
Di antara pasangan mata yang terkagum-kagum oleh penampilan Dira, ternyata ada sepasang mata yang benar-benar terbelalak melihat Hans dan Dira saling posesif satu dengan yang lain. Apalagi ketika melihat Hans ke sebuah panggung kecil di resto itu.
"Hallo... mohon perhatiannya sebentar rekan-rekan..." ucap Hans menggunakan pengeras suara, membuat seluruh karyawan yang sedang mengobrol pun diam seketika kemudian mengarahkan perhatian mereka ke arah panggung.
Hans pun kemudian mengatakan, jika acara makan siang hari ini adalah wujud syukur atas kembalinya sang istri yang sudah lima tahun berpisah dengannya. Hans mengatakan jika acara ini sebenarnya acara dadakan yang tiba-tiba saja terlintas di benaknya, demi menjawab semua pertanyaan yang tidak berani mereka tanyakan kepadanya.
"Jadi sekarang... selamat menikmati hidangan makan siang kali ini..."
Semua karyawan pun bertepuk tangan mendengar pidato ringan yang disampaikan oleh Hans. Dan setelah itu, Hans dan Dira turun dari panggung guna berbaur dengan semua karyawannya yang mulai memberikan selamat satu per satu.
"Pantas saja pak boss bertahan dalam kesendirian, ternyata istri yang ditunggunya sangat cantik... ramah lagi..."
"Iya...di lihat dari auranya, dia nampak seorang wanita yang baik..."
"Betul..."
Ucap kasak kusuk di antara karyawan Hans.
"Halah... kalian ngomong gitu karena dapet traktiran makan siang di restoran hotel bintang lima yang mewah... coba sebelumnya, kalian pasti membicarakan hal buruk tentang istrinya si boss...."
"Maaf Kak Feli, Alhamdulillah kami tidak pernah punya waktu untuk membicarakan hal buruk tentang istrinya boss, soalnya kami mengenal pun belum. Kalau Lima tahun yang lalu istri boss meninggalkan rumah pasti ada alasannya dan nyatanya selama lima tahun boss masih setia menunggu istrinya. Itu berarti kesalahan bukan pada istrinya kan. Tapi yang pasti apapun masalah mereka bukan urusan kami, karena kami di sini hanya mencari rejeki.... tidak ada modus yang menyelimuti hati kami..." ucapan salah satu dari karyawan yang sedang bergerombol itu pun diamini oleh teman-teman mereka yang lain, membuat Feli merasa tersinggung. Dia pun kemudian meninggalkan karyawan yang sedang bergerombol itu dengan hati yang sangat jengkel.
"Jengkel lu?" tanya seorang wanita yang sejak tadi memperhatikan dan menyimak obrolan Feli dengan teman-teman sekantornya. Feli pun langsung menengok ke arah sumber suara...
"Kak Jessica...?!" ucap Feli setengah berteriak karena kaget dengan orang yang dilihatnya. Jessica tersenyum penuh arti, Feli pun kemudian mendekati sahabat kakaknya itu.
"Masih belum menyerah lu rupanya..."
"He he he... Kak Jessi apa kabar? Tambah cantik saja..."
"Feli... Feli... Lu itu dari dulu memang paling pintar bicara dan paling jago mengalihkan pembicaraan... Ya seperti yang lu liat... kabar gue baik-baik aja..." Mereka pun kemudian bercipika cipiki ria." Kita duduk di sebelah sana saja..."
"Sekian tahun belum bisa mendapatkan hati Hans, ternyata lu masih belum menyerah juga?"
"Hmm... kakak sendiri bagaimana?" ucap Feli dengan nada sinis.
"Awalnya gue sama seperti lu, pantang menyerah. Sampai pada suatu ketika, gue benar-benar merasakan kebaikan dan ketulusan Dira, istri Hans. Ketika gue sedang tengah di campakkan oleh suami gue yang kedua, dan gue dihadapkan dengan kelanjutan masa depan anak gue, dengan tulus ikhlas dia mau membantu gue. Bahkan dia mau memohon kepada Hans untuk membantu gue, karena pada awalnya Hans tidak setuju untuk membantu permasalahan gue..."
"Akh ya...gue sempet denger cerita itu dari Kak Vera. Bahkan katanya kakak sempat tinggal di rumahnya walaupun pada akhirnya kakak di usir juga sama dia kan?" ucap Feli dengan nada mencibir.
"Lu salah sangka Fel... Yang ngusir gue bukan Dira, tapi Hanna, adiknya Hans..." Jessica menarik nafas pelan lalu membuangnya kembali. "Hanna memang dari dulu tidak pernah suka padaku. Rasa benci Hanna itu semakin kuat ketika gue meninggalkan Hans dan memilih menikah dengan orang yang jauh lebih tua dari gue hanya karena harta. Jadi ketika kemarin gue di usir oleh dia, gue pun berusaha legowo menerimanya..."
__ADS_1
"Jadi ceritanya kakak udah insyaf dan menyerah ni..." Nada bicara Feli masih terus meledek Jessica.
"Ya... bisa di bilang begitu... Gue ingin punya hidup yang tentram, karena sebesar apapun usaha gue buat misahin mereka berdua dan merebut kembali Hans dari sisi Dira... akan selalu gagal. Karena kini bukan hanya Hans yang mencintai istrinya tapi Dira pun cintanya begitu besar kepada Hans. Gue harus terima kenyataan jika Hans memang bukan jodoh gue..."
"Lalu apa tujuan kakak kesini? Ingin menemui mereka atau tidak sengaja datang ke sini?"
"Gue memang sengaja datang ke sini. Tadinya gue ke kantor tapi sekuriti bilang jika kantor sedang mengadakan acara di sini,jadi aku susul aja ke sini..."
"Untuk apa kalau boleh Feli tau?"
"Untuk berterimakasih dan minta maaf, karena gue pergi tanpa pamit dan sudah sempat membuat kesalahpahaman di antara mereka..."
"Masalah kakak sudah selesai?"
"Alhamdulillah... semua berkat campur tangan dan pertolongan dari Hans juga Dira." Jessica diam sejenak... "Fel... menurut gue berhentilah mengejar Hans... biarkan mereka hidup bahagia dan kejarlah kebahagiaan lu sendiri bersama orang lain. Toh selama bertahun-tahun lu belum pernah mendapat perhatian dari dia kan?" Felisha menggelengkan kepalanya. "Makanya mundurlah..." Felisha membuang nafas panjang.
"Entahlah... tapi gue sepertinya ingin mencoba sekali lagi..." Jessica menggelengkan kepalanya.
"Jangan buang waktu lu percuma. Resign lah dari pekerjaan lu saat ini, carilah pekerjaan dan pengalaman di tempat lain agar lu bisa melupakan obsesi lu pada Hans. Percalah sama gue jika mereka berdua tidak mungkin terpisahkan lagi. Jangan sampai obsesi lu membuat lu menjadi orang yang jahat..."
"Terimakasih kak... mungkin saran kakak akan gue pertimbangkan... Gue permisi ke toilet sebentar kak..."
"Oke... gue harap, lu tidak melakukan hal bodoh yang nantinya hanya akan merugikan diri lu sendiri... Gue juga mau ke tempat Hans dan Dira dulu..."
"Mas, Dira ke toilet sebentar ya..."
"Jangan lama-lama ya..." Dira mengangguk sambil tersenyum.
Tak berapa lama Dira pamit ke toilet, Jessica datang menghampiri Hans yang tengah duduk bersama Alex.
"Hai Hans...hai Lex... boleh gue duduk di sini? Ada yang ingin gue bicarakan dengan kalian..."
"Silahkan duduk... apa yang ingin kau bicarakan kepada kami?"
"Dira mana? Gue juga ingin bicara dengan dia juga..."
"Dira sedang di toilet, mungkin sebentar lagi juga ke sini..." kata Hans.
"Sebenarnya lu mau ngomong apa sih? Jangan bilang lu masih belum menyerah untuk merebut Hans dari Dira. Jess, apa lu nggak inget kalo saat ini kita ((udah makin tua... dengan berbagai macam masalah yang lu buat dan lu hadapi,apa lu belum juga capek? Apa lu nggak takut disa?" tanya Alex kepada Jessica.
Biasanya Jessica akan marah jika Alex mulai menasehatinya, tapi berbeda dengan hari ini. Jessica justru tersenyum menanggapi ucapan Alex.
__ADS_1
"Lu sayang banget ya sama Dira... padahal dia bukan adik kandung lu kan. Jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa maksud lu? " bentak Alex sambil menatap tajam ke arah Jessica.
"Ho ho... santai bro... gue nggak bermaksud apa-apa kok...he he he..." ucap Jessica sambil melirik ke arah Hans yang sejak tadi cuek dengan kedatangannya. Dia malah sibuk dengan ponselnya.
"Gue ke sini sebenarnya ingin berterimakasih kepada kalian bertiga, atas semua bantuan kalian selama ini yang telah ikut menyelesaikan masalah gue. Selain itu, gue juga ingin minta maaf atas semua masalah yang selama ini gue buat..."
"Tunggu...lu nggak salah minum obat kan? Seorang Jessica tiba-tiba datang menemui kita di siang bolong hanya untuk berterimakasih dan minta maaf sama kita? Cubit gue Hans... apa gue sedang bermimpi?"
Hans hanya melirik malas ke arah sahabatnya, tapi tanpa ba bi bu justru Jessica yang mencubit tangan Alex dengan sekuat tenaga.
"Busyet...anjir... sakit tau..." teriak Alex.
"Tadi lu kan minta sendiri di cubit, kenapa sekarang lu malah mengumpat..."
"Gue nyuruh Hans, bukan nyuruh lu dodol..." umpat Alex.
"Hans sedari tadi diem aja, jadi gue wakili aja..."
Alex mengomel-ngomel nggak jelas, sementara Hans masih acuh tak acuh menanggapi ucapan Jessica.
"Hans...lu terima ucapan terimakasih dan permintaan maaf gue kan?" tanya Jessica dengan hati-hati. "Lu harus percaya Hans, jika kali ini gue sangat-sangat serius. Gue juga sudah capek jadi orang yang egois dan penuh rasa iri dengki. Gue sadar jika kelakuan gue selama ini sangat keterlaluan, tapi kali ini gue benar-benar sudah bertobat..."
Hans meletakkan ponselnya kemudian menatap Jessica dengan tatapan membunuh.
"Aku tidak butuh janjimu Jessi... tapi aku butuh bukti. Saat ini istriku sedang mengandung anak kami yang kedua. Aku tidak mau sesuatu hal terjadi pada istri dan anakku. Kali ini ucapan terimakasih dan permintaan maafmu aku terima, tapi jika suatu saat terjadi sesuatu pada anak dan istriku, dan aku tau itu karena ulahmu... aku tidak akan memaafkanmu..."
"Gue janji Hans dan kali ini pasti aku tepati..."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...