Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Kedatangan Tamu Kakak Beradik


__ADS_3

Berkat kerja tim yang hebat, Hans yang rencananya akan stay sementara di Singapura selama satu sampai dua bulan, akhirnya sudah bisa pulang.


"Kamu nggak bilang kalau aku pulang hari ini kan Lex?" tanya Hans sekedar memastikan jika Alex tidak membocorkan kepulangannya kepada Dira. Sepertinya Hans sengaja ingin memberi kejutan kepada istrinya itu.


"Tenang aja... gue bahkan sudah dua hari ini belum bertemu dengan adik gue yang satu itu..."


"Bagus..." ucap Hans sambil tersenyum-senyum sendiri membaca chat dari Dira.


"Kesambet setan mana lu... dari tadi senyum-senyum sendiri... nggak jelas"


"Kesambet setan cantik... he he he... Ini loh Dira ngechat aku terus dari tadi... tapi sengaja tidak aku balas, cuma aku baca aja... he he he... Habis sebel, dari pagi ponselnya nggak bisa dihubungi..."


"Baperan kaya bocah lu... timbang ponsel nggak bisa dihubungi aja balas dendam, lu kan masih bisa ngehubungi lewat telpon rumah kan?" komentar Alex sambil tetap fokus mengemudi.


"Hans..."


"Hmm... apa?"


"Jangan terlalu usil sama Dira, Hans... ingat penyakit jantung istri lu itu..."


"Iya kakak... adik iparmu yang ganteng ini tau batas... kakak jangan khawatir..." ledek Hans.


"Hadeh...elu ni... di kasih tau juga..."


"Iya... iya... serius amat... Oya Lex, selama di Singapura kemarin aku juga sempat mencari dokter spesialis jantung terbaik untuk Dira. Mungkin nanti aku akan membawa Dira berobat di sana, tapi pastinya menunggu sampai dia melahirkan dulu..."


"Baguslah... gue seneng denger lu memperhatikan keadaan Dira, gue suka kasian sama dia. Dari dulu penyakit itu sangat mengganggunya..."


"Dia istriku Lex, sudah seharusnya aku memperhatikan kesehatannya. Kamu tau kan? Aku cinta banget sama dia..."


"Aku tau... jaga dia selalu ya..."


"Insya Allah..."


🌹🌹🌹


Mobil Alex mulai memasuki halaman rumah keluarga Saputra.


"Loh kok ada mobil Adit... berarti Adit dan Sila ada di rumah lu... Oh mungkin mereka pamit karna besok mereka sudah harus berangkat ke Bali..." ucap Alex mengambil kesimpulan sendiri... "Oya Hans,gue nggak turun ya... habis ini gue mau metting..."


"Hmm..." Hans tak begitu menanggapi ucapan Alex, karna sepertinya dia mendapat ide untuk ngerjain Dira lewat Sila.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum..."


"Wa....'alaikumsalam... lho mas... kok udah pulang..." teriak Dira terkejut tapi binar mata bahagia tidak dapat disembunyikannya. Sayangnya Hans seperti tidak merespon istrinya yang mendekatinya. Dira memeluk dan Hans pun membalasnya namun balasan Hans tidak fokus pada istrinya, dia justru mengajak bicara Sila dan suaminya.


"Wah yang baru pulang dari bulan madu... mukanya tampak berbinar-binar..." goda Hans pada Sila. "Kamu jadi kelihatan tambah cantik deh..." Sila pun tersipu malu tapi dia juga heran melihat Hans seolah mengabaikan istrinya. Hans pun melepas pelukan istrinya lalu duduk dan fokus mengobrol dengan Sila tanpa menghiraukan Dira yang sudah mulai cemberut.


"Sayang tolong ambilin minum dong...haus ni... air mineral dingin aja" pintanya tanpa dosa.


"Dasar om-om nyebelin..." omel Dira lirih sambil berdiri mengambilkan sebotol air mineral dari lemari es, kemudian memberikannya kepada Hans. Hans menerimanya tanpa menoleh.


"Adit, lu kok diem aja sih liat istri lu digodain sama om-om genit..." sindir Dira sambil melirik Hans dan Sila.


"Lu cemburu ma gue?" tanya Sila.


"Nggak...!" jawabnya singkat sambil hendak ngeloyor pergi, tapi tangan Hans lebih sigap menarik lengan Dira hingga Dira terduduk di pangkuannya.


"Akh... apaan sih om... nggak lucu..." ucap Dira sambil memegangi perut buncitnya dengan kedua tangannya.


"Nggak enak kan dicuekin itu..."


"Ih siapa juga yang nyuekin... mas tuh di WhatsApp berkali-kali nggak di balas cuma dibaca doang..."


"Oya? Lalu siapa yang dari pagi ponselnya nggak aktif?"


"Wah kayaknya kita salah tempat ay, pantesan Kak Alex nganter terus pergi... kita juga pulang aja yuk..." ajak Sila kepada Adit suaminya, lalu diikuti dengan tawa mereka bersama.


