Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Perlakukan Dia Seperti Yang Seharusnya


__ADS_3

Tak pernah ada yang tau seperti apa yang dilakukan oleh Hans dan Dira,melewati malam pertama setelah mereka resmi menjadi pasangan suami istri.


Pagi itu semua keluarga tengah berkumpul,karna memang pagi ini keluarga Hans dan Dira hendak melakukan perjalanan jauh bersama. Sesuai dengan nadzar dari Tuan Sasongko,rombongan akan menjalankan ibadah umroh bersama dan di lanjut dengan liburan keluarga. Mengingat Dira yang tengah mempersiapkan wisudanya maka Hans dan Dira tidak bisa ikut.


"Duh...udah cantik aja pengantin baru ini..." goda Amirah.


"Selamat pagi nek...selamat pagi semua..." Dira mencium pipi Amirah nenek Hans sambil senyum tersipu malu dengan candaan neneknya.


"Selamat pagi sayang...Hans mana?"


"Sedang mempersiapkan berkas kantornya,sebentar lagi juga turun..."


"Memangnya Hans tidak ambil cuti sehabis nikah?" Sasongko menimpali jawaban Dira.


"Cuti kek...berkas itu mau di ambil sama Kak Alex sebentar lagi. Lagian kami kan juga ingin mengantar kakek dan nenek ke bandara..." jawab Dira berbohong. Dia tidak mau mengatakan bahwa pada kenyataannya Hans memang tidak mengambil cuti,dia bahkan baru saja mendapat proyek baru yang kedepannya pasti akan banyak menyita waktunya.


"Bagus" Sasongko tersenyum mendengar penjelasan Dira.


Sekitar 30 menit kemudian rombongan kedua keluarga itu berangkat menuju bandara. Dengan mengendarai mobil Pajero Sport miliknya Hans dan Dira mengantar keluarganya...Sasongko,Amirah,Anita dan Hanna. Sementara keluarga Dira...Pras,Sonya dan Angel pergi di antar oleh Damar dengan mengendarai mobil Honda Jazz terbaru milik Damar.


Sampai di bandara mereka pun langsung mengantar kedua keluarga mereka sampai ke pintu keberangkatan. Hans tampak menggandeng erat tangan Dira seolah tak takut Dira akan pergi dari sisinya. Sekilas Damar sempat melirik Dira yang tampak semakin cantik setelah menikah dengan Hans,dan tanpa sengaja Hans pun melihat kelakuan Damar tersebut. Dan dengan segera Hans meraih tubuh Dira hingga tubuh mungil Dira benar-benar menempel pada tubuhnya. Dira terkejut dengan perubahan sikap Hans tapi setelah melihat Damar yang sedang memperhatikan dirinya maka Dira membiarkan sikap Hans padanya itu. Dira malah kemudian melingkarkan tangannya ke tubuh Hans.


"Duh pengantin baru ini...sepertinya mereka sudah nggak sabar melihat kita pergi,biar mereka bisa cepat pulang dan bermesraan di rumah. Liat aja,dihadapan kita sudah nggak malu lagi mesra-mesraan..." omel Amirah.


"Iih...nggak gitu juga kali nek...tapi emang saat ini Hans nggak bisa jauh-jauh dari Dira. Jadi gimana dong..."


🌹🌹🌹


Selesai mengantar keluarganya Hans mengantar Dira ke kampusnya.


"Sampai disini saja..." pinta Dira pada siaminya.


"Kenapa?" Hans bertanya dengan nada yang seolah tidak terima.


Dira mendengus membuang nafas kasarnya.


"Apa mas sudah lupa dengan perjanjian kita? Bahwa pernikahan ini tidak boleh di ketahui oleh publik terlebih dahulu..."

__ADS_1


Kini gantian Hans yang mendengus membuang nafas kasar...ingin sekali membantah tspi memang begitulah perjanjian yang telah mereka sepakati,bahkan telah mereka tanda tangani di atas kertas bermaterai.


"Hmm oke...sekarang keluarlah..." ucap Hans dengan nada kesal.


"Terimakasih sudah mau mengantar...hati-hati di jalan ya"


"Hmm..."


Dira keluar dari mobil Hans yang terparkir di pinggir jalan,masih berjarak agak jauh dari kampus Dira. Dan tanpa menoleh lagi ke belakang,Dira pun melangkah menjauh meninggalkan suaminya yang masih terbengong-bengong melihat kepergian istrinya yang dingin itu. Sepanjang langkahnya menuju kampus Dira sesekali melayani senyuman dan anggukan kepada orang-orang yang menyapanya. Sementara Hans masih tetap di posisinya,mengawasi istrinya dari jarak jauh dengan perasaan kesal dan cemburu.


