
Hans menurunkan Hara dari gendongannya lalu didudukkan di kursi yang berada di samping istrinya.
"Loh... Hara kok udah ganti baju,emang Hara udah bersih-bersih badan?" tanya Dira dengan lembut dan bocah kecil itupun mengangguk.
"Udah sama papa..." jawabnya singkat.
"Wah papa hebat... terimakasih ya pa... " puji Dira pada suaminya dan Hans pun menjawab pujian istrinya dengan anggukan dan senyuman. "Hara masih ngantuk?" Hara mengangguk pelan. "Kita makan dulu habis itu Hara bobok lagi ya..."
Sesi makan di mulai, dan setelahnya mereka pun kemudian bercengkerama di ruang tengah.
"Mama... boleh Hara bobok di kamar dengan Erik?" tanya Hara.
"Boleh dong..."
"Hara suka kamarnya enggak?" tanya Sila.
"Suka aunty... kamarnya luas dan bagus, mainannya juga banyak..." jawab Hara dengan polosnya.
"Sayang, Uncle Alex dan Aunty Sila ini yang mendesain kamar Hara loh. Ucapin terimakasih dong..." kata Hans.
"Terimakasih uncle... terimakasih aunty..."
"Sama-sama...uncle dan aunty senang deh kalo Hara suka..."
"Iya... Emm... tapi..." Hara seperti sedang memikirkan sesuatu...
"Tapi...kenapa? Apa ada yang Hara nggak suka?" tanya Sila. Hara menggeleng pelan, kemudian dia bertanya..."Emm...tapi... mendesain itu apa ya...?" tanyanya dengan polosnya.
"Ha ha ha..." semua orang yang ada di situ pun tertawa, kecuali Erik tentunya... yang sama bingungnya dengan Hara. Tapi kemudian Dira menjelaskan tentang arti kata mendesain yang belum dipahami oleh kedua anak itu.
"Mama... Hara ngantuk... mau bobok di bacain buku cerita sama mama..." rengek Hara tiba-tiba.
"Akh ya... ayo kita pergi bobok... mama akan bacain buku cerita..."
"Yea..." Hara dan Erik pun berteriak kegirangan.
"Kalo gitu semuanya... aku tinggal ngurus anak--anak dulu ya....?"
"Siap..." sahut Sila.
"Erik yang anteng jangan nakal ya..." pesan Jessica pada putranya.
"Iya mami..."
"Emm... sayang... nanti kalo anak-anak udah tidur, bisa tolong bikinin teh buat mas ya?"
"Iya..."
__ADS_1
"Gimana kalo aku bikinin aja... Kalo harus nunggu Dira mungkin akan lama..." Jessica mencoba menawarkan jasanya untuk membuatkan teh untuk Hans.
"Nggak papa... aku belum haus kok, aku nunggu Dira aja..." Jessica tampak kecewa dengan jawaban Hans padanya, sementara Alex dan Sila saling berpandangan dan bergumam dalam hati mereka masing-masing karena merasa nggak habis pikir dengan sikap Jessica barusan.
'Iduh ni cewek... cari-cari kesempetan aja... Huh Dira...Dira... kenapa sih cewek macem gini aja lu baekin...? Jadi was-was gue...' gumam Sila.
'Sepertinya ketulusan Dira belum bisa membuat Jessica tau posisi. Walaupun jelas-jelas Hans menjaga jarak dengannya tapi dia masih saja cari celah buat cari perhatian Hans. Sepertinya gue harus tetep ngawasin gerak-gerik Jessica nih... Gue nggak mau Dira mengalami hal seperti lima tahun yang lalu...' bathin Alex.
'Br*******k gue hampir aja kejebak dalam permainan gue sendiri. Dira memang baik dan tulus tapi aku hanya ingin tau seberapa besar Hans mencintai istrinya dan seberapa dalam dia telah mengubur masa lalu kami berdua...' gumam Jessica dalam hati.
"Oh oke...maaf, kamu jangan salah salah sangka ya... Aku ngomong gitu cuma karena aku ingin membalas kebaikan kamu dan istrimu padaku... nggak lebih. Lagian bukannya dulu kamu paling suka teh bikinanku?"
"Itu dulu... sekarang aku hanya mau teh bikinan istriku, yang ternyata lebih enak dari buatanmu..." ucap Hans sambil memainkan gawainya.
"Oya Hans, karena udah malem gue ma Sila pamit pulang dulu... besok gue kesini lagi. Inget pembicaraan kita tadi ya...?" ucap Alex.
"Oke siap bro...kamu nggak usah kuatir... Inget juga besok kamu ke sini sama Pak Handoyo..." pesan Hans yang hanya di jawab dengan acungan jempol dari kedua tangannya.
"Jess... besok pagi lu siap-siap dari pagi ya..." titah Alex ke Jessica.
"Emang lu mo ke sini jam berapa?"
"Jam tujuh ato jam delapan mungkin... pokoknya lu siap-siap aje...biasanya cewek kan suka ribet kalo lagi dandan..."
"Oke deh... tapi Erik gimana ya..."
"Siip...thank you ya..." Hans hanya mengangguk pelan.
"Udah dong ngobrolnya, ayo pulang... Kak Hans... pamitin ke Dira ya kak...gue dah ngantuk banget nih... O ya...besok gue ke sini lagi sama Adit boleh kan kak?" tanya Sila.
"Boleh aja, asal calon laki mu itu nggak curi-curi pandang sama istriku ya..." goda Hans kepada Sila.
"Tenang aja kak... Adit itu sekarang hanya liat gue seorang.... he he he..."
"Yakin tu..." goda Hans lagi.