Dan akhirnya mereka berdua pun pamit pulang, setelah melihat Tuan dan Nyonya Hans sudah mulai bermesra-mesraan. Setelah tamunya pulang, Hans pun pergi ke kamarnya untuk bersih-bersih dan istirahat.


"Sayang... duduk sini dong... nggak kangen apa?" pinta Hans yang capek ngeliat istrinya dari tadi bolak balik kaya setrikaan.


"Aku beresin kopermu dulu mas... biar cepat rapi..."


"Bisa nggak kalo nggak bantah perintah suami?"


"Iya deh iya..." Dira pun akhirnya mengalah dan langsung duduk di samping suaminya dengan kepala yang menyandar di dada Hans.


"Nah gitu dong, nurut ma suami..." ucap Hans sambil membelai-belai rambut hitam Dira. Tak lama kemudian tangan kiri Hans mengelus perut Dira yang mulai membuncit... "Dedek sayang kangen papa nggak? Pastinya kangen dong...kan kita udah lama nggak main bareng... Dedek pingin ketemu papa kan?"


"Ih jangan mulai deh mas... baru juga sampai rumah. Emang mas nggak capek apa? Istirahat dulu aja deh..."


"Nggak ada istilah capek untuk bermesraan denganmu. Emangnya kamu nggak kangen dua minggu nggak ketemu mas?"

__ADS_1


"Ya kangenlah... apalagi di saat hamil begini, kangennya berlipat-lipat. Mas tau nggak? Selama di tinggal mas ke luar negeri,Dira sering nangis kalo malam-malam. Dira takut kejadian enam tahun yang lalu terulang lagi... Dira takut mas nggak akan kembali lagi hingga membuat Dira melahirkan anak sendiri lagi seperti dulu" Ada bulir kristal bening yang tak sanggup di tahan oleh Dira di sudut matanya. Tangannya pun mulai memeluk erat tubuh suaminya. "Dira takut mas akan pergi ninggalin Dira lagi seperti dulu...hiks hiks hiks..."


"Insya Allah itu tidak akan pernah terjadi sayang... mas tidak akan mengulangi kesalahan dan kebodohan mas untuk kedua kalinya... Mas sangat mencintai kamu dan Hara..." Hans mencium kening istrinya. Tapi lama-lama Hans kemudian mulai menciumi bagian yang lainnya. Sementara Dira hanya pasrah dan menikmati setiap sentuhan suaminya. Tangan Hans pun kini mulai mengabsen setiap inchi tubuh istrinya, karena sejak tadi tidak ada penolakan dari istrinya..


"Mas kangen... boleh main sama dedek?" tanyanya berbisik dengan nafas yang mulai tidak beraturan. Dira mengangguk.


"Tapi pelan-pelan ya..." pinta Dira dengan nada manjanya. Hans pun tersenyum sambil ikut mengangguk pelan, seperdetik kemudian Hans mulai melepaskan rasa rindunya kepada Dira. Dan kini dia pun mulai menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.


🌹🌹🌹


Acara tujuh bulan Dira di gelar dengan meriah. Semua keluarga besarnya pun datang memberikan do'a untuk bayinya yang menurut prediksi berjenis kelamin perempuan. Namun di balik rasa bahagia itu, rupanya terselip rasa kecewa di hati Dira karena tidak hadirnya Sila dan Adit sahabat dekatnya. Hans tau perasaan Dira, dia pun terus mendampingi istrinya itu. Damar dan Angel juga datang... berkat ketulusan sikap Dira, ketegangan yang pernah terjadi pun kini sudah mencair sehingga mereka bisa ikut berbaur dengan kebahagiaan keluarga kecil Dira.


Setelah acara pengajian dan pemberian santunan untuk anak yatim-piatu selesai, mereka masih bercengkerama di ruang tengah Dira yang luas. Di tengah keasyikan mereka, tiba-tiba Bi Asih datang menghampiri Dira yang duduk di samping Hans.


"Ada tamu neng... mereka ingin bertemu dengan tuan..."


"Siapa bi?Laki-laki atau perempuan?" tanya Hans menyahut.


"Bi Asih belum pernah liat mereka datang ke rumah ini tuan... Wanita cantik dua orang tuan..." Mendengar kata wanita cantik, Dira langsung menatap tajam kearah suaminya.


"Serem ih..." celetuk Hans menanggapi tatapan mata istrinya. Diraihnya kepala Dira lalu diciumnya.


"Kita liat siapa yang datang..." Hans menggandeng tangan Dira. Setelah itu mereka pun beranjak dari tempat duduk mereka, berpamitan dengan semua keluarga yang masih bercengkerama kemudian berjalan menuju pintu depan.


Langkah Dira dan Hans terhenti sesaat ketika mereka melihat siapa tamu yang di maksud oleh Bi Asih. Tamu itu ternyata adalah Vera dan Felisha... Dira pun mempererat pelukannya pada tangan Hans, seperti seorang anak kecil yang takut mainannya akan di rebut. Hans tau perasaan istrinya yang masih labil karena bawaan hamil. Dia pun meletakkan telapak tangannya pada telapak tangan Dira untuk menenangkan hati istri cantiknya itu.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf telat banget update nya...🙏🏻🙏🏻🙏🏻


__ADS_2