
Tak lama setelah selang alat bantu pernafasan dan selang infus terpasang, Dira mulai mendapatkan kesadarannya. Tapi kemudian dokter memutuskan untuk memberikan suntikan obat tidur kepada Dira, karena melihat Dira yang tengah dalam keadaan syock berat. Pemberian obat tidur tersebut disuntikkan tentunya setelah pemeriksaan terhadap Dira dan bayi yang dikandungnya dalam keadaan baik-baik saja. Sehingga bisa beristirahat dengan tenang.
Selang sejam kemudian, Dira mulai terbangun dari tidurnya.
"Aku dimana?" gumam Dira lirih. Netra Dira menyapu semua sudut ruangan. 'Seperti ruang IGD rumah sakit?' gumamnya. Kemudian netranya menangkap sosok Hans yang tengah tertidur, sambil duduk di sisi ranjangnya. Tangannya menggenggam tangan Dira, tapi dia masih belum sadar jika Dira sudah terbangun dari tidurnya. 'Dia terlihat begitu lelah... mungkin karena seharian tadi dia habis jalan-jalan dengan Kak Jessica...' Dira tersenyum masam, kemudian dia menarik pelan tangan kanannya yang berada dalam genggaman Hans. Dira sudah sangat berhati-hati agar Hans tidak terbangun dari tidurnya tapi tak urung gerakan Dira itu membuat Hans terbangun juga.
"Sayang... kamu sudah bangun?" Dira terdiam sambil menatap intens wajah suaminya. "Alhamdulillah kamu dan bayi kita baik-baik saja... dan kata dokter, kamu tidak perlu opname, jadi kamu bisa pulang setelah dokter memeriksamu sekali lagi... Mas panggil dokter dulu ya..." Dira mengangguk sambil tersenyum terpaksa.
"Terimakasih..." ucap Dira lirih. 'Ya Tuhan, dia masih bisa bersikap semanis itu padaku? Tak taukah dia, jika sikapnya itu justru membuat hatiku semakin sakit.'
Dokter jaga segera datang...
"Sudah merasa baikan bu...?"
"Alhamdulillah dok... Saya sudah boleh pulang kan dok?"
"Coba, mari saya periksa dulu ya..." ucap dokter jaga itu. "Oke semua baik-baik saja, tidak ada obat-obatan ya bu... cukup di minum obat yang ada saja. Yang paling penting jangan stress-stress ya..."
"Iya dok..."
Dira masih diam di sepanjang perjalanan, beberapa kali Hans mencoba menggodanya tapi dia tetap diam tak bersuara sedikit pun.
"Sayang, kenapa dari tadi kamu hanya diam saja? Apa ada yang salah dari aku?" Dira menggelengkan kepalanya... "Tapi mas liat, kamu seperti sedang marah dengan mas?"
'Pertanyaan lu bego Hans...' umpat Dira dalam hati. 'Bisa-bisanya lu ngomong, sikap gue kayak orang sedang marah... menurut lu? Harusnya lu tau Hans, istri lu ini lagi sakit hati. Sakit hati karena udah lu bo'ongin...huuh...' Dira membuang pandangannya ke luar jendela kaca mobil, menikmati pemandangan jalanan ibukota yang nggak ada indah-indahnya karena selalu macet.
'Aku tau kamu sedang ngambek karena melihat aku dan Jessica di mall tadi. Aku juga tau kamu pasti marah dan cemburu, tapi kenapa kamu selalu hanya memendam rasa itu? Padahal aku berharap kamu marah-marah padaku setidaknya biar hatimu jadi lega dan aku pun merasa tersanjung jika kamu memperlihatkan rasa cemburumu...he he he...' gumam Hans sambil terkekeh dalam hati dan tersenyum-senyum melihat tingkah Dira yang sedang ngambek.
Mobil Hans sudah memasuki halaman rumahnya, terlihat Hara berdiri di teras rumah untuk menyambut kedatangan mamanya. Anak itu pasti sudah di beri tahu oleh Sila jika mamanya baru saja pulang dari rumah sakit, karena wajahnya menunjukkan rasa khawatir.
"Mama... ayo Hara gandeng... pelan-pelan aja jalannya ya..." ucapnya yang mampu menghapus semua rasa kecewanya.
"Iya sayang... terimakasih..."
"Kak Dira sudah baik-baik saja?" tanya Hanna.
__ADS_1
"Iya sayang, Alhamdulillah kakak nggak papa kok, tadi cuma kecapekan..."
"Kalo gitu Hanna sama Hara anter kakak ke kamar ya..." ucap Hanna sambil ikut menggandeng dan mengantar Dira ke kamarnya.
Setelah memastikan Dira beristirahat di tempat tidurnya dan mengantar Hara tidur di kamarnya, Hanna pun menyudul kakaknya di ruang kerjanya.
'Tok tok tok...'
"Masuk..."
"Kak... kakak nggak liatin Kak Dira di kamar dulu? Kak Dira sepertinya sedang sedih, tapi waktu Hanna tanya katanya nggak papa..."
"Biarin dulu...nanti kakak ke sana... Oya Han... ada sesuatu yang ingin kakak sampein ke kamu..."
"Soal apa?"
"Sini kakak kasih tau..."
Hans pun langsung menceritakan semua kejadian yang dialaminya dan dialami Dira kakak iparnya. Termasuk rencana kejutan untuk ulang tahun Dira nanti malam pas pergantian hari.
"Ooo... jadi apakah kejadian itu yang membuat Kak Dira tampak sedih? Apakah kakak belum bilang hal yang sebenarnya terjadi antara kakak dan Kak Jessica di mall tadi?" Hans menggelengkan kepalanya.
"Biar jadi surprise buatnya... yang penting kamu nanti yang bawa kue tart nya kalo kakak udah kasih kode ya..."
"Oke... O ya kak, nenek dan Mama Anita itu ternyata pulang ke Bogor... Hanna pikir tadi terapinya nenek itu di tempat terapi deket-deket sini aja tapi ternyata terapinya jauh di Bogor..." Hanna mengadu pada kakaknya.
"Ya sudah... biarin, mungkin nenek udah cocok di sana... Orang tua seperti nenek itu butuh kenyamanan, jadi kita tinggal mengikutinya aja. Sudah kamu istirahat di kamar dulu sana..."
"Siap..."
Hans masuk ke kamarnya ketika jam tangannya menunjukkan pukul sebelas malam. Dia sengaja menghindar agar Dira semakin berfantasi dengan prasangka dalam hatinya. Sebenarnya Hans ingin melihat Dira mengamuk karena dengan begitu dia merasa menjadi laki-laki yang paling dicintai. Gila memang pikiran Hans, tapi itulah harapan konyolnya.
Suasana kamar gelap, Dira bahkan tidak menyalakan lampu tidurnya... bukankah selama ini dia takut gelap? Hans segera meraih tombol lampu untuk menyalakannya dan begitu lampu menyala sebuah bantal melayang mengenai tubuhnya.
'Buuk buuk buuk...' tidak hanya bantal tapi guling pun ikut melayang ke arahnya.
__ADS_1
"Dasar laki-laki jahat...' teriak Dira. "Laki-laki pembohong... laki-laki br*******k...hiks hiks hiks..." Dira mengamuk sambil menangis sejadi-jadinya. "Kenapa mas tega lakuin ini ke Dira...hiks hiks hiks... Dira salah apa?" tanya Dira setelah dia kelelahan mengamuk. Perlahan Hans mendekatinya dan Dira pun kembali berteriak...
"Jangan mendekat...! Aku nggak mau berdekatan denganmu lagi..." ucapnya sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Rupanya ketika dia sengaja mematikan lampu tadi, dia juga masih begitu ketakutan. Hans tersenyum sambil tetap mendekati istrinya.
"Jangan mendekat ku bilang..." ucapnya sambil celingukan mencari barang yang bisa dilempar ke arah suaminya, sebab bantal dan guling sudah dilemparkan olehnya semua.
'Kenapa tinggal barang-barang yang tajam dan bisa pecah semua ya? Kalau aku lempar dan mengenai tubuhnya pasti sakit... kalau pun tidak mengenai tubuhnya tapi nanti pecahannya keinjak kakinya... kakinya bisa terluka, kan kasihan... Jadi aku lempar dia pake apa dong...' ucap Dira konyol dalam hatinya, hingga tanpa dia sadari Hans sudah berada disampingnya dan siap memeluknya. Tapi Dira segera mendorong tubuh suaminya, begitu dia sadar Hans sudah ada didekatnya.
"Jangan pernah berani pegang-pegang Dira lagi ya... Dira sudah nggak sudi mas sentuh dengan tangan kotor mas itu..."
"Memangnya kenapa? Sayang, dari tadi mas itu bingung lho... kenapa sih kamu marah-marah? Ini sudah malem lho... bukannya tidur malah teriak-teriak..." ucap Hans pura-pura bego.
"Kenapa kata mas? Tanya pada diri mas sendiri kenapa mas bisa tega ngelakuin ini sama Dira? Kenapa mas tega bohongi Dira dan pergi dengan mantan terindah mas itu? Dan sekarang mas tanya kenapa? Harusnya Dira yang tanya kenapa? Kenapa mas membawa Dira pulang ke rumah ini? Kenapa mas tidak membiarkan Dira tetap di ruko saja?"
"Kenapa... ya karna rumah ini rumah kita dan sudah sepatutnya lah aku bawa pulang ke rumah ini... dan kenapa aku tidak membiarkan kamu di ruko? Ya karena kamu istriku dan tempat kamu di sini, kamu kan nyonya rumah di sini..." ucap Hans santai.
"Heh... nyonya rumah ya... istri kata mas..."
"Iya... memang begitu kenyataannya kan?"
"Nyonya rumah dan istri yang bodoh...? Hingga dengan mudah bisa dibohongi oleh suaminya yang sok sayang dan sok cinta sama istrinya? Dira capek mas... Dira lelah dengan semua kepura-puraan yang mas tunjukkan pada Dira... hiks hiks hiks..." Dira meringkuk agak jauh dari suaminya, tubuhnya yang berselimut rapat itu barguncang karna isak tangisnya. Dia seperti sudah kelelahan karena tadi telah meluapkan amarahnya yang begitu besar. Dira pun seolah tak sanggup lagi mengelak ketika Hans merangkul pundaknya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung