Hans pun menceritakan semuanya, termasuk percakapannya dengan Alex yang telah di beri tugas membuntuti Jessica. Dira pun manggut-manggut tanda mengerti.


"Jadi mulai sekarang kamu harus berhati-hati jika keluar rumah, apalagi kamu saat ini sedang mengandung. Dan jangan membantah jika mas menugaskan seseorang untuk mengawalmu ya?" Dira mengangguk.


"Sekarang masih malam, ayo kita tidur lagi..." Dira pun mengikuti suaminya sambil terus menggelayut manja dan mengendus aroma tubuh suaminya.


🌹🌹🌹


Kehamilan Dira yang kedua ini memang sangat berbeda dengan kehamilannya yang terdahulu, saat dia mengandung Hara lima tahun yang lalu. Di kehamilan yang sekarang dia lebih sensitif, manja dan tidak bisa jauh-jauh dari suaminya. Mungkin karena untuk kehamilan yang sekarang, ada Hans disampingnya dan Hans pun begitu perhatian serta memanjakannya.


"Terimakasih sayang..." Hans mencium kening istrinya.


"Mas turun duluan deh, nanti Dira nyusul..."


"Oke... jangan lama-lama ya... mas tunggu di bawah, kita sarapan bareng...."


"Iyaaa..." Dira mendorong tubuh suaminya yang seperti enggan meninggalkannya ke arah pintu.


Selang lima belas menit, Dira turun dengan pakaian dan dandanan yang rapi.


"Mama mau pergi kemana?" tanya Hara heran melihat mamanya yang berdandan tidak seperti biasanya.


"Iya ih...Kak Dira mau pergi kemana? Cantik amat..." Hanna pun ikut mengomentari penampilan kakak iparnya pagi itu. Sementara Hans yang ikut mengamati penampilan istrinya hanya diam tetapi sambil menunggu jawaban yang akan dilontarkan oleh Dira.


"Kak Dira mau ikut kakakmu ke kantor"


"Uhuk uhuk uhuk..." Hans yang baru menyeruput tehnya pun terbatuk-batuk mendengar jawaban istrinya itu.


"Hati-hati mas..." Dira mengusap punggung suaminya.


"Mama mau kerja di tempat papa?" tanya Hara.


"Hara mau kalau ada orang yang mau ngambil papa dari kita?" Hara menggeleng. "Naa...makanya..."


"Makanya apa ma?" Hara masih belum bisa menangkap penjelasan mamanya.


"Makanya mama ikut ke kantor papa. Mama nggak kerja... tapi mama mengawasi papa supaya nggak ada yang merebut papa dari kita."

__ADS_1


"Tapi kalo mama pergi ikut papa, pulang sekolah Hara sama siapa ma? Padahal Erik kan sudah tidak tinggal di sini lagi..." ucap Hara terlihat sedih.


"Loh, di rumah kan ada banyak orang, ada Aunty Hanna, ada Nenek Asih, ada Mbak Lusi, ada Pak Mus dan masih banyak lagi..."


"Tapi nggak ada mama..." ucap Hara lirih. Dira membuang nafas pelan, dia tampak kecewa tapi dia juga kasian melihat putranya terlihat sedih.


"Iya sayang... kasian Hara kalo pulang sekolah nggak ada kamu. Memangnya kamu mau apa di kantor mas? Mas di kantor kerja kok, nggak akan ngapa-ngapain. Lagian juga kamu kok nggak bilang mas dulu kalau mau ikut mas ke kantor..."


"Ya sudah kalau nggak boleh..." Dira langsung berdiri dan pergi meninggalkan meja makan tanpa sempat sarapan.


"Eh Dira...kamu mau kemana? Kamu bahkan belum sarapan loh..." Dira tak menghiraukan panggilan suaminya.


"Mama marah ya pa?"


"Enggak sayang, mama hanya sedikit kecewa. Bi Asih minta tolong siapin sarapan buat Dira, biar saya bawa ke kamar." Bi Asih pun langsung menyiapkan sarapan buat Dira, sementara Hans mencoba memberi pengertian sekalian memberitahu bahwa dia akan segera mempunyai adik kepada putranya.


"Wah jadi Hara mau jadi kakak tuh..." goda Hanna.


"Yeaa... asik... Hara akan jadi kakak kaya papa... Berarti nanti Hara bakal punya teman main... ya kan aunty..." Hanna mengangguk sambil tersenyum.


"Apa mungkin kejadian aneh pagi ini karena Kak Dira tengah ngidam?"


"Bisa jadi... tapi memang beberapa hari ini sikap kakak iparmu memang aneh, dia jadi nggak bisa jauh-jauh dari Kak Hans. Dan setiap berada di dekat kakak, dia selalu menciumi aroma tubuh kakak sampai-sampai dia melarang kakak memakai parfum..."


"Pantesan, biasanya begitu kakak turun, aroma parfum kakak sudah memenuhi seluruh ruangan..."


"Pa... ngidam itu apa? Apa karna ngidam, mama jadi sering ngambek kalo nggak dituruti kemauannya?"


Hans tersenyum sambil memberi penjelasan tentang istilah ngidam dengan caranya agar bisa di terima oleh Hara.


"Tuh... dan nanti kalo ngidamnya nggak dituruti, adiknya kakak bisa ileran lho... kakak mau punya adik ileran? Kalo aunty mah ogah punya keponakan yang ileran..."


"Iihh... ogah... Hara juga nggak mau punya adik ileran. Terus gimana dong aunty?" tanya Hara panik.


"Ya kakak harus nurutin keinginan mama, sementara ini, kakak harus ngijinin mama pergi ke kantor papa dan kakak nggak boleh rewel... gimana?"


"Iya... iya aunty, Hara ngijinin mama pergi dan Hara juga nggak akan rewel... Hara janji..."


"Cakep dah kalo gitu..."


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Hai...maaf slow update...🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2