Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Teryata Sila Sedang Patah Hati


__ADS_3

Seminggu berlalu tanpa terasa, Hans masih berada di Negeri Jiran Malaysia. Proyek besar yang dimenangkan perusahaan Hans di sana, memaksa Hans untuk tinggal di sana lebih lama. Tapi beruntung bagi Hans karna perpisahan sementara itu justru membuat hubungan di antara mereka...Hans dan Dira semakin membaik dan hangat. Komunikasi mereka semakin lancar, bahkan tak jarang justru Dira lah yang sering berinisiatif untuk memulai menghubungi Hans dan mengatakan rindu pada Hans dengan nada manjanya. Seperti pagi ini,selepas sholat subuh...Dira sudah menelpon suaminya.


'Tuuut... tuuut... tuuut...' Hans setengah berlari mengambil ponselnya di dalam kamar yang sedang dia cas. Dia takut,jika itu telpon dari Dira dan tidak langsung di angkat,Dira bisa marah-marah.dan benar saja...


📞 "Assalamu'alaikum sayang..."


📞 "Wa'alaikumsalam...mas dari mana kok lama ngangkat telponnya..." omel Dira.


Entah apa yang terjadi pada Dira...tapi sikapnya dua hari ini memang tampak berbeda. Secara tiba-tiba sikap posesif terhadap suaminya sering muncul. Hans senang menerima perubahan sikap Dira itu walaupun terkadang merepotkannya juga. Apalagi akhir-akhir ini, Dira tak puas hanya dengan telpon suara, setiap kali dia telpon selalu melakukan video call, seperti saat ini...


📞 "Ponsel mas sedang di cas dan mas sedang olahraga sedikit di balkon,tuh lihat... keringat mas aja belum kering. Sebentar lagi mas mau berangkat ke lokasi proyek..." jelas Hans sambil tersenyum.


Tapi bukannya Dira lega dan membalas senyuman suaminya...Dira justru tampak masih cemberut.


📞 "Mas Hans kapan pulang?"


📞 "Belum bisa dalam waktu dekat ini sayang... kenapa? Kangen?"


📞 "Udah tau nanya... Emang mas nggak kangen? Apa sekarang mas udah dapet gebetan di sana ya?" ucap Dira merajuk.


📞 "Hush... sembarangan aja. Mas di sini kan kerja, mana ada waktu untuk melakukan hal konyol macem gitu? Waktu mas itu hanya cukup untuk bekerja dan telpon kamu aja..."


📞 "Tapi mas nggak kangen Dira..." Dira kembali merajuk dengan mimik muka yang masih belum cerah.


📞 "Sok tau...ya pasti kangenlah, suami mana pun pasti akan kangen jika berjauhan dengan istrinya. Apalagi jika istrinya secantik istri kesayangan mas ini... Andai mas bisa pulang sekarang,mas pasti sudah melakukannya, tapi apa daya mas belum bisa pulang dalam waktu dekat ini..."


Dira terdiam mendengar penjelasan suaminya dan tiba-tiba saja netranya berkaca-kaca, seperti orang yang akan menangis. Melihat perubahan sikap istrinya itu,Hans pun menjadi khawatir.


📞 "Sayang kamu kenapa? Jangan sedih dong...mas jadi kepikiran terus nanti..."


📞 "Maaf...Dira hanya kangen"


Kalimat itu terucap dari bibir Dira begitu saja diiringi dengan butiran kristal bening yang menetes dari sudut mata indah milik Dira yang tak sanggup dibendungnya lagi. Hans tersentak kaget melihat perubahan sikap Dira pagi ini, ingin rasanya dia segera mendekap erat tubuh istrinya itu. Rasa cemas pun semakin memenuhi hatinya tapi apa daya pekerjaan di negeri tetangga tak dapat ditinggalkannya.


📞 "Sayang jangan nangis dong,mas juga pingin cepet pulang tapi proyek di sini baru di mulai..."


📞 "Hari ini Dira memang baru sidang skripsi, tapi nanti kalo Dira pas wisuda dan mas juga tidak bisa pulang,Dira sama siapa? Hiks hiks hiks..."


📞 "Hei...mas kan udah janji kalo Dira wisuda,mas pasti pulang... Maafin mas kalo sekarang mas belum bisa nemenin tapi nanti kalo pas Dira wisuda,mas pasti ada untuk istri mas tercinta...?"

__ADS_1


📞 "Mas janji ya...?"


📞 "Iya... sekarang mas tutup dulu video call nya ya...Mas mau kerja dulu..."


Dira mengangguk...


📞 "Assalamu'alaikum... jangan nangis lagi ya..."


📞 "Wa'alaikumsalam... cepet pulang..."


📞 "Iya..."


Setelah mengakhiri video call dengan suaminya,Dira tidak segera bersiap untuk mengikuti sidang skripsi di kampusnya. Dia justru malah duduk di pinggir tempat tidurnya sambil terbengong-bengong sendiri.


'Duh, kenapa gue sekarang selebay itu ya sama Mas Hans? Kenapa gue selalu merasa rindu yang berlebihan sampai tidak bisa menahan tangis gue lagi... Iih...jijai amat sih gue... Apa yang dipikirkan Mas Hans ya ngeliat gue kaya gitu? Iih sumpah gue malu... tapi kenapa gue nggak bisa ngendaliin diri jika sudah melihat Mas Hans? Aaaa...tau ah...'