'Huuh...dengan orang lain aja bisa bermanis-manis dan tersenyum hangat...sementara dengan suami sendiri sikapnya begitu dingin...' gerutu Hans yang mulai menyalakan mesin mobilnya. Tapi baru saja dia hendak melajukan mobilnya,tiba-tiba netranya menangkap sesosok bayangan laki-laki mendekat pada Dira. Dan diluar dugaannya dia melihat Dira yang sekarang sudah menjadi istrinya menyambut laki-laki itu dengan wajah begitu ceria. Hans pun kembali memarkirkan mobilnya untuk terus memantau sikap Dira terhadap laki-laki lain.


'Eh tunggu,cowok itu bukannya yang beberapa minggu yang lalu ketemu di rumah Dira ya... Namanya kalo nggak salah Adit...ya Adit...cowok itu Adit...' Hans tak henti-hentinya menyebut nama Adit dalam gumamannya. 'Ada apa Dira sama Adit? Apakah diam-diam Dira punya hubungan dengan Adit?' tanya Hans dalam hati.


"Dira,lu kemana aja kok beberapa hari ini ngilang begitu aja,bagai di telan bumi..."


"Ih kepo..." ucap Dira sambil melenggang masuk ke halaman kampus.


"Eeh di tanya baik-baik malah main ngeloyor aja...gue tanya beneran nih. Gue tanya ke Sila dia bilang nggak tau...kalian nggak sedang marahan kan?"


Adit memegang tangan Dira untuk menahannya agar berhenti. Dira yang terkejut karna tangannya di pegang oleh Adit pun reflek menepisnya dengan kasar.


"Idih kasar amat sih lu? Takut ketahuan Damar ya? Bukannya kalian udah putus?"


"Eh sori...sori...habis elu ngaget-ngagetin sih...kalo lu mau tanya ya tanya aja nggak usah pake pegang-pegang tangan segala...Lagian gue sama Damar itu sudah tutup buku,jadi jangan pernah hubung-hubungin lagi gue dengan dia" tegas Dira. "Kemarin itu gue ada kepentingan keluarga jadi gue nggak bisa ke kampus dan ketemu Kak Anton untuk membahas skripsi gue...O iya elu sendiri gimana? Sampai dimana skripsi lu?"


"Gue mah udah beres,tinggal nunggu sidang minggu depan terus wisuda deh..."


"Wah keren,kalo gitu gue ketemu Kak Anton dulu deh,moga-moga kita bisa wisuda bareng..."


"Sana gih,gue liat tadi Sila udah ada diruangan Kak Anton juga...Semoga kita bertiga bisa wisuda barengan ya..."


"Aamiin..."


"Udah sana ke ruangan Kak Anton,gue mau makan dulu di kantin...laper..." Adit mengelus-elus perutnya yang rata.


"Tar lo dah selesai nyusul ke kantin sama Sila sekalian ya..."

__ADS_1


"Oke..."


Akhirnya mereka pun berpisah untuk pergi ke tujuan masing-masing,Hans yang sedari tadi memperhatikan mereka pun pergi meninggalkan kampus istrinya dengan lega.


🌹🌹🌹


"Dira,sori ya...gue nggak bisa anter lu pulang,soalnya gue ada janji ma Doni. Ada yang harus kami bahas soal hubungan kami. Gue belum bisa cerita sekarang tapi gue pastiin,gue akan cerita semuanya sama elu..." Sila merasa bersalah tidak bisa mengantar Dira pulang ke rumah utama keluarga Hans.


"Gue telponin Kak Hans aja ya?"


"Nggak usah,gue nggak mau ngrepotin dia"


"Dia?" Sila terbelalak mendengar jawaban Dira "Dia yang elu sebut itu suami lu Dira,tak bisakah lu lembutkan hati lu...setidaknya untuk menerima kenyataan dan keadaan lu sekarang? Gue kecewa dengan sikap keras kepala lu ini"


"Oke...oke...gue nggak mau ngrepotin Mas Hans karna suami gue tercinta itu sedang menangani proyek baru...Puas?"


"Hmm...terserah apa yang ingin lu lakuin,gue hanya berharap lu bisa berdamai dengan takdir lu saat ini...gue pergi dulu..."


Sila hendak melangkahkan kakinya,tapi Dira segera meraih tangan Sila untuk menahannya pergi. Ditariknya tangan Sila lalu dipeluknya sahabatnya itu.


"Jangan marah sama gue Sil...gue...gue butuh waktu untuk bisa menerima semua kekacauan dalam hidup gue ini...Gue butuh elu buat ngedukung gue dan nemenin gue melewati ini semua...hiks hiks hiks..."


"Gue tau...dan tanpa lu minta gue pun akan selalu ada buat lu. Gue sayang ama lu Dira...pulang dan renungkan semuanya,gue bisa jamin...menikah dengan Kak Hans bukan kiamat bagimu,Kak Hans laki-laki yang baik walaupun Kak Hans pernah membuat kesalahan padamu. Perlakukan dia seperti yang seharusnya..."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut...


__ADS_2