"Aaa... Kak Hans... Kak Alex, si jangkung tuh godain gue mlulu..." rengek Sila meminta bantuan kepada kakaknya.
"Idih...katanya mau nikah tapi masih kayak anak kecil..." ledek Hans.
"Biarin week... Assalamu'alaikum..." jawab Sila sambil menjulurkan lidahnya.
"Ha ha ha... Wa'alaikumsalam... ati-ati di jalan..." teriak Hans ketika mobil Alex sudah mulai meninggalkan halaman rumah keluarga Hans.
Sesaat setelah mobil Alex mulai tidak terlihat lagi, Hans dan Jessica pun kembali masuk ke rumah. Namun... entah sengaja ataupun tidak, tiba-tiba saja kaki Jessica terantuk pintu hingga tubuhnya oleng karena kaget dan kesakitan. Hans yang ada di belakangnya pun dengan sigap menangkap tubuh Jessica yang akan terjatuh, sehingga dari jauh mereka berdua terlihat seperti sedang berpelukan. Dira yang baru saja dari dapur hendak memberikan teh pesanan suaminya pun kaget bukan kepalang melihat adegan itu.
'Krompyang...' cangkir teh yang ada di tangan Dira pun terjatuh kr lantai.
__ADS_1
"Mas Hans..." bisiknya sambil menitikkan air mata, kemudian berlari menuju kamar tidurnya.
Hans dan Jessica terkejut mendengar suara cangkir yang jatuh berkeping-keping di lantai. Hans tak bisa berkata-kata ketika dia melihat Dira diam mematung sebelum akhirnya lari menuju kamar tidur mereka. Hans melihat Dira menitikkan air mata, membuat rasa bersalah kembali menyelimuti hatinya. Perlahan dia membantu Jessica duduk,lalu meminta salah satu ART nya untuk menolong Jessica, baru kemudian dia mengejar Dira ke kamar tidur mereka.
Sementara Dira membanting tubuhnya dan tengkurap sambil memeluk guling. Dia membungkam mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar sampai ke kamar anaknya. Yah... rasa sakit hatinya membuat Dira lupa bahwa kamar tidurnya kedap suara.
"Sayang..." panggil Hans sambil mendekati istrinya, tapi Dira diam tidak bergerak. Namun ketika tangan Hans hendak menyentuh tubuh Dira, secara refleks Dira menghempaskan tangan Hans sampai Hans hampir terjatuh.
"Jangan pegang-pegang... tangan mas kotor... Jauh-jauh dari Dira... hiks hiks hiks... Dira benci sama mas..." ucap Dira dengan lantang.
"Sayang, apa yang kamu lihat itu tidak seperti yang kamu pikirkan..." Hans mencoba mendekati istrinya kembali, tangannya ingin meraih tubuh Dira, tapi dengan cepat Dira menghindarinya.
"Ku bilang jangan pegang-pegang... Dira nggak mau... tangan mas kotor, habis pegang perempuan lain... Dari dulu Dira kan sudah bilang jika mas sebaiknya kembali sama Jessica saja... Dira tau kalian masih saling cinta... Mas tau... Dira jadi menyesal ikut pulang ke sini, kalau ternyata Dira hanya di suruh menyaksikan adegan mesra kalian... Kita baru sampai mas... baru beberapa jam yang lalu... kenapa sudah segitu nggak sabarnya... Seenggaknya kan bisa nunggu sampai aku tidur... Astaghfirullah haladziim... betapa bodohnya Dira sudah percaya sama mas... hiks hiks hiks... Harusnya Dira sadar diri, bahwa tempat Dira bukan di sini... hiks hiks hiks... Tega mas bohongin Dira... hiks hiks hiks.. Mas jahat!." Dira berbicara panjang lebar sambil berkali-kali menekan dada kirinya yang mulai terasa nyeri.
"Sayang jangan begini...ingat kesehatanmu,.. Demi Allah,mas tidak melakukan apa-apa dengan Jessica sayang..." Hans pelan-pelan mendekati istrinya.
"Stop! Mas diam di situ saja..." teriak Dira.
"Oke... oke... mas akan diam dan bicara dari sini ya..." Hans menghentikan langkahnya, lalu... " Sayang... sudah mas bilang kan,apa yang kamu lihat itu tidak seperti yang kamu pikirkan..." Hans menarik nafas panjang. "Tadi kaki Jessica terantuk pintu, terus dia kesakitan lalu tiba-tiba saja tubuhnya oleng. Karna kebetulan mas ada di situ jadi mau nggak mau mas pun menangkap tubuh Jessica biar nggak jatuh ke lantai. Jadi tidak ada itu mesra-mesraan... itu kecelakaan... dan yang mas lakukan itu, semua hanya karena terpaksa.... Kamu harus percaya sama mas,Dira..., jika tidak akan ada wanita lain di hati mas selain kamu..." ucap Hans yang mulai mendekat kembali ketika melihat istrinya telah berhenti menangis.
"Stop! Dira bilang jangan mendekat..."
"Tapi..."
"Mandi dulu...Dira nggak mau mas dekati... mas kotor... bau tubuh Jessica..."
"Oke-oke... jadi mas mandi dulu ni... terus berarti kalau udah mandi, mas udah boleh deket dong...?" tanya Hans dengan nada menggoda dan Dira pun melengos mengalihkan pandangannya. "Kamu nggak mau bantu mas mandi?" goda Hans lagi ketika melihat Dira sudah mulai baik perasaannya.
"Ogah..." jawab Dira kesal.
Hans tersenyum...dia tau istrinya sedang cemburu dan merajuk padanya... sesuatu yang manis walau harus membuat Dira menangis.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1