
Angel sudah masuk ke rumahnya.
"Heh Sil,pindah ke depan dong...biar aku ada temennya..."
Sila melepas earphonenya sambil nyengir kuda,kemudian dia pun pindah dari tempat duduknya.
"Ngomongin apa aja tu bocil? Sepertinya dari tadi dia nggak berenti-berenti ngomong...Sila liat mulut tipisnya ngecablak mlulu sampe kakak risih ya...ha ha ha..."
"Nggak cuma risih,tapi ingin rasanya ngedorong dia keluar mobil. Telinga kakak aja sampai sakit ngedengerin ceritanya dia yang dari tadi ngejelek-jelekin Dira terus...kaya dia paling oke aja..." gerutu Hans.
"Ha ha ha...Angel...Angel...ngejelekin Dira kok sama pemujanya..."
"Hmm...ngeledekin ni..."
"He he he...nggaklah,mana berani aku kak..."
"O ya Sil,gimana tugas yang aku berikan padamu?"
"Belum sempet kak...tapi tenang aja,aku secepatnya akan mencari waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu..."
Tak lama,mobil mereka pun memasuki halaman apartemen.
"Kak Hans mau langsung ke ruko Dira?" tanya Sila sambil membuka pintu mobil.
Hans mengangguk.
"Perasaaanku kok nggak enak..." ucap Hans yang merasa cemas sejak tadi.
"Oke deh...hati-hati ya kak...Semoga Dira baik-baik saja..."
"Iya...aku pergi dulu ya..."
Hans pamit kepada Sila dan langsung melajukan mobilnya menuju ruko Dira.
🌹🌹🌹
Dira membantingkan tubuhnya di tempat tidurnya. Berdebat dengan Hans membuatnya merasa lelah. Tapi tiba-tiba saja ingatannya tertuju pada kata-kata Angel...
"Dasar kakak ini bodoh dan tidak tau diri...Kenapa kakak bisa-bisanya menolak Kak Hans yang jelas-jelas ingin bertanggungjawab pada kakak. Bukankah itu akan merugikan kakak sendiri...atau jangan-jangan kakak masih mengharapkan Kak Damar?"
'Apa benar omongan Angel itu ya? Apa benar aku ini orang yang bodoh dan tidak tau diri?
Tapi Sila juga pernah bilang begitu padaku...jadi bukan hanya Angel saja yang bilang... Kalau soal Damar...
Jujur aku masih belum bisa melupakannya,7 tahun bukan waktu yang singkat dan semuanya harus berakhir begitu saja hanya karna *****. Akh Damar,padahal sedikit lagi kita bisa bersama...mewujudkan cita-cita dan berkomitmen kita berdua...' gumamnya.
'Tapi kenapa harus ada Angel? Dan sekarang ada Hans juga...rencana masa depan kita pun jadi hancur berantakan...Kenapa Damar...kenapa...? Kenapa harus ada pengkhianatan...kenapa harus ada perselingkuhan???' gumamnya lagi.
Dira mengusap-usap wajahnya dengan kasar,meratapi hubungannya dengan Damar. Hubungan yang telah mereka bangun 7 tahun yang lalu,kini hanya tinggal kenangan yang menorehkan luka menyakitkan...
'Ting tong...Ting tong...'
__ADS_1
Bunyi bell rumahnya memecah kesunyian malam,membuyarkan segala lamunan Dira tentang Damar.
Dira melirik jam dinding di kamarnya,menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
'Ting tong...Ting tong...'
Bell rumahnya kembali berbunyi. Dira pun bangun dari tidurnya,membenahi bajunya lalu mengambil sapu lantai sekedar buat jaga-jaga. Bagaimana pun,ini sudah larut dan sudah bukan waktunya orang datang bertamu.
'Ting tong...Ting tong...'
Untuk ketiga kalinya bell rumah Dira berbunyi,Dira pun keluar kamar dan segera turun untuk membukakan pintu.
"Siapa?"
"Aku Dira..."
'Damar?' gumamnya. Tujuh tahun bersama membuat dia hafal betul dengan semua yang ada pada Damar,termasuk katakter suara Damar.
"Damarkah?" tanya Dira memastikan.
"Iya..."
"Mau apa datang malam-malam begini? Datang besok siang lagi aja deh,udah malem ni...nggak enak ma tetangga..." ucap Dira yang tengah berdiri di balik pintu yang masih tertutup,dia masih enggan membukakan pintu untuk Damar.
"Sebentar aja Dir...aku pingin bicara...penting."
"Penting apaan? Bicara aja dari situ,aku kasih waktu 5 menit..."
"Bicara penting apaan sih,bukankah masalah di antara kita sudah selesai? Dan kita pun sudah sepakat untuk putus secara baik-baik,tanpa dendam dan tanpa saling mengganggu satu sama lain. Aku juga bisa menerima hubunganmu dengan Angel..."
'Walau berat dan menyakitkan' lanjut Dira dalam hati.
"Ini masalah orangtuaku Dira,mama langsung pingsan ketika ku katakan jika aku sudah putus denganmu" ucap Damar berbohong.
Damar tau betul kelemahan Dira. Karna di balik sifat kerasnya itu ada sifat penyayang yang begitu besar dan sifatnya yang keras itu selalu luluh dengan sifat penyayangnya,apalagi jika hal itu berhubungan dengan orangtua. Entah itu orangtua Dira sendiri,ataupun orangtua Damar.
'Cklek'
Tuh kan betul...pintu di buka sedikit oleh Dira.
"Mama Ningsih kenapa? Kenapa kamu buru-buru memberitahukan semuanya?" tanya Dira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku jelaskan di dalam..."
Dengan satu gerakan,Damar pun menerobos masuk ke ruko Dira.
"Eeh tunggu,kita bicara di luar saja...ini sudah malam Damar,ayo kita cari tempat untuk bicara tapi jangan di sini..." bujuk Dira.
"Oke kalo memang itu maumu..."
Damar pun kemudian melangkah mendekati pintu depan,Dira pun merasa lega karna Damar mau menuruti kemauannya.Tapi ternyata di luar dugaan,Damar justru mendekati pintu depan untuk mengunci pintu tersebut lalu membuang begitu saja kunci itu.
__ADS_1
"Da...Damar...kenapa kau malah mengunci pintu itu dan kenapa kau buang kuncinya? Bukankah kita akan mencari tempat untuk bicara?"
"Ya Tuhan...betapa polosnya kau bidadariku yang cantik... Buat apa kita mencari tempat lain di luar sana yang sudah pasti udaranya dingin... Bukankah lebih baik dan lebih nikmat jika kita berada di dalam rumah saja...yang udaranya begitu hangat dan penuh gairah?"
Damar menowel dagu Dira dan Dira pun segera menepisnya.
"Apa maksudmu?"
Dira bergerak mundur menjauhi Damar sedikit demi sedikit. Tapi Damar pun semakin mendekat padanya,dengan senyum menyeringai mengerikan.
"Dira sayang...kau ini benar-benar tidak tau,atau pura-pura tidak tau?" tanya Damar yang terus berusaha mendekati Dira.
"Stop di situ Damar! Apa sebenarnya tujuanmu datang kesini?"
"Ho ho ho...Ternyata kau bisa marah juga ya...biasanya kau hanya merajuk padaku,dan itu sudah cukup membuatku gemas padamu. Dan sekarang ketika kau marah..selain kau masih menggemaskan...kau juga sangat menggairahkan..." Damar kembali mendekati Dira.
"Jangan gila Damar...aku bisa berteriak jika kau berani bersikap kurang ajar padaku..."
"Ha ha ha...teriaklah...bukankah kau saat ini tinggal di lingkungan ruko Dira? Tak akan ada orang yang akan menolongmu karna mereka sudah pada pulang,bahkan jika ada yang lembur sekalipun. Lihatlah...ini sudah jam 11 malam..."
Damar menunjuk ke jam dinding yang tertempel di ruang bawah sambil terus mendekati Dira pelan-pelan.
"Jangan begini Damar,bukankah kita kemarin sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan ini dengan baik-baik..."
"Ah ya...itu sebelum aku tau jika kau ternyata sudah memberikan tubuhmu pada orang lain..."
"Da..dari mana kamu tau hal itu? Akh,pasti Angel kan? Dengar Damar,itu sebuah kecelakaan...aku di perkosa Damar..." ucap Dira,tanpa sadar air matanya menetes karna kembali teringat kejadian malam itu.
"Aku tidak peduli kamu melakukan itu atas dasar suka sama suka...atau karna di perkosa...Yang pasti,kamu kini sudah tidak perawan lagi dan itu dengan orang lain bukan dengan aku. Untuk itu,aku tidak terima! Tujuh tahun kita bersama dan kau selalu menghindar jika aku mengajakmu bercinta,tapi kamu malah bercinta dengan orang lain ketika kamu masih menjadi kekasihku..."
"Maaf Damar...itu di luar kuasaku...hiks hiks hiks..."
"Kau tidak perlu menangis Dira...jika aku malam ini menginginkanmu,anggap saja itu sebagai hadiah dan salam perpisahan darimu untukku..."
Damar terus mendesak Dira hingga tubuh Dira membentur dinding. Dira sudah tidak bisa mundur lagi.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1