Dira mengusap-usap wajahnya dengan kedua tangan. Dia seperti juga bingung dengan dirinya sendiri.


🌹🌹🌹


'Tok tok tok...'


"Iyaa... bentar lagi...masuk aja kali Sil..."


"Serius ni boleh masuk?" tanya Sila sedikit ragu.


"Iih apaan sih,..tentu saja boleh... Lagian Mas Hans kan nggak ada di rumah... jadi santai aja kali..." ucap Dira.


"Gue masuk ya..."


"Iya ih,kaya di rumah siapa aja deh..."


"Bukan gitu Dir... kamar ini kan bukan kamar lu sendiri. Ini juga kamar tidur suami lu,jadi jika tanpa ijin dulu, siapapun itu nggak boleh masuk sembarangan dong..."


"Emang harus gitu? Ribet amat hidup lu...he he he...Lu itu bukan cuma sahabat gue tapi lu adalah saudara gue. Mas Hans pun selama ini menganggap elu sebagai adiknya kan...so santai aja kali... Yuk berangkat... gue udah siap..." Dira segera bangkit dari duduknya lalu membalikan badannya ke arah Sila.


"Tunggu-tunggu... busyet lu cantik amat...Dan baju lu... bagus bener baju lu,lu beli di mana?" tanya Sila.


"He he he...Mas Hans yang beliin sebelum dia berangkat dinas ke luar negeri. Jadi kalo lu tanya beli di mana,gue nggak tau..."

__ADS_1


"Lu beruntung punya suami kayak Kak Hans,dia sayang banget sama lu, perhatian dan romantis. Andai gue punya cowok kayak Kak Hans... sempurna deh hidup gue." ucap Sila dengan pandangan menerawang jauh entah kemana.


"Doni kan juga romantis..."


"Ya iya sih tapi itu dulu, sekarang gue udah kelar sama dia..."


"Maksud lu? Lu udah putus sama Doni?" Sila mengangguk pelan... "Kok lu nggak cerita sama gue sih? Kenapa? Apa sebabnya, bukankah kalian pacaran udah lama? Kapan itu terjadi Sila?" tanya Dira sendu sambil memegang kedua tangan Sila.


"Kejadiannya belum lama ini kok... " Sila diam sesaat seperti sedang mengumpulkan keberaniannya, kemudian... "Kita cerita sambil jalan ya... gue takut kita terlambat..."


Dira mengangguk, kemudian mereka pun berangkat ke kampus setelah berpamitan dengan Bi Asih.


Sesampainya di dalam mobil, Sila benar-benar menepati janjinya... Tanpa Dira bertanya lagi, Sila pun mulai bercerita sambil perlahan melajukan mobilnya lalu membelah kemacetan ibukota dengan kecepatan sedang. Sementara Dira mendengarkan semua penuturan Sila dengan serius dan fokus. Dira melihat Sila begitu tegar menceritakan pengkhianatan Doni yang teryata sudah lama. Walau awalnya Doni beralasan di jebak oleh wanita itu hingga dia mengaku terpaksa menikahi wanita itu, tapi sungguh tidak adil bagi Sila karna Doni tidak pernah jujur pada Sila sejak awal peristiwa itu terjadi. Sila mengetahui semua ketika dia bermaksud memberi kejutan di hari ulang tahun Doni.


Waktu itu Sila sengaja datang ke cafe tempat Doni bekerja yang berada di kota Jogja, tanpa memberitahukan kedatangannya. Tapi betapa terkejutnya Sila ketika di sana Sila melihat seorang wanita yang tengah menggendong seorang anak berusia satu tahunan, memberikan sebuah tart kecil dengan sebuah lilin ditengahnya. Dan sambil mendekat ke arah Doni,dia berucap..."Selamat ulang tahun papa..." dan dengan senyum manisnya,Doni menyambut kejutan itu sambil berkata..."Terimakasih istriku dan terimakasih juga jagoan papa..."


Sila terkejut bukan kepalang, melihat pemandangan di hadapannya, sampai-sampai kakinya tak mau digerakkan agar bisa segera meninggalkan tempat itu.


Kisah yang menyedihkan dan menyesakkan dada, dan tanpa sadar air mata Dira pun menetes tanpa bisa di bendung lagi. Sila sekilas melirik ke arah Dira lalu dia berhenti bercerita dan tiba-tiba saja Sila menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Jangan menangis Dira, nanti rusak riasan lu. Gue udah nggak papa kok. Maaf ya, gue baru bisa cerita sekarang. Setegar-tegarnya gue... sekuat-kuatnya gue, kemarin gue juga sempat ngedrop tapi sekarang gue udah bisa berdamai dengan kenyataan. Kenyataan bahwa apa yang kumiliki sejak lama, teryata bukan takdirku..." Sila memegang kedua tangan Dira,lalu..."Kita ini benar-benar kompak ya...saking kompaknya sampai patah hati pun kita sama... sama-sama dikhianati...ha ha ha..."


"Udah jangan sedih-sedih lagi, hari ini saatnya kita bangkit menuju masa depan cemerlang..." Sila memeluk Dira yang tidak mampu berkata-kata lagi. Tak berapa lama kemudian,Sila pun kembali melajukan mobilnya menuju kampus mereka.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2