
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Hans dan Amirah menjawab salam Sasongko bersamaan. Setelahnya Hans pun berdiri,alih-alih dia mendekati dan mencium tangan kakeknya seperti biasanya tapi Hans justru pergi menghindari kehadiran kakeknya.
"Mau kemana Hans?" tanya Amirah.
"Kamar...mo mandi gerah..." jawab Hans ngasal lalu pergi begitu saja tanpa menyapa kakeknya.
"Hans,kamu kenapa?" tanya Sasongko,tapi diacuhkan oleh Hans.
Bukannya marah dan tersinggung,Sasongko malah melihat ke istrinya lalu keduanya terkekeh bersama,seolah puas karna telah mempermainkan cucunya.
"Mas haus? Aku bikinkan minum dulu ya...nanti baru cerita..."
"Iya...makasih ya..."
Amirah tersenyum lalu menuju dapur membuatkan minuman buat suaminya tercinta. Ya...dari sejak mereka menikah Sasongko memang tidak pernah mau minum minuman yang bukan bikinan istrinya,kecuali ketika mereka sedang bertamu di rumah orang lain. Bahkan ketika Sasongko masih aktif di kantor pun Sasongko selalu membawa termos berisi minuman buatan istrinya.
"Mas udah ketemu Dira?" tanya Amirah sambil memberikan secangkir teh jahe ramuannya.
"Sudah dan kami banyak ngobrol tentang dia dan juga tentang Hans..."
Sasongko meletakkan cangkir yang telah diteguk isinya.
"Sepertinya kali ini Hans bertemu dengan gadis yang tepat...Dira adalah gadis yang baik,sayang mereka ditemukan dengan cara yang salah. Tapi Tio dan istrinya bersedia membantu kita diam-diam..."
"Tio dan istrinya? Kenapa harus mereka? Anak buah yang lain?"
"Dira itu ternyata anak dari sahabatnya Ina istri Tio,dan mereka pun sudah menganggap Dira sebagai anak mereka karna Dewi ibunya Dira sudah lama meninggal. Dan ternyata selama ini Ina juga sudah membujuk Dira untuk mau menerima Hans tapi gadis itu cukup keras kepala untuk menolaknya...Entah apa alasannya masih belum jelas. Ina baru mau cari tau ke Dira. Sementara anak buahku yang lain aku tugaskan untuk menjaga dan mengamati aktifitas Dira dari jarak jauh..."
"Lalu dengan perusahaan orangtua Dira itu bagaimana? Apa mas jadi mengucurkan dana dengan berinvest ke sana?"
"InsyaAllah... Perusahaan itu teryata didirikan oleh kedua orangtua Dira dengan modal hasil penjualan warisan milik ibunya Dira. Untuk itu karna Dira ingin berbakti kepada kedua orangtuanya,maka Dira pun mengiyakan pinanganku... Hans bagaimana?"
"Dia tadi memberitahuku soal pinangan mas pada Dira. Seperti kesepakatan kita,aku pun seolah-olah merestui pinangan mas itu. Lalu dia memohon-mohon padaku agar aku meminta mas untuk membatalkan pinangan mas pada Dira..."
"Ha ha ha... Lalu kau jawab gimana?" tanya Sasongko sambil tertawa geli.
"Aku bilang,kalau kau laki-laki,rebut Dira dari kakekmu...ha ha ha..." jawab Amirah yang kemudian ikut tertawa tapi sedetik kemudian tawanya terhenti dan seperti melamun.
"Kenapa?" tanya suaminya.
"Kalo dipikir-pikir...apa yang kita lakukan ini apa tidak keterlaluan? Usia Hans sudah sangat matang untuk berumah tangga,teman-temannya pun sudah pada menikah dan punya anak. Bahkan ada yang sudah punya anak lebih dari satu. Kalau kita masih main-main sama Hans seperti ini,kapan kita bisa menimang cicitnya? Lagi pula kali ini Hans sepertinya benar-benar jatuh cinta pada sosok Dira. Aku jadi kasihan melihat tampangnya yang seperti orang putus asa" jelas Amirah panjang lebar. Sasongko tampak manggut-manggut mengerti apa yang diinginkan istrinya,lalu...
__ADS_1
"Kalo gitu panggil Hans ke sini,bilang kalo aku ingin bicara..."
Amirah pun segera bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju tangga untuk menemui Hans di kamarnya.
Sementara Hans keluar dari kamar di rumah keluarganya itu,lalu melangkah turun untuk pergi dari rumah itu. Telinganya terusik oleh suara tawa kakek dan neneknya yang seolah tengah menertawakan kekalahannya. Amirah tau perasaan Hans dan sebagai orangtua Amirah tak tahan melihat cucunya seperti orang yang putus asa.
"Hans...mau kemana?" tanya Amirah sambil mendekat pada cucunya.
"Pulang..!"
"Pulang kemana? Bukankah ini rumahmu?"
"Hans nggak nyaman tinggal di sini... Hans mau ke apartemen aja?" ucap Hans sambil akan kembali melangkahkan kakinya.
Tapi dengan sigap nenek yang sudah berusia 70 tahunan itu,menarik tangan Hans...menahannya agar tidak pergi.
"Apa yang membuatmu tidak nyaman? Duduklah dulu,kakekmu ingin bicara..."
"Lain kali aja deh...Hans sedang tidak ingin bicara dengan kakek..."
"Hans...! Usiamu sudah kepala tiga,bersikaplah dewasa sedikit..." hardik Amirah,yang akhirnya mampu membuat Hans menuruti perintahnya.
Hans membantingkan tubuhnya di sofa ruang tengah dengan duduk yang setengah berbaring. Sementara Sasongko yang dari tadi duduk di teras belakang berjalan mendekati cucunya. Kaki kanannya menendang kaki Hans yang menghalangi jalan.
"Kau kenapa menghindari kakek?"
Hans diam tak menjawab.
"Kau marah sama kakek?"
Hans masih diam saja tak berkeming sedikit pun.
"Hans Hendra Saputra...! Apa sudah tidak ada rasa hormat di hatimu untuk kakekmu ini?" hardik Sasongko karna melihat Hans mengabaikan pertanyaannya.
"Apa yang kakek mau sebenarnya? Apa yang akan kakek lakukan jika jadi Hans? Bersaing dengan kakeknya sendiri untuk mendapatkan perempuan yang menjadi pujaan cucunya..."
Sasongko memperhatikan setiap ucapan yang keluar dari mulut Hans lalu tertawa.
"Ha ha ha...Jadi ini masalah Dira? Ha ha ha..."
"Huh...bisa-bisanya masih sanggup tertawa...keterlaluan..." gumam Hans yang masih terdengar oleh pendengaran tua kakeknya.
"Lalu sekarang maumu apa?" tanya Sasongko sambil menahan tawanya.
"Hans mau kakek membatalkan pinangan kakek kepada Dira. Apa kakek nggak sadar kalo Dira itu lebih pantas menjadi cucu kakek ketimbang jadi istri kakek. Lagi pula,apa kakek nggak kasian sama nenek yang sudah 50 tahun lebih mendampingi kakek? Kakek sadar nggak sih,kalo perbuatan kakek ini akan menyakiti hati nenek?" ucap Hans berapi-api,sementara Sasongko menyimak setiap kata yang diucapkan oleh cucunya.
__ADS_1
"Nenekmu mengijinkan kakek meminang Dira...lalu apa masalahnya? Lagian apa untungnya untuk kamu jika kakek membatalkan pinangan ini?"
"Astaghfirullah...apa kakek nggak tau sih kalo Hans mencintai Dira...?"
"Kau nggak pernah bilang pada kakek..." kilah Sasongko masih mengerjai cucunya.
Amirah datang membawa orange jus dan cake bikinannya,setelah meletakkan di atas meja kemudian Amirah angkat bicara untuk melerai pertengkaran kedua orang yang dicintainya itu.
"Mas,kamu tadi sudah janji untuk menyudahi sandiwara ini kan?" tanya Amirah.
"Sandiwara? Sandiwara apa?" tanya Hans bingung.
"Hans,sebenarnya kakek itu meminang Dira bukan untuk dirinya...tapi...tapi untuk kamu..." ucap Amirah menjelaskan.
"Maksudnya...?" tanya Hans bertambah bingung. Antara ingin berteriak bahagia atau berteriak marah karna merasa telah dipermainkan oleh kakek neneknya.
Akhirnya Sasongko pun menceritakan semuanya,dari awal kejadian malam itu,esoknya setelah Tio mengurus Dira di rumah sakit,Tio menghadap Sasongko lalu menceritakan kejadian yang bersangkutan dengan cucunya itu. Bahkan Sasongko pun sempat menjenguk Dira ke rumah sakit. Sasongko tau usaha Hans untuk memenangkan hati Dira dan Sasongko merasa langkah cucunya itu terlalu lamban,hingga Sasongko memutuskan untuk ikut canpur didalamnya.
"Jadi selama ini kakek dan nenek udah tau semuanya?"
"Ya...dan sebagai cowok,kamu terlalu lamban dalam mendekati Dira... Untung kejadian malam itu tidak membuat Dira hamil. Kalo Dira hamil,mungkin keburu melahirkan gara-gara keterlambatanmu..." gerutu Sasongko.
Hans hanya bisa nyengir kuda,kemudian dia menggeser duduknya mendekati Sasongko lalu memeluk kakeknya itu.
"Terimakasih kakek..." ucapnya tulus penuh haru.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa like,koment,vote dan gift nya ya...
Terimakasih...🙏🙏🙏
__ADS_1