
Seminggu berlalu sejak pertama kali Dira mendapat kiriman foto-foto kebersamaan Hans dan Jessica. Tapi berkat Hans yang tidak pernah putus komunikasi dan memberikan penjelasan kepada istrinya, kini Dira sudah terlihat menjadi lebih tenang. Sementara Jessica dan Rico sudah sepakat dengan Hans untuk mendiamkan sepak terjang si pembuat onar ini, sebab menurut mereka... jika mereka baik-baik saja, pasti orang ini akan terjebak sendiri dalam permainannya. Tapi jika dia masih terus membuat ulah, maka Hans, Jessica dan Rico akan membereskan orang ini setelah pekerjaan mereka selesai. Dan benar saja... ketenangan mereka dalam menyikapi teror dari Vera telah membuat Vera menjadi jengkel sendiri, karena Vera merasa telah gagal memprovokatori pasangan-pasangan sahabatnya.
"Br*******k... kok bisa-bisanya Dira dan Rico masih anteng-anteng aja... harusnya mereka kan bertengkar dong... Tapi ini... kenapa mereka justru masih saja tetap harmonis dengan pasangan mereka masing-masing. Bahkan setiap malam, gue selalu denger Hans berkomunikasi dengan istrinya dengan sangat mesra... huuh..." omel Vera di dalam kamar hotel tempat dia menginap bersama Sarah, sahabat yang kini menjadi boss nya setelah dia menggantikan posisi Anya.
"Sudahlah Ver, hentikan semua ini... kalau sampai mereka tau, bukan tidak mungkin mereka akan melaporkan elu ke kantor polisi. Ini sudah termasuk tindak pidana, mereka bisa melaporkan elu dengan tuduhan melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Kalo kata gue stop sampe di sini aja deh... lagian apa sih yang lu dapat dari perbuatan lu ini? Kalau memang tujuan lu melakukan ini semua buat nolongin adik lu, kenapa lu nggak memilih mengajak Hans ngomong baik-baik aja?" tutur Sarah mencoba mengingatkan Vera.
"Hadeehh... lu ini lupa atau pura-pura lupa sih? Lu inget nggak? Saat pertama kali peristiwa itu terjadi dan Alex melapor ke polisi lalu membuat Feli di penjara... gue udah memohon-mohon kayak pengemis agar adik gue dilepasin dan jangan sampai di proses secara hukum. Tapi apa jawaban Hans? Dia bilang semua itu resiko atas perbuatan Feli. Dan pelaporan itu harus dilakukannya karena perbuatan Feli telah membuat mereka kehilangan calon bayi mereka. Padahal lu juga tau kan, jika Feli melakukan itu bukan karena sengaja? Hans bahkan tidak mau denger alasan Feli, kenapa Feli sampai bisa melakukan hal itu..."
"Ya... mungkin saja waktu itu karena Hans masih diliputi rasa sedih dan emosi, secara karena kejadian itu membuat Hans dan Dira batal memiliki momongan lagi waktu itu... Tapi kalo sekarang bisa jadi pandangan Hans terhadap kejadian waktu itu sudah berbeda. Sebab saat ini Dira kan sudah mengandung lagi..."
"Terlambat Sarah... hati gue udah terlanjur sakit. Lu nggak pernah tau sih keadaan Feli saat ini seperti apa. Lu tau...? Sebagai tahanan titipan dari Polsek, dia setiap hari di bully habis-habisan sama sesama tahanan yang lebih dulu berada di sana. Feli yang dulu berpenampilan cantik dan sexy, sekarang dia terlihat kurus dan tidak terurus. Aku jadi tidak tega melihatnya... hiks hiks hiks..."
Sarah mendekati Vera lalu memeluk sahabatnya itu.
"Yang sabar ya... tapi menurut gue tetap lebih baik kita coba bicara baik-baik saja dengan Hans... gue akan temenin dan bantuin lu ngomong kalo lu mau..."
"Nggak perlu karena gue mau dan nggak butuh bantuan siapa pun..." Vera melepaskan diri dari pelukan Sarah, kemudian meninggalkan kamar itu.
Vera menuju dapur untuk memastikan hidangan buat makan malam bersama, yang sekiranya akan di gelar nanti malam. Setelah semuanya di nilai sudah beres, Vera tampak menghampiri seorang pelayan yang berwajah Indonesia. Setelah berbisik, Vera pun tampak memberikan sesuatu kepada pelayan tersebut kemudian berjalan meninggalkan dapur.
Begitu Vera pergi, tampak seorang laki-laki tegap yang sejak tadi mengikuti Vera... menghampiri pelayan yang tag name nya bertuliskan Sari.
"Sari, bisa bicara sebentar?"
"Eh tuan siapa?"
"Kamu tidak perlu tau siapa aku, tapi yang pasti ada yang ingin aku bicarakan denganmu..."
Bram, demikian nama laki-laki itu... dia adalah salah satu anak buah Alex yang mengawal Hans selama dinas di Singapura. Bram saat ini memang ditugaskan mengikuti Vera, setelah Hans tau si peneror itu adalah Vera.
Rupanya dendam Vera kepada Hans dan Jessica begitu mendalam, hingga dia menyuruh Sari membubuhkan sesuatu yang tidak diketahui itu apa. Tapi setelah di periksa oleh Bram, ternyata adalah bubuk racun. Mengetahui hal itu, Sari jadi ketakutan... dia tidak menyangka jika Vera akan menjadikan Sari tumbal atas perbuatannya.
__ADS_1
"Astaghfirullah... demi Allah saya tidak tahu bubuk ini bubuk racun. Bu Vera cuma bilang jika ini adalah obat diabetes untuk kedua sahabatnya itu..." ucap Sari sambil menggigil ketakutan.
"Aku tau... sekarang sebaiknya kamu pulang ke mess mu dan kemasi barang-barangmu. Ini kartu nama dan uang sakumu untuk pulang ke Indonesia. Tiket pesawatnya sudah diurus oleh anak buahku, kamu berangkat pakai penerbangan terakhir. Nanti setelah sampai di Indonesia, akan ada yang menjemputmu untuk kemudian mengantarmu pulang ke rumahmu. Nanti kalo situasinya sudah aman, aku akan kabari kamu dan kamu bisa meminta pekerjaan lewat nama yang tertera di kartu itu..."
"Iya tuan... terimakasih..."
🌹🌹🌹
Makan malam telah tiba...
Vera tampak gelisah, berkali-kali dia menoleh ke arah dapur mencari keberadaan Sari, tapi dia tidak muncul-muncul.
"Orangnya sudah pulang ke Indonesia beberapa menit yang lalu..." ucap Hans santai sambil duduk dihadapan Vera, membuat Vera menjadi terkejut dan gugup.
"Apa maksud lu Hans? Gue kok nggak ngerti..." Hans tersenyum penuh arti.
"Kamu mencari Sari kan? Seorang pelayan yang dulu pernah kamu selamatkan nyawanya ketika dia hampir menjadi gelandangan gara-gara tasnya kecopetan di sini? Seorang pelayan yang kamu suruh untuk meracun aku dan Jessica? Why Vera?"
"Iya...apa salah kami padamu?" tanya Jessica yang tiba-tiba muncul di ruang VVIP tersebut.
Vera pun kini terduduk lemas si kursi, setelah tenaganya habis untuk meluapkan emosinya.
"Aku tau perasaanmu sebagai seorang kakak... tapi perbuatan adikmu sangat keterlaluan..."
"Gue tau..." gumam Vera lirih sambil tertunduk.
"Sebenarnya sudah sejak lama Dira memintaku untuk melepaskan Feli, setelah istriku itu diam-diam menjenguk Feli di penjara. Dia tidak tega melihat keadaan Feli katanya... terlebih waktu itu dia sudah dinyatakan positif hamil lagi oleh dokter..." Hans tersenyum kecil membayangkan wajah istrinya... "Tapi aku masih tidak terima mengingat Feli telah merenggut nyawa calon bayiku dan juga hampir merenggut nyawa istriku."
"Maafin adik gue..." Vera masih belum berani mengangkat wajahnya di depan Hans, dia sebenarnya juga sadar dengan apa yang telah dilakukan oleh adiknya, tapi rasa cintanya kepada Feli yang kini menjadi satu-satunya keluarga yang dia punya, membuat Vera gelap mata.
"Kami sudah memaafkan Feli sejak dulu Ver, namun hukum harus tetap berlaku."
__ADS_1
"Gue tau...tapi..."
"Tapi kamu nggak usah khawatir, aku sudah minta tolong ke Alex.. besok pagi Alex dan istriku akan datang ke kantor polisi untuk mencabut tuntutan atas Feli. Jadi besok Feli sudah bisa bebas..." Mendengar apa yang dikatakan Hans, Vera langsung mengangkat kepalanya... menatap Hans dengan wajah tak percaya.
"Apa Hans? Lu...lu meminta istri lu untuk membebaskan Feli adik gue?" Hans mengangguk. "Lu nggak bercanda kan?"
"Apa mukaku terlihat seperti sedang bercanda?" Vera pun langsung berdiri dan menghampiri Hans yang sedang berdiri di dekat jendela resto. Tanpa ba bi bu...Vera pun langsung memeluk Hans dengan erat.
"Terimakasih Hans... terimakasih... hiks hiks hiks..." ucapnya berkali-kali. Hans yang tidak menyangka Vera akan melakukan hal itu pun, terkejut bahkan tubuhnya sedikit terhuyung ketika Vera menghambur ke pelukannya.
"I...iya sama-sama Ver, tapi bisa nggak kamu lepasin pelukanmu. Aku nggak bisa napas ni..."
"Akh maaf... maaf... gue jadi lupa diri deh saking bahagianya...he he he..."
"Udah pelukannya? Boleh makan sekarang? Kuta berdua udah laper ni..." protes Jessica.
"Ketus amat...lu nggak sedang cemburu kan Jess?" goda Sarah.
"Br*******k lu... ya enggak lah, gue udah bersuami kali... Eh ngomong-ngomong, ini minumannya nggak ada racunnya kan? Ha ha ha..." Tawa Jessica pun kemudian diikuti oleh tawa sahabat-sahabatnya yang lain.